Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 101. Kunci Kerajaan


__ADS_3

Valexa dan Deondria menghapus air mata ular besar itu itu dengan ujung jari mungil nya.


“Danan cedih ya... ( jangan sedih ya...).” ucap mereka berdua sambil terus menghapus air mata ular besar itu. Dan selanjutnya kedua anak itu memeluk lagi tubuh ular besar itu yang masih melingkar di bawah kursi Singgasana Valexa dan Deondria. Richardo pun tampak jongkok di belakang kedua anak itu.


Beberapa menit kemudian, Vadeo dan Alexandria tiba. Alexandria tampak kaget melihat anak anak nya yang memeluk ular besar. Wajah Alexandria pun tampak memucat.


“Pa.. anak anak selalu seperti itu kah jika di sini?” tanya Alexandria dengan pelan dan suara bergetar. Dia tidak menoleh memandang wajah Sang suami akan tetapi terus menatap kedua anaknya yang masih duduk di tanah sambil memeluk ular besar itu..


Dan sesaat kemudian Bang Bule Vincent dan Ixora pun telah tiba. Sama seperti Alexandria. Bang Bule Vincent dan Ixora Tampak sangat kaget. Mata Bang Bule Vincent pun melotot dan mulut sedikit ternganga karena begitu kaget sekali kagum karena apa yang diceritakan di dalam manuskrip itu benar benar nyata. Ada ular besar di bawah pohon asam. Bang Bule Vincent pun lalu teringat penutup di manuskrip itu.


“Hei jongkok kita semua.” Ucap Bang Bule Vincent yang langsung jongkok dan menarik tangan isterinya agar juga turut duduk jongkok.


“Bro kamu dan Alexa jongkok, siapa tahu benar cerita rakyat yang tersebar. Dia jelmaan Raja dan permaisuri.” Ucap Bang Bule Vincent pelan namun didengar oleh Vadeo dan Alexandria.


“Ayo Sayang kita dekati mereka . Tenang saja semua baik baik kita biasa datang di sini..” ucap Vadeo sambil merangkul bahu istrinya diajak untuk berjalan mendekat ke tempat kursi Singgasana anak anak nya.


“Kalian berdua jongkok di situ atau jalan dengan jongkok.” Ucap Vadeo sambil menoleh menatap pada Bang Bule Vincent dan Ixora yang masih duduk jongkok dengan santun. Lutut mereka menyentuh tanah.


Vadeo dan Alexandria melangkah dengan pelan pelan dan selanjutnya mereka pun duduk di tanah di dekat kedua anaknya yang masih memeluk ular besar itu.


Dan tiba tiba ular besar itu mengangkat kepala nya dan menjilat jilat puncak kepala Valexa dan Deondria. Melihat hal itu Alexandria pun langsung lemas dan tersandar di tubuh Vadeo. Demikian juga Ixora dan Bang Bule Vincent keduanya slaing berpelukan dan terjatuh di tanah karena tabuhnya terasa lemas tak berdaya.


Dan sesaat kemudian ular besar itu menggeserkan tubuh nya dan meninggalkan mereka.

__ADS_1


“Mama danan tatut.. diya mau ambik cecuatu buwat tita.. (Mama jangan takut .. dia mau ambil sesuatu buat kita).” Ucap Valexa sambil memeluk tubuh Sang Mama.


“Iya danan tatut Ma.. (Iya jangan takut Ma..).” ucao Deondria pula sambil mengusap usap paha Sang Mama. Vadeo pun membelai helai pipi Alexandria yang masih bersandar dalam pelukannya.


“Kamu urus mereka berdua.” Ucap Vadeo pada Richardo setelah menoleh melihat Bang Bule Vincent dan Ixora yang masih terjatuh di tanah.


Beberapa menit kemudian ular besar itu kembali datang. Alexandria sudah bisa duduk sendiri tidak lagi bersandar pada Sang Suami. Sedangkan Valexa dan Deondria sudah duduk manis di singgasana nya. Sementara Ixora dan Bang Bule Vincent masih tertidur di tanah yang kini dialasi daun pisang oleh Richardo.


Sama seperti biasanya ular besar itu tubuh nya menggembung dan selanjutnya mengeluarkan buah buahan utuh besar besar dan matang matang dari mulutnya. Dan setelah buah buah sudah tidak ada di dalam tubuh nya. Umar besar itu masih membuka mulutnya dan tiba tiba....


KLUNTING


Suara benda logam jatuh. Vadeo, Alexandria dan Richardo tampak kaget saat melihat benda yang keluar dari mulut ular besar besar itu. Sebuah kunci besar berkilau kilau berwarna kuning emas. Tampaknya nya memang logam mulia.


“Eh buwat tita.. Pa.. ambik Pa.. itu tunci teyajaan yan dibiyan di manucip. (Eh buat kita Pa... ambil Pa itu kunci kerajaan yang dibilang di manuskrip).” Ucap Valexa meralat ucapannya.


Vadeo tampak bengong menatap kedua anaknya. Lalu dia menatap ular besar itu. Dan ular besar itu mengangguk angguk. Vadeo lalu pelan pelan mendekati kunci itu, dengan tangan gemetar dia mengambil kunci itu. Saat dipegang terasa berat.


“Pa tita duda diajak yiat bawah.. tapi na dayan na cucah.. (Pa kita juga diajak lihat bawah.. tapi nya jalan nya susah).” Ucao Deondria dengan nada serius.


“Apa ada bangunan di bawah bukit ini?” tanya Vadeo sambil menatap Deondria lalu menatap Valexa. Kedua anak itu menganggukkan kepala nya.


Vadeo tampak masih terkaget kaget begitu juga dengan Alexandria dan Richardo.

__ADS_1


“Berarti harta karun itu berada di bawah bukit ini. Di sini merupakan ring satu.” Gumam Vadeo dalam hati. Vadeo lalu menoleh menatap Bang Bule Vincent dan Ixora yang masih pingsan.


Belum juga Vadeo selesai kaget nya tiba tiba hand phone di dalam saku kemeja nya berdering. Tampak Vadeo menatap Sang ular besar dan mengangguk dengan sopan, meminta izin untuk menerima panggilan hand phone nya.


Dengan pelan pelan dan tangan masih gemetar Vadeo mengambil hand phone nya. Dengan segera dia lihat layar hand phone dan tampak nama kontak pilot jet pribadi sedang melakukan panggilan suara. Dengan segera dia menggeser tombol hijau.


“Ada apa? Apa ada alarm bahaya?” tanya Vadeo. Alexandria yang mendengar segera mengambil hand phone yang ada di dalam tas nya.


Sedangkan Richardo langsung berdiri menuju ke tempat Bang Bule Vincent dan Ixora yang masih tertidur tidak sadarkan diri. Richardo menepuk nepuk kedua pipi Bang Bule Vincent agar segera tersadar akan tetapi berkali kali ditepuk tepuk belum juga tersadar Richardo tidak berani melakukan hal itu pada Ixora sebab repot dan berat urusannya di belakang hari.


Sesaat mata Richardo melihat ada buah asam yang besar dan matang tampak kulitnya sudah pecah merekah. Richardo pun segera mengambil buah buah asam itu dan mengambil daging buahnya yang sudah berwarna coklat lembek. Richardo pun mengoles oles buah asam itu pada bibir Bang Bule Vincent hingga masuk ke dalam mulut nya.


Dan tiba tiba, mata Bang Bule Vincent terbuka lalu matanya mengerjap ngerjap.


“Apa ini?.” Tanya Bang Bule Vincent yang langsung bangkit dari tidurnya dan meludah ke tanah.


“Bang bahaya.” ucap Richardo dengan nada serius. Bang Bule Vincent pun tampak kaget.


“Isteriku. “ teriak Bang Bule Vincent sambil menoleh menatap Ixora yang masih tertidur.


Sedangkan Vadeo tampak masih serius berbicara dengan sang pilot lewat panggilan suara.


.....

__ADS_1


__ADS_2