Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 180.


__ADS_3

Vadeo tampak menarik satu koper besar sambil melangkah merangkul pinggang Alexandria yang masih ramping itu.


“Anak anak masih tidur bagaimana kalau kita langsung melakukan bersesi sesi.” Ucap Vadeo sambil tersenyum menoleh menatap Alexandria yang berjalan di sampingnya. Tangan kanannya terus menarik koper besar itu dan tangan kirinya masih merangkul pinggang Alexandria bahkan jari jarinya mengusap usap pinggang Alexandria dengan lembut. Alexandria pun hanya tertawa kecil.


Sementara itu di lain tempat mobil yang membawa Nyonya Jonathan dan Nyonya William terus berjalan.


Sesaat Pak Sopir dan dua pengawal yang berada di dalam mobil itu membelalakkan matanya saat mobil kembali masuk pada jalan yang sama dengan yang tadi dia lewati.


“Pak bukannya tadi kita sudah lewat jalan ini.” Ucap Sang pengawal yang duduk di samping kemudi sambil memangku anjing pelacak permata.


“Benar kita hanya muter buang buang bensin dan waktu saja.” Gumam Pak sopir tampak ekspresi wajahnya mulai panik.


“Kalau bensin habis di jalan mampus kita. Tidak ada pom bensin lagi. Tempat pengisian bahan bakar hanya di pantai dan di lokasi waktu akan masuk ke daerah pemukiman karyawan Tuan Vadeo tadi.” Ucap Pak Sopir sambil terus melajukan mobilnya kini mobil sudah mendekati lagi pada suatu jalan bercabang.


“Tadi kita lewat yang ke kanan berarti kita sekarang lewat yang arah kiri.” Gumam Pak sopir lagi.


“Hmmm Nyonya William masih tidur, padahal itu jalan yang lebih lurus yang ke kanan yang ke kiri lebih menikung. Dia tadi Cuma bilang lurus lurus saja.” Gumam Pak sopir tidak dengan suara keras sambil terus melajukan mobilnya.


“Apa aku tidak tidur aku bilang terus saja.” Ucap Nyonya William yang tiba tiba terbangun mendengar namanya disebut.


“Iya benar lewat jalan ini aku lihat waktu itu ada pohon pohon besar besar ini di sepanjang pinggir jalan.” Ucap Nyonya William sambil menoleh menatap ke samping ke luar mobil.

__ADS_1


“Bukannya sejak tadi juga di pinggir jalan ada pohon pohon besar Nyonya? Di pulau ini tidak ada mall di pinggir jalan...” ucap Pak Sopir sambil terus melajukan mobilnya dan berharap tidak kehabisan bahan bakar.


“Hah terserah pokoknya terus jalan dan berhenti di batu besar.” Ucap Nyonya William lagi lalu dia pun melanjutkan tidurnya lagi sebab besan perempuannya juga pulas tertidur agar nanti segar dan kuat saat berjalan di bukit pohon asam.


Beberapa menit mobil melaju, tampak di depan ada cabang jalan lagi. Pak Sopir pun lalu mengurangi kecepatannya dan dia mengambil hand phone dari saku kemejanya. Dia tidak ingin mengulangi hal yang sama hanya putar putar dan kembali lagi pada jalan yang sudah dilalui. Bertanya pada Nyonya William pun percuma pasti jawabannya akan sama, lurus ke depan.


Dengan kecepatan mobil yang pelan pelan Pak Sopir itu menghubungi rekan sopir yang sudah biasa mengantar Vadeo ke bukit pohon asam yang tidak lain adalah Pak Sopir yang pernah pingsan.


“Kamu berhenti dulu nanti aku jelaskan. Tuan Vadeo melarang kita untuk posting lokasi itu di aplikasi map yang umum itu. Ada aplikasi khusus buatan Nyonya Alexa tetapi aku tidak punya.” Suara keras seorang laki laki di balik hand phone milik pak sopir itu. Pak Sopir pun pelan pelan menepikan mobilnya dan selanjutnya mobil berhenti di tepi jalan sebelum jalan yang bercabang.


Merasa mobil yang dinaiki berhenti, Nyonya Jonathan dan Nyonya William membuka matanya. Saat melihat tidak ada batu besar berada di depan mobil tampak Nyonya William menepuk nepuk pundak pak sopir yang sedang memegang hand phone.


“Iya Nyonya.” Ucap Pak Sopir sambil menganggukkan kepalanya dengan kuping masih mendengarkan suara rekan sopirnya yang sedang berbicara.


“Kamu ganti pakai video call dan coba keluar dari mobil biar aku paham kamu sampai di mana.” Suara rekan sopir nya di balik hand phone milik pak sopir itu. Pak Sopir pun lalu membuka pintu mobil dan menutup panggilan suaranya untuk beralih pada panggilan video.


“Hmmm orang kok tidak percaya dengan omonganku dibilang jalan saja terus.” Ucap Nyonya William sambil bersungut sungut.


Tidak lama kemudian Pak Sopir sudah kembali masuk ke dalam mobil, lalu menyalakan lagi mesin mobilnya dan menjalankan mobil menuju ke jalan yang tampak lurus ke depan bukan yang ke arah yang sedikit menyerong ke kanan. Mobil terus melaju dan jalanan pun semakin menanjak.


“Hmmm bener kan yang aku bilang lurus jalan terus lurus, nanjak dan berhenti saat ada batu besar.” Ucap Nyonya William dengan penuh percaya diri. Dan kini dua Nyonya itu sudah tidak lagi tidur.

__ADS_1


“Iya Nyonya maaf, biar pasti saja.” Ucap Pak Sopir sambil tersenyum masam. Sang pengawal yang duduk di sampingnya hanya senyum di kulum.


Mobil terus melaju dan beberapa menit kemudian mobil sudah mendekati lokasi di mana ada batu besar. Pandangan pak sopir sudah bisa melihat ada sebuah batu besar, dan jalan yang beraspal pun sudah habis di batas tempat batu besar itu.


“Noh... itu yang aku bilang batu besar. Dan kamu hentikan mobil di situ, karena sudah tidak ada lagi jalan. Gampang kan jalannya pokoknya lurus, nanjak dan berhenti di batu besar.” Ucap Nyonya William lagi dengan mantap dan bibir yang tersenyum lebar. Nyonya Jonathan pun tidak kalah senangnya bibirnya juga melengkung membentuk sebuah senyuman.


Tidak lama kemudian mobil berhenti. Perut mereka semua pun sudah merasa lapar minta diisi apalagi sang anjing pelacak permata yang sudah terus merintih suaranya minta makan.


“Kita makan saja dulu ya. Itu anjing juga kelaparan sepertinya.” Ucap Nyonya Jonathan sambil membuka pintu mobil.


Mereka pun lalu beristirahat makan siang di tempat parkir mobil itu. Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai. Sang anjing pun tampak sudah tidak lagi merintih minta makan.


“Pak Sopir tinggu di sini jangan pergi ke mana mana!” perintah Nyonya Jonathan dan Nyonya William secara bersamaan.


“Iya Nyonya, saya mau tidur saja dan berdoa tidak kehabisan bahan bakar di saat nanti pulang.” Gumam Pak sopir lalu masuk kembali ke dalam mobilnya karena dia mau tidur.


Tampak Nyonya William berjalan dengan penuh semangat di barisan paling depan. Karena dia merasa yang paling mengerti akan lokasi bukit pohon asam itu.


“Berarti mulai dari sini anjing ini sudah disuruh kerja ya.” Ucap Nyonya Jonathan yang berjalan di belakang Nyonya William.


“Iya, aku yakin seyakin yakin nya kalau Vadeo menemukan cincin permata itu di bukit ini.” Ucap Nyonya William dengan nada serius sambil terus berjalan.

__ADS_1


__ADS_2