
“Oma turun bersama sama kalian saja, kan jalan nya turun jadi lebih cepat dari pada tadi saat naik.” Ucap Nyonya William karena masih penasaran bagaimana buah buah lezat itu bisa ada di tangan mereka.
“Tadi Oma lama kan karena banyak berhenti untuk tanya tanya pada Papa kalau nanti kan tidak tanya tanya lagi.” Ucap Nyonya William lagi memberi keyakinan pada kedua cucu nya kalau dia bisa berjalan cepat nanti.
“Ih.. tapi Oma pasti macih duda yama dalan na.. (ih .. tapi Oma pasti masih juga lama jalan nya).” Ucap Valexa dengan bibir mengerucut ke depan
“Iya Oma dayan duyu, tita nundu buwah datan duyu.. ( Iya Oma jalan dulu, kita nunggu buah datang dulu).” Sambung Deondria.
“Ga apa apa Oma juga nunggu, nanti kalau lama Oma jalan nya minta gendong Papa he.. he... “ ucap Nyonya William yang masih nekat ingin tetap ikut menunggu buah datang, Nyonya William tertawa kecil sambil menatap Vadeo yang tampak mengernyitkan dahi nya.
“Endak boyeh! minta dendong cuami mu cana .. ( Enggak boleh! Minta gendong suami mu sana).” Teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan dan langsung bangkit berdiri.
Valexa dan Deondria lalu memandang ke langit atas dan dengan tatapan tajam, tiba tiba langit tampak gelap awan gelap tiba tiba ber arak arakan dan mengumpul menutupi langit yang tadi biru cerah.
“Hah? Mendung gelap mau hujan ayo pulang!” teriak Nyonya William dan langsung bangkit berdiri. Vadeo dan Richardo pun secara spontan melihat ke atas pada langit yang mulai gelap.
“Papa antal Oma.. (Papa antar Oma..).” teriak Valexa dan Deondria sambil menatap Sang Papa yang pandangan matanya masih ke arah langit atas melihat awan gelap yang berarak arakan datang.
“Ayo Deo cepat nanti kalau hujan jalan keburu licin belum lagi baju basah bisa bisa aku masuk angin, tidak bisa ikut lewat besok.” Ucap Nyonya William yang sudah mulai melangkah meninggalkan lokasi pohon buah asam.
Vadeo pun juga dengan cepat melangkah mengikuti langkah kaki sang Mama Mertua yang sudah tampak lari terbirit birit.
“Do kamu jaga mereka kalau hujan kamu gendong mereka berdua.” Teriak Vadeo tanpa menoleh ke arah Richardo, dan Vadeo terus mengikuti sang Mama Mertua.
Sementara itu Valexa dan Deondria sudah kembali duduk di kursi Singgasana nya dengan tenang. Tampak kaki kaki mungil yang sedikit menggantung itu pun bergerak gerak pertanda mereka hati nya riang dan bibir kedua bocah itu pun tampak tersenyum.
__ADS_1
“Nona mari pulang mau hujan. Pasti tidak bawa buah tidak apa apa Mama tidak marah yang penting tidak kehujanan.” Ucap Richardo sambil menatap kedua Nona kecil nya.
“Tundu cebental.. (Tunggu sebentar ).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan.
Tidak lama kemudian ular besar itu pun muncul lagi di dekat mereka. Tampak tubuh nya menggembung ada bentuk bulat bulat buah duren besar dan alpokat besar besar. Ular itu pun lalu mengeluarkan buah buah itu dari mulutnya dan tampak kini buah durian dan alpokat sudah berada di atas tanah.
Richardo tampak bangkit berdiri dan melangkah untuk mencari pelepah pisang yang akan dibuat keranjang guna membawa buah buah itu.
Akan tetapi sesaat, Richardo sudah melangkah pergi, ular besar itu mengeluarkan lagi sesuatu dari mulut nya dan terdengar suara..
KLOTAK
Satu buah kotak perhiasan kecil sudah tergeletak di tanah. Valexa dan Deondria tampak bangkit berdiri dan segera berebut untuk mengambil kotak perhiasan itu.
Kedua anak itu tampak secara bersama sama membuka kotak perhiasan yang berbahan logam berlapis emas dan bertahtakan batu permata berlian.
“Buwat Mama tan Papa .. (buat Mama dan Papa)?” Tanya Valexa dan Deondria sambil menatap ular besar itu, dan tampak ular besar itu menganggukan kepala nya.
“Hadiyah buwat Mama tan Papa (hadiah buat Mama dan Papa)?” tanya kedua bocah itu lagi dan tampak ular besar itu pun menggangukkan kepalanya lagi.
Sesaat Richardo sudah kembali dengan membawa pelepah pisang yang akan digunakan untuk membawa buah buah itu. Dia tampak kaget saat melihat Valexa dan Deondria berdiri sambil mengamati kotak perhiasan yang tampak merupakan benda jaman dahulu kala dilihat dari penampakan wujud bentuk dan model nya.
“Nona dari mana itu?” tanya Richardo tampak heran dan kaget. Richardo mengira kedua bocah itu menemukan di sekitar pohon asam.
“Dayi dia... ( dari dia...).” Jawab Valexa dan Deondria sambil memandang ular besar itu yang masih tenang melingkarkan tubuhnya di depan kursi Singgasana Valexa dan Deondria.
__ADS_1
“Ini seperti barang jaman lama Nona. Bagaimana ular itu mendapatkan?” tanya Richardo sambil melihat benda yang masih di bawa oleh Valexa.
“Ada di bawah.” Jawab Valexa dan Deondria secara bersamaan.
“Ayo puyang. (Ayo pulang).” Teriak Valexa dan Deondria saat Richardo sudah selesai mengemas buah buah itu di dalam keranjang pelepah pohon pisang dan sudah siap bisa dibawa dengan mudah.
“Atu yan bawa hadiyah buwat Mama dan Papa.. ( Atu yang bawa hadiah buat Mama dan Papa..).” teriak Deondria sambil berusaha merebut kotak perhiasan yang di bawa oleh saudara lembar nya.
“Atu... (aku).” Teriak Valexa mempertahankan benda yang sudah dipegang nya itu. Tangan mungilnya semakin mempererat benda yang dipegang dan ditempelkan di dadanya.
“Sini Om bawa saja, Om taruh di saku agar tidak jatuh, ini barang sangat mahal, barang langka. “ ucap Richardo sambil menengadahkan tangan nya.
Valexa pun menurut pada perkataan Richardo, dan menyerahkan kotak perhiasan itu di telapak tangan Richardo.
“Ini hadiah ulang tahun pernikahan Mama dan Papa.” Ucap Richardo sambil menyimpan kotak perhiasan itu di saku celana cargonya, tidak lupa dia merapatkan kancing saku celana itu agar barang berharga itu aman dia bawa.
“Atu puyang duyu ya... daga di cini ya... (Aku pulang dulu ya... jaga di sini ya...).” ucap Valexa dan Deondria pada sang ular besar itu. Tampak ular besar itu menganggukkan kepalanya.
Valexa dan Deondria pun segera berlari meninggalkan lokasi pohon asam itu, dan terus berlari menuruni bukit. Richardo pun turut ikut berlari sambil membawa keranjang anyaman pelepah pisang yang berisi buah durian dan alpokat oleh oleh buat Sang Mama Alexandria.
“Nona.. tunggu jangan cepat cepat lari nya.” Teriak Richardo karena dia agak kesulitan berlari kencang karena tangannya membawa keranjang buah yang lumayan berat.
“Iya...” teriak mereka berdua dan tampak mereka berhenti menunggu Richardo sambil tersenyum lebar.
Namun tiba tiba Richardo tampak kaget saat melihat ke langit atas.
__ADS_1
...