
Vadeo pun berhenti mengusap usap rambut kepala Valexa dengan handuk kecil agar basah oleh keringatnya hilang lalu tangan kanannya mengambil hand phone miliknya yang berdering karena sudah diaktifkan tadi setelah pesawat sukses mendarat.
“Yang kita omongin nih.” Ucap Vadeo saat melihat di layar hand phone tertera namanya Alexa melakukan panggilan video. Tampak Bang Bule Vincent yang mengeringkan rambut Deondria menoleh ke arah Vadeo.
“Isteriku kok belum telepon aku ya.” Gumam Bang Bule Vincent sambil terus mengeringkan rambut Deondria.
“Pa coba lihat Aca dan Aya, aku sangat kangen dan ingin bicara.” Suara Alexa saat Vadeo sudah menggeser tombol hijau. Tampak wajah Alexa sedikit pucat meskipun bibir tersenyum bahagia.
“Mereka sedang tidur Sayang. Kamu lihat aku saja.” Ucap Vadeo sambil memasang senyum terjaminnya.
“Pa pesananku tidak tertinggal kan?” tanya Alexa selanjutnya tampak matanya kini berbinar binar.
“Tidak mungkin lupa dan tertinggal Sayang. Itu ada di bagasi mobil. Pokoknya barang pesanan kamu tidak akan jauh jauh dari aku. Sudah aku bungkus rapat rapat agar agamanya tidak membikin kamu mabok.” Ucap Vadeo dengan serius dan hati hati agar Alexandria tidak tersinggung. Karena Vadeo maklum orang hamil agak sensitif.
“Terima kasih ya Papa Sayang... maaf jika pesanan ku merepotkan kalian semua...” ucap Alexa sambil tersenyum senang.
“Baiklah Pa, aku tutup ya, aku kira Aca dan Aya tidak tidur.” Ucap Alexa selanjutnya dan sambungan telepon pun berakhir. Vadeo pun tampak tersenyum bahagia sudah bisa memenuhi pesanan isterinya tercinta.
Mobil terus berlalu menuju ke rumah Vadeo dan Alexandria. Dan mobil Eveline dan anak buah Bang Bule Vincent lainnya juga terus berjalan di belakang mobil yang membawa Bang Bule Vincent dan Vadeo.
Sementara itu di rumah Vadeo dan Alexandria, tepatnya di dapur. Suasana tampak heboh.
__ADS_1
“Bu, kalau sudah selesai menyiapkan makan siang. Tolong siapkan alat bakar bakar di teras belakang saja ya... biar kita santai santai nanti saat acara bakar bakar ikan lautnya.” Ucap Alexandria sambil menatap ibu pelayan yang masih sibuk menyiapkan masakan untuk makan siang.
“Baik Nyonya, ini juga akan segera selesai. Lumayan dibantu Nona Ixora he...he...” ucap Ibu pelayan sambil tertawa kecil dan menoleh ke arah Ixora.
“Aku sudah tidak sabar untuk menikmati ikan laut bakar saos madu... Hmmm rasanya nikmat sekali.. “ gumam Alexandria sambil menelan air liurnya.
“Kak ini saos madu sudah selesai, air jeruk nipis nya kapan dimasukkannya?” tanya Ixora sambil mengaduk aduk saos madu yang sudah selesai dibuat.
“Nanti saja Ix, tunggu sebentar.” Ucap Alexandria sambil turut membantu menyiapkan makan siang buat orang orang tercinta yang akan segera datang.
Waktu pun terus berlalu semua makanan sudah tersaji di meja makan. Sedang ibu pelayan masih sibuk di teras belakang untuk menyiapkan alat alat bakar. Alexandria dan Ixora sudah duduk di sofa di ruang keluarga.
“Kok mereka belum datang ya?” gumam Alexandria sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil masuk di halaman rumah Vadeo dan Alexandria. Alexandria langsung bangkit berdiri demikian pula dengan Ixora. Ixora pun sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Bang Bule Vincent suami tercintanya.
Dua perempuan cantik kakak beradik itu segera membuka pintu rumah dan berjalan cepat ke arah mobil yang masih berjalan. Tidak lama kemudian mobil pun berhenti di dekat mereka berdua berdiri. Alexandria dan Ixora tersenyum merekah menyambut kedatangan mereka yang ada di dalam mobil. Dan sesaat kemudian semua pintu mobil terbuka. Vadeo dan Bang Bule Vincent turun dari mobil masih menggendong Aca dan Aya yang masih tertidur. Sedangkan dua orang sopir setelah turun menuju ke bagasi mobil untuk menurunkan barang barang.
Alexandria dan Ixora masing masing mencium suaminya lalu mengambil Twins dan digendong nya sambil menciumi wajah Twins yang masih terlelap.
Sambil menggendong salah satu anaknya, Alexandria menoleh pada barang barang yang diturunkan dari bagasi. Mata Alexandria berbinar binar menatap satu kotak besar yang terbungkus rapat oleh plastik besar.
__ADS_1
“Pak, tolong itu segera dibawa ke dapur dan bantu ibu pelayan membersihkannya!” perintah Alexandria pada Pak Sopir, dan pak sopir pun menganggukkan kepala dan segera menjalankan perintah Sang Nyonya.
Tampak Vadeo dan Bang Bule Vincent memeluk pinggang masing masing istrinya dan mereka melangkah masuk ke dalam rumah.
Alexandria dan Ixora duduk di sofa sambil memangku Twins sedang Vadeo dan Bang Bule Vincent pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Sayang bangun... ini Mama dan Aunty.. maem yukkk.. adik adik kamu juga sudah lapar.” Ucap Alexandria sambil menciumi wajah Aca dan Aya. Mendengar kata adik adik, Valexa dan Deondria pun membukakan matanya.
Sedangkan di dalam dapur Pak Sopir sudah membuka kotak yang terbungkus oleh plastik tebal itu.
“Ibu pelayan kan bisa membersihkan sendiri. Tinggal dicuci saja beres.” Gumam Pak sopir saat melihat isi di dalam kotak besar itu. Pak Sopir pun berjalan keluar dari dapur untuk mencari ibu pelayan, sambil memanggil manggil nama ibu pelayan.
“Ya Pak, saya di sini di teras belakang.” Teriak ibu pelayan yang sedang menyiapkan alat bakar bakar. Pak Sopir pun segera berjalan menuju ke teras belakang.
“Wah Pak kebetulan. Tolong bersihkan ikan ikan itu ya. Terus sebagian langsung saja dibekukan. Agar awet.” Ucap Ibu pelayan saat melihat sosok pak sopir.
“Kan itu sudah awet Bu. Berbulan bulan juga awet. Ibu kalau mau membersihkan kan tinggal dicuci saja.” Ucap Pak Sopir yang kini tampak bingung.
“Harusnya aku yang eror pikirannya karena mendengar suara tembakan. Lah ini orang orang di bukit kok malah yang error. Ikan asin disuruh taruh di freezer mau dibekukan. Apa masih kurang kerasnya ikan asin.” Gumam Pak sopir dalam hati. Dan Ibu pelayan pun menghentikan kegiatannya dan langsung menatap pak sopir dengan tatapan penuh tanya.
“Maksud sampeyan apa Pak?” tanya Ibu pelayan kemudian masih tampak bingung bingung.
__ADS_1
“Itu ikan sudah awet Bu, kenapa harus ditaruh di dalam freezer nanti malah rusak freezer nya.” Ucap Pak Sopir dengan nada serius sambil menatap ibu pelayan yang wajahnya masih tampak bingung.
“Coba ibu lihat saja sendiri. Saya tunggu saya pun siap membantu jika dibutuhkan. Nanti dikira saya tidak mau membantu.” Ucap Pak Sopir lagi. Dan Ibu pelayan pun langsung bangkit berdiri dan berjalan dengan cepat menuju ke dapur. Pak Sopir pun juga turut berjalan cepat di belakang langkah ibu pelayan. Dengan cepat Ibu pelayan membuka pintu dapur.