
“Bagaimana aku mau lanjut kalau lembar berikutnya tidak dibuka.” Ucap Tuan Rangga karena Vadeo belum membuka lembar manuskrip berikut nya.
“Jun, ambilkan aku minum dulu.. kopi juga boleh.” Ucap Tuan Rangga kemudian sambil menoleh pada Juna yang anteng duduk sejak tadi.
Akan tetapi tiba tiba hand phone di saku belakang celana Juna berdering. Juna pun segera mengambil hand phone nya. Saat dilihat ada kontak nama sang assisten rumah tangga sedang melakukan panggilan suara. Juna pun segera menggeser tombol hijau.
“Mas Juna, ini ada orang mencari Tuan Rangga. Sudah dibilang Tuan Rangga pergi keluar kota, masih saja berdiri di depan. Orang nya serem serem.” Suara sang asisten rumah tangga Tuan Rangga.
“Kamu telpon Pak Er te, ga usah keluar rumah kamu.” Ucap Juna.
“Oooo sudah pergi Mas, diusir sama petugas keamanan dari Tuan Vadeo.” Suara sang asisten rumah tangga Tuan Rangga lagi.
“Ya sudah tetap hati hati jangan pergi pergi dulu, belanja pesan antar saja.” Ucap Juna karena dia sudah tahu dari Vadeo dan Bang Bule jika ada banyak orang yang menginginkan pulau Alexandria dan tentu saja manuskrip kuno itu termasuk orang yang bisa membaca manuskrip itu.
Juna lalu menaruh lagi hand phone ke dalam saku celana jeans nya.
“Ada apa Jun?” tanya Tuan Rangga yang mendengar sayup sayup percakapan Juna.
“Ada orang seram seram mencari Kakek.” Jawab Juna sambil menatap Tuan Rangga dengan ekspresi wajah takut dan khawatir.
“Bul, mungkin mereka sudah mulai bergerak cepat. Kamu cepat kondisikan anak buahmu.” Ucap Vadeo sambil menatap Bang Bule Vincent dengan serius.
“Beres Bro. Pengaman di rumah Tuan Rangga sudah. Mereka juga sudah menuju ke pulau Alexandria. “ jawab Bang Bule Vincent.
“Kamu hubungi Alexandria agar hati hati siapa tahu mereka akan menculik Alexandria.” Ucap Bang Bule Vincent mengingatkan pada Vadeo.
__ADS_1
“Aku sudah mengatakan pada Alexa tadi.” Ucap Vadeo akan tetapi mau tak mau Vadeo pun juga mengambil hand phone dari saku jas nya.
“Tuan Rangga dan Juna jangan khawatir kami akan melindungi Tuan Rangga dan Juna.” Ucap Vadeo sambil mengusap usap layar hand phone nya untuk mencari nama kontak Sang isteri tercinta.
Juna pun akhirnya berjalan menuju ke mini pantry yang ada di dalam paviliun tamu itu. Dia lalu membuat empat cangkir kopi untuk Sang Kakek dan juga orang orang yang ada di paviliun tamu itu termasuk diri nya sendiri.
Sementara itu Vadeo menghubungi Alexandria agar lebih waspada sebab banyak orang kini menghubungi diri nya lewat email karena menginginkan pulau Alexandria dan juga manuskrip kuno yang sedang diterjemahkan isi nya oleh Tuan Rangga dan belum selesai ceritanya. Mendengar hal itu Alexandria pun berniat untuk segera pulang sebab dia pun ingin segera menemui kedua anaknya yang sedang bersedih.
“Ayo kita lanjutkan membaca manuskrip itu.” Ucap Tuan Rangga setelah menyesap kopi nya dan melihat Vadeo sudah selesai menghubungi isterinya.
Vadeo pun lalu mengambil manuskrip yang tadi di taruh di atas meja, selanjutnya dia membuka lembar berikutnya dan mendekatkan pada Tuan Rangga.
Para ahli dan penasehat kerajaan Asasta mencari tahu penyebab kematian masal para rakyatnya. Dan akhirnya diketahui hal itu disebabkan akibat serbuk putih yang disebarkan dari atas lewat benda bermesin yang meraung raung di atas bumi pulau kemakmuran. Serbuk putih itu adalah racun yang sangat mematikan. Tidak hanya itu segala hewan liar dan ternak pun juga menjadi bangkai.
Di hari hari selanjutnya tanaman tanaman pun mengering dan mati.
“Ini mungkin yang membuat Aca dan Aya bersedih. Aku juga sedih mendengarkan nya. Mereka semua seluruh kehidupan mati secara pelan pelan karena racun itu.” Ucap Vadeo yang matanya kini juga memerah membayangkan pulau yang awalnya hijau subur makmur menjadi mengering.
“Iya Bro, tapi kamu selalu menyela terus sebelum selesai.” Ucap Bang Bule Vincent.
“Lanjut Kek, bagaimana nasib dengan Raja dan keluarganya.” Ucap Bang Bule Vincent yang masih siap jari jari nya mengetik di layar hand phone nya.
Tuan Rangga pun tidak terasa air mata menggenang di pelupuk nya. Setelah menyesap lagi kopi dari cangkir nya, dia kembali membaca lembar manuskrip itu.
Raja Mahadiraja sangat sedih hatinya. Beliau mengirim urusan nya untuk pergi ke kerajaan pulau seberang untuk meminta bantuan. Akan tetapi semua utusan yang dikirim tidak kembali lagi ke kerajaan Abasta. Mereka dibunuh, karena kerajaan besar sudah melarang semua kerajaan untuk membantu kerajaan Abasta termasuk negara negara luar milik bule bule.
__ADS_1
“Hah.. itu pasti negara kamu malah membantu kerajaan besar itu Bul.” Suara Vadeo lagi sambil membuka lembar manuskrip berikut nya.
“Bro kamu itu selalu saja menyela. Meskipun negaraku dulu menjajah, tapi kan juga ada orang orang negaraku yang membantu negaramu berjuang untuk merdeka. Contohnya Kakek buyutku, yang merelakan rumah dan hartanya untuk perjuangan negara mu.” Ucap Bang Bule Vincent yang mendadak sensitif.
“Coba kalau utusan kerajaan Asasta itu datang pada leluhurku pasti akan mendapat bantuan.” Ucap Bang Bule Vincent lagi sambil menatap Vadeo.
Sedangkan Tuan Rangga dan Juna ekspresi wajahnya tampak bingung sambil menatap secara bergantian wajah Vadeo dan Bang Bule Vincent yang sedang bertengkar.
“Ini mau dilanjut tidak?” tanya Tuan Rangga selanjutnya agar Tuan Tuan Muda itu lagi bertengkar.
“Lanjut Kek.” Ucap Bang Bule Vincent.
Tuan Rangga pun mengarahkan lagi kaca pembesar nya pada lembar manuskrip yang akan dibaca dan diterjemahkan....
Kerajaan besar itu sangat senang karena kerajaan Abasta sudah tidak memiliki kekuatan apa apa. Dia mengirim lagi urusannya untuk menanyakan lagi tawarannya akan pinangan nya pada kedua puteri Raja Mahadiraja. Sebab Puteri Deepa Lila dan Puteri Deepa Jingga terkenal kecantikan hingga di seluruh kerajaan kerajaan. Dan Jika pinangan diterima maka kerajaan besar itu akan memboyong kedua puteri kerajaan Asasta .
Karena Raja Mahadiraja sudah tidak memiliki kekuatan apa apa, makanan pun hanya ada yang tersisa di lumbung lumbung pangan, maka beliau lalu menyerahkan keputusan itu pada kedua puterinya.
“Menyedihkan sekali.” Kini gantian Bang Bule Vincent yang berkomentar sambil terus mencatat. Tampak Tuan Rangga pun menyesap lagi kopi dari cangkir nya.
“Kedua puteri itu apa mau dibawa oleh utusan kerajaan besar itu?” tanya Bang Bule Vincent selanjutnya.
“Kok sekarang kamu yang interupsi Bul.” Ucap Vadeo sambil menatap tajam Bang Bule Vincent
“Tuan Rangga juga sedang istirahat tuh.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menunjuk ke arah Tuan Rangga dengan dagu nya.
__ADS_1
..
.