
“Ante Pin.... atttuuu datan... (Uncle Vin.... aku datang....).” teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan dan berlari menghambur ke arah Bang Bule Vincent yang berdiri dengan gagah di depan pintu. Bang Bule Vincent pun segera menangkap dua tubuh mungil keponakannya itu.
“Hah.. kalian sudah semakin berat.” Ucap Bang Bule Vincent saat kedua tangannya mengangkat tubuh Valexa dan Deondria.
“Ha.... ha.... bawa catu catu duyu.. tayo ga tuat. (Ha... ha... bawa satu satu dulu kalau ga kuat).” Ucap Deondria yang sudah berada di dalam gendongan Bang Bule Vincent bersama saudara kembar nya.
“Uncle masih kuat... hap.. hap.. hap.. “ ucap Bang Bule Vincent sambil menggendong kedua ponakannya dan melangkah dengan menghentak hentakkan kaki dan meloncat loncat masuk ke dalam rumah nya. Kedua bocah itu pun tertawa bahagia. Vadeo dan Richardo turut melangkah di belakang mereka.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai du ruang keluarga tampak pimpinan tim misi yang masih duduk di sofa di ruang keluarga itu tersenyum sopan menatap mereka semua yang baru datang.
“Nona Nona Cantik apa khabar?” tanya pimpinan tim misi itu saat Bang Bule Vincent sudah dudu sambil memangku kedua bocah itu.
“Kabal baik cetayi... (kabar baik sekali....).” Jawab Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil tersenyum manis menatap wajah pimpinan tim misi itu.
“Apa ada informasi penting?” tanya pimpinan tim misi itu sambil mengusap usap puncak kepala kedua bocah itu di dalam jangkauan tangannya. Sebab Bang Bule Vincent duduk tidak jauh dari nya. Pimpinan tim misi itu sangat gemas melihat kedua bocah itu hingga secara reflek tangannya ingin menyentuh mereka berdua.
“Ada.” Teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan.
“Apa itu cepat katakan.” Ucap pimpinan tim misi dan Bang Bule Vincent secara bersamaan dengan tidak sabar sambil memandang wajah imut Valexa dan Deondria.
Sementara itu Valexa dan Deondria malah segera menoleh ke arah Sang Papa.
“Pa, apa Pa? Tata tan Pa... (Pa, apa Pa? Kata kan Pa...).” ucap Valexa dan Deondria yang masih menoleh ke arah Sang Papa Vadeo.
Tampak ekspresi wajah Bang Bule Vincent dan pimpinan tim misi itu, heran karena justru Vadeo yang harus mengatakan dan juga penasaran ada informasi apa.
__ADS_1
“Ooo begini, kami akan mengadakan pesta ulang tahun pernikahan yang akan diadakan di pulau Alexandria hanya pesta kecil kecilan untuk orang orang dekat. Karena kebetulan Bapak pimpinan tim misi ada di sini, sekalian kami juga mengundang Bapak.” Ucao Vadeo sambil menatap wajah pimpinan tim misi dan Bang Bule Vincent secara bergantian.
“Wow keren Bro, berarti bisa sekalian untuk pesta kita dalam mengakhiri kontrak kerja.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada bahagia sambil tersenyum senang lalu mencium puncak kepala kedua keponakan nya yang berada di dalam pangkuannya itu.
“Bagaimana tolong jelaskan.” Ucap Vadeo yang kini tampak bingung sambil menatap Bang Bule Vincent dan pimpinan tim misi secara bergantian.
Pimpinan tim misi itu pun lalu menjelaskan kepada Vadeo, jika dari hasil pemantauan peredaran barang barang terlarang sudah tidak lagi masif dan pelaku nya bisa segera tertangkap. Maka untuk sementara kontrak kerja telah selesai.
“Ooo syukurlah...” ucap Vadeo sambil tersenyum dan tampak lega.
“Surat penghentian kontrak kerja secara resmi akan kami kirim lewat email Tuan Vadeo.” Ucap pimpinan tim misi itu selanjutnya. Dan Vadeo menjawab dengan mengangguk angguk kan kepala nya.
“By the way, saya sangat senang dan tersanjung karena mendapat undangan dari Tuan Vadeo, untuk menghadiri pesta pernikahan di pulau Alexandria. Tetapi maaf, bukannya untuk menuju ke pulau itu tidak ada transportasi umum. Jadi bagaimana cara saya menuju ke sana?” tanya pimpinan tim misi itu dengan nada sopan sambil menatap Vadeo.
“Pate pecawat Papa... (pakai pesawat Papa..).” saut Valexa dengan nada serius sambil menatap wajah pimpinan tim misi itu.
“Ooo terima kasih Nona Valexa dan Nona Deondria. Saya sangat senang sekali akhirnya saya akan bisa menginjakkan kaki di pulau Alexandria yang sangat indah itu...” ucap pimpinan tim misi sambil tersenyum senang.
“Hmmm. Aku juga akan melakukan gituan di sungai itu agar bisa muncul dua anak macam kalian berdua.” Ucap Bang Bule Vincent sambil tersenyum dan dengan gemas memeluk Valexa dan Deondria.
“Endak boyeh... endak boyeh buat atu celain Mama tan Papa.. (Enggak boleh ... enggak boleh buat aku selain Mama dan Papa).” Teriak Valexa dan Deondria sambil tangan tangan mungil nya memukul mukul tubuh Bang Bule Vincent.
Sementara itu di belahan bumi lain Richie telah berhasil keluar dari daratan benua Eropa lewat jalan secara ilegal. Dia pun juga bisa mendapatkan kartu identitas palsu lewat bantuan Patrick. Dan kini Richie sudah ikut berlayar bersama Tuan Njun Liong. Mengarungi samudra untuk mencari harta karun. Kali ini tujuannya adalah ke samudra atlantik utara, untuk mencari benda benda antik di dalam kapal pesiar yang tenggelam di beberapa abad lalu.
“Tuan kapan kita ke Asia?” tanya Richie pada Tuan Njun Liong, saat mereka berdua berada di atas kapal besar bersama rombongan anak buah Njun Liong.
__ADS_1
“Haiiiya... aku baru saja dari Asia sekarang jadwal untuk mencari barang barang yang tenggelam di samudra atlantik utara itu.” Jawab Tuan Njun Liong sambil menegak anggur merah dari gelas nya.
“Ada informasi masih ada banyak harta karun di sana, yang nilai nya sangat fantastis.” Ucap nya selanjutnya sambil menaruh gelas kosong di atas meja.
“Kamu tenang saja, pada saat nya kita juga akan ke Asia lagi, tetapi menunggu jadwal. Aku tidak ingin kedahuluan orang lain untuk mendapatkan benda ini.” Ucap Tuan Njun Liong selanjutnya
“Apa nanti kita juga ikut menyelam ke dasar laut Tuan?” tanya Richie dengan nada khawatir karena meskipun dia bisa berenang akan tetapi belum pernah menyelam berlama lama apalagi harus mencari benda di dasar laut yang belum pasti berada di mana.
“Ha... ha... ngapain kita repot repot. Kamu lihat itu mereka yang akan bekerja, kita tinggal menunggu saja di atas kapal... ha... ha....” Jawab Tuan Njun Liong sambil tertawa terbahak bahak dan menoleh ke arah anak buah nya yang masih santai santai duduk duduk sambil minum minum karena perjalanan sampai ke lokasi masih agak lama.
“Sambil ditemani oleh mereka.” Ucap Tuan Njun Liong lagi yang kini menatap wanita wanita cantik dan sexy yang juga turut serta ke dalam kapal itu. Tampak wanita wanita itu sedang duduk duduk sambil merawat tubuh nya.
“Hmmm apa istri Patrick juga mantan dari penghibur Tuan Njun.” Gumam Richie dalam hati..
“Hmmm kalau kamu ingin salah satu dari mereka juga boleh.” Ucap Tuan Njun Liong sambil tersenyum menatap Richie
“Ha... ha... boleh Tuan untuk menemani aku selama di pelayaran ini. Tapi aku tidak cukup hanya satu.” Ucap Richie jujur sambil tertawa
“Akan tetapi aku sekarang tidak punya banyak uang untuk membayar.” Ucap Richie lagi dengan nada sedih.
“Kamu ambil saja gratis, aku yang bayar mereka semua itu dengan harga mahal.” Ucap Tuan Njun Liong dengan nada serius. Dan Richie pun tampak tersenyum senang.
“Asal kamu nurut dan setia. Tidak membocorkan rahasia perjalanan kita dan apa yang sudah kita temukan nanti. Kamu tahu kan banyak cukong cukong berlomba lomba untuk mencari harta karun itu.” Ucap Tuan Njun Liong dengan nada serius dan menatap tajam wajah Richie.
"Hmmm aku harus menjadi salah satu cukong itu suatu saat nanti." gumam Richie dalam hati.
__ADS_1
Kapal besar itu terus berlayar membelah samudra raya menuju ke lokasi tenggelamnya kapal pesiar yang sudah berabad abad tahun lama nya.
....