Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 194.


__ADS_3

“Aku langsung ke Jonathan Co. Mama dan anak anak ke langsung mansion saja.” Ucap Vadeo setelah menaruh lagi hand phone miliknya ke dalam saku kemeja.


“Iya Pa, William Group masih bisa aku handel dari jauh.” Ucap Alexandria sambil menggandeng anak anaknya. Mereka pun berjalan ke mobil golf dan mengantar mereka menuju ke mobil yang masih terparkir. Tampak Richardo dan Sang pengasuh sudah menunggu di dekat mobil.


Saat mobil golf sudah mendekat pada mobil mobil yang akan mengantar mereka menuju ke Mansion dan Jonathan Jo. Hand phone milik Vadeo berdering lagi.


“Hmm apa lagi Pak Rio.” Gumam Vadeo lalu meraih lagi hand phone miliknya saat dilihat layar hand phone tertera sebaris nomor dengan nomor depan kode negara Indonesia lalu kode wilayah kota Jakarta.


“Hmmm siapa lagi..” gumam Vadeo menggeser tombol hijau akan tetapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.


“Selamat pagi Tuan Vadeo, kami dari kantor lapas mengabarkan jika Tuan Justin akan segera bebas. Tuan Jonathan sebagai keluarganya mewakilkan segala urusan pada Tuan Vadeo.” Suara seorang laki laki di balik hand phone milik Vadeo.


“Ya lalu bagaimana?” tanya Vadeo yang tiba tiba pusing dibuatnya.


“Hari ini tolong Tuan datang ke kantor lapas.” Suara laki laki di balik hand phone milik Vadeo itu lagi.


“Ya.” Jawab Vadeo singkat dan setelah petugas lapas di seberang sana mengucapkan terima kasih lalu sambungan telepon pun terputus.


Vadeo segera segera turun dari mobil golf setelah mencium kening Alexandria dan wajah kedua puteri nya. Lalu dia melangkah menuju ke salah satu mobil yang akan mengantar dirinya menuju ke Jonathan Co.


Alexandria dan Si Kembar pun turun dari mobil golf dan berjalan menuju ke mobil lainnya.


Sesaat Valexa dan Deondria yang sudah duduk berdampingan di jok belakang kemudi itu saling pandang dan selanjutnya mereka berdua mengangguk -anggukkan kepalanya.


“Ma....” ucap Valexa sambil mendongak ke arah Sang Mama yang duduk di dekatnya. Dan sesaat kemudian mobil pun mulai berjalan.


“Apa Sayang.. kalian mulai besok sekolahnya.” Ucap Alexandria sambil menunduk menatap wajah anak anaknya dan tangannya membelai rambut kepala kedua anaknya.

__ADS_1


“Butan itu Ma... (Bukan itu Ma...).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil mendongak menatap wajah Sang Mama. Dan mobil pun terus melaju membelah jalan raya. Dua pengasuh yang duduk di jok paling belakang hanya diam saja. Richardo yang duduk di jok depan di samping kemudi juga hanya diam saja dengan pandangan fokus ke arah depan seperti halnya pak sopir.


“Terus apa Sayang.. jadwal latihan di Uncle Vin juga libur. Aunty Ixora mungkin juga akan punya adik he... he....” ucap Alexandria lalu dia tertawa kecil sebab sejak tadi dia melihat Ixora tampak pucat.


“Itu Ma, macalah Ante Dastin... (itu Ma, masalah Uncle Justin).” Ucap Deondria sambil menatap wajah Sang Mama dengan tatapan serius.


“Ada apa dengan Uncle Justin apa dia masih berbahaya?” tanya Alexandria sambil menatap kedua anaknya.


“Yiyis.... (Riris).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan.


“Ooooh Riris iya kamu tahu juga dengan perempuan itu?” ucap Alexandria yang jadi teringat akan Riris. Jika Justin bebas kemungkinan Riris pun juga bebas, sebab seingat dirinya waktu hukuman Justin dan Riris sama.


“Iya, dia macih dahat.. (Iya, dia masih jahat..).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan, mimik wajah keduanya tampak serius.


“Apa dia masih akan menggoda Papa?” tanya Alexandria tampak khawatir dan cemburu menjadi satu. Dan kedua anaknya menganggukkan kepala dengan mantap.


“Hmmm kenapa hukuman bertahun tahun tidak membuatnya kapok.” Gumam Alexandria dengan nada kesal.


“Baiklah nanti kita bicarakan pada Papa, agar Papa menjaga diri baik baik juga kita pikirkan untuk melindungi Boy.” Ucap Alexandria sambil mengusap usap kepala kedua anaknya.


“Hmmm kemungkian besar Boy memang anak Justin jika melihat Aca dan Aya sejak kecil masih menaruh perhatian pada bocah laki laki malang itu.” Gumam Alexandria dalam hati.


“Hmmm untuk memastikan biar bu Rina mengambil sedikit rambut Boy dan biar Ixora membawa ke laboratorium. Dan nanti Kak Deo kan ke lapas biar dia juga mengambil rambut Justin.” Gumam Alexandria dalam hati lalu dia mengambil hand phone dari tas tangannya dan mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi Ibu Rina dan setelahnya dia menghubungi suaminya.


Mobil terus melaju membelah jalan raya ibu kota menuju ke Mansion Jonathan.


Sementara itu di gedung sebuah lapas wanita. Riris yang masih berada di dalam sel nya, tersenyum licik.

__ADS_1


“Hmmm sebentar lagi hari kebebasanku akan tiba. Aku harus memulai dari awal lagi.” Gumam Riris sambil tersenyum licik.


“Dan tidak aku biarkan Wika dan anaknya akan merebut Justin.” Ucap Riris dalam hati karena dia sudah mendapatkan informasi dari teman yang menjenguk dirinya. Jika Justin sudah memiliki anak dari Wika. Dan beberapa kali Wika dan anaknya menjenguk Justin dengan diantar oleh Tuan Jonathan.


“Aku harus cari cara yang lebih rapi untuk menyingkirkan Wika dan anaknya.” Gumam Riris dalam hati lalu sesaat dia melangkah menuju ke loker tempat dia menaruh peralatan pribadinya. Dia buka pelan pelan pintu loker kecil itu. Isi di dalam loker itu hanya beberapa lembar pakaian dan juga bedak sederhana milik Riris. Dia lalu mengambil satu lembar kertas kecil yang berisi alamat teman sesama nara pidana wanita yang sudah keluar.


“Hmmm aku akan langsung datang ke rumahnya saja. Dia sudah berpengalaman menculik anak anak.” Gumam Riris dalam hati sambil tersenyum licik.


“Aku sekarang juga sudah susah menghubungi Justin. Mungkin dia setelah bebas akan hidup dengan Wika dan anaknya. Kurang ajar!” gumam Riris lagi karena dia tidak satu lapas dengan Justin. Riris pernah minta tolong pada temannya untuk menyampaikan surat akan tetapi Justin juga tidak membalas suratnya.


Sesaat kemudian terdengar suara....


TENG... TENG... TENG...


Bunyi tanda jam makan buat penghuni lapas wanita itu. Riris beserta teman satu selnya keluar untuk menuju ke ruang makan para penghuni lapas itu.


“Ris, kamu lihat perempuan itu?” tanya teman satu sel Riris saat melihat Amelia yang juga ditahan di lapas itu tapi beda sel.


“Orang baru.” Ucap Riris sambil mengerutkan keningnya.


“Iya orang itu akan menculik anak anak Tuan Vadeo.” Ucap teman satu sel Riris sambil terus berjalan di antara kerumunan para penghuni lapas yang juga berjalan menuju ke ruang makan.


“Kok sepertinya aku pernah melihat dia ya...” gumam Riris dalam hati dan tampak dia berpikir pikir.


“Oooohhhh benar sepertinya aku pernah melihat dia waktu mengantar Justin reuni.” Gumam Riris dalam hati dan tampak dia tersenyum. Justin dan Vadeo memang dalam satu sekolah dasar berarti Justin satu sekolah dasar juga dengan Amelia.


“Apa orang itu bisa diajak kerja sama. Apa dia masih punya orang yang bisa diandalkan di luar. Hmmm seperti apa anak Vadeo dan buat apa dia ingin menculik anak Vadeo.” Gumam Riris dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2