
Sementara itu di dalam ruang persalinan. Ixora masih merasa kesakitan, Bang Bule Vincent yang berada di dekatnya sampai tidak tega melihat istrinya. Berkali kali lengan atau rambut Bang Bule Vincent dicengkeram oleh jari jari Ixora untuk menahan rasa sakit di perutnya.
“Ayo Nona tahan nafas dan seterusnya mengejan dengan kuat..” ucap Ibu Dokter yang tadi juga menangani kelahiran bayi bayi Alexandria.
“Ayo Beb, pegang aku kuat kuat aku bantu...” ucap Bang Bule Vincent sambil mencium kening Ixora yang sudah penuh dengan keringat.
Dan benar Ixora memegang erat lengan kekar Bang Bule Vincent dan satu tangannya memegang erat tangan seorang perempuan muda yang tidak lain adalah tangan Nindy sahabat Ixora yang kini juga sudah menjadi seorang dokter dan ikut menjadi tim dalam proses kelahiran itu.
“Ayo Ix, kamu pasti kuat, aku sudah tidak sabar untuk melihat keponakanku.” Ucap Nindy memberi semangat pada Ixora sahabatnya.
Dan beberapa saat kemudian...
“Oweeeekkkkk.... oweeekkkk... owekkkkkkkl....”
Tangis bayi yang sudah keluar dari perut Ixora.
“Terima kasih Beb... “ ucap Bang Bule Vincent dengan penuh haru sambil memeluk dan mencium wajah Ixora. Tubuh Ixora masih lemas dan penuh keringat.
“Selamat ya Ix, Bang Bule...” ucap Nindy sambil tersenyum senang dan mengusap usap pundak Ixora lalu dia melangkah untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia pun penasaran untuk melihat baby yang baru saja keluar dari perut sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian, Dokter sudah selesai menjahit jalan bayi dan perawat sudah selesai membersihkan tubuh baby, kini Nindy yang menggendong tubuh mungil anak Ixora itu.
__ADS_1
“Meskipun belum waktunya lahir tapi anakmu sehat Ix, dan cakep banget, ganteng, hidungnya mancung banget, rambutnya tebal dan bule nya tampak he... he...” ucap Nindy sambil tertawa kecil bahagia.
Nindy pun lalu menyerahkan bayi mungil berjenis kelamin laki laki itu pada Bang Bule Vincent. Bang Bule Vincent menerima bayi mungil itu dengan penuh hati hati. Bayi yang sudah begitu dia rindukan kehadirannya sejak lama. Bang Bule Vincent melantunkan doa di telinga bayi mungil itu. Lalu setelahnya dia memberikan pada Ixora.
Ixora pun menerima dan mencium dengan hati hati pipi bayi mungil itu.
“Coba saja sudah bisa menyusu belum?” ucap Nindy yang juga sudah berada di dekat Ixora. Ixora pun mencoba memberikan asi pertamanya pada Sang baby tercinta. Bang Bule Vincent juga turut serta serius melihat reaksi dari buah hatinya.
“Sabar Ix, kata ibu dokter senior tadi anakmu sehat kok. Cuma memang nanti masih masuk inkubator dulu.” Ucap Nindy yang melihat anak Ixora belum menunjukkan reaksi untuk menyusu.
“Ayo Sayang, minumlah dengan kuat, isinya semua buat kamu Papa kemasannya saja.” Ucap Bang Bule Vincent lirih agar tidak didengar oleh Nindy, akan tetapi seberapa pun lirih nya tetap saja Nindy dan para perawat yang masih beres beres mendengar, mereka semua hanya tersenyum. Sedangkan ibu Dokter senior sudah lebih dahulu ke luar ruang persalinan itu untuk beristirahat.
Sementara itu di luar ruang persalinan itu tampak orang orang yang menunggu persalinan Ixora terlihat lega. Tuan Jansen menitikkan air mata karena haru.
“Akhirnya, ada penerus nama Jansen.” Gumam Tuan Jansen yang didengar oleh Tuan William.
“Tuan jangan buat hatiku yang sudah bahagia ini menjadi sedih.” Ucap Tuan William dengan nada serius dan ekspresi wajah sedih yang menatap wajah Tuan Jansen yang tampak sangat bahagia.
“Ada apa Tuan? Bukannya Tuan bahagia karena dalam satu hari mendapatkan tiga cucu laki laki?” tanya Tuan Jansen karena dia tahu Tuan dan Nyonya William sangat mengharapkan cucu laki laki sejak lama.
“Iya tetapi tetap saja mereka tidak memakai nama William di belakangnya.” Gumam Tuan William.
__ADS_1
“Papa buat anak lagi aja siapa tahu nanti muncul anak laki laki.” Ucap Dealova yang masih berdiri di situ menunggu pintu ruang persalinan terbuka.
“Deal, memang kamu mau punya ibu tiri punya Mama Tiri?” teriak Nyonya William dengan nada ketus dan kesal.
“Ooo maaf Ma... “ ucap Dealova sambil memeluk Sang Mama setelah sadar jika Sang Mama sudah tidak bisa hamil lagi.
“Ya sudah Papa dan Mama adopsi anak laki laki saja, beri nama Junior William, dan biar dia Nanti kalau punya anak pakai nama William di belakangnya.” Ucap Dealova dengan ringan. Akan tetapi itu membuat Tuan dan Nyonya William tersenyum dan setuju pada ide Dealova itu.
“Aku setuju itu Deal. Lagian kalau kalian semua sudah menikah sudah sepi Mansion utama. Besok kalau ada waktu kita ke panti asuhan tempat Alexa dulu tinggal.” Ucap Nyonya William dengan nada serius Tuan William pun setuju. Sebab memang merasakan Mansion utama menjadi sepi setelah Alexa dan Ixora menikah, Dealova pun sibuk dengan kegiatan pameran nya yang sering tidak pulang karena kegiatan pameran kadang ke luar kota bahkan ke luar negeri.
Tuan dan Nyonya Jansen pun mendukung rencana Sang Besan.
Sesaat kemudian pintu ruang persalinan terbuka. Muncul brankar yang ditarik dan didorong oleh perawat dan Dokter Nindy yang masih setia mendampingi sahabat baiknya itu. Tampak Bang Bule Vincent pun berjalan di samping brankar, kini wajahnya tersenyum bahagia rambut nya pun sudah terlihat rapi.
“Mana cucuku?” teriak ke empat orang tua itu.
“Dibawa ke ruang bayi jadi satu dengan kakak kakaknya.” Ucap Bang Bule Vincent sambil terus melangkah mengikuti jalannya brankar yang berisi istrinya.
Ke empat orang tua itu pun langsung bergegas berjalan menuju ke ruang bayi. Sedangkan Dealova tampak masih berdiri bingung mau ke ruang bayi apa ke ruang rawat untuk menemani kakak kakaknya.
“Bang.. anakmu namanya siapa?” teriak Dealova selanjutnya yang akhirnya melangkah mengikuti Bang Bule Vincent.
__ADS_1