Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 142.


__ADS_3

Laki laki suruhan Mamah Mimi itu terus berjalan menuju ke kamar yang dimaksud oleh Mamah Mimi. Dia lalu membuka dengan keras pintu kamar itu.


Kelima pemuda yang ada di dalam kamar langsung menoleh ke arah pintu yang dibuka dengan keras. Keempat pemuda tampan dan gagah yang masih syok melihat sosok Mamah Mimi yang harus mereka layani tampak kaget karena pintu terbuka lagi.


“Hmmm mereka semua bengong wajahnya. Mana yang diinginkan oleh Mamah Mimi.” Gumam laki laki suruhan Mamah Mimi itu karena dia melihat semua ekspresi kelima pemuda itu tampak kaget menatap ke arah pintu.


“Hai kalian berlima ikut aku!” perintah laki laki suruhan Mamah Mimi itu lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ke arah Mamah Mimi yang masih berdiri di dekat dispenser air mineral. Entah berapa gelas air mineral yang sudah ditebak oleh Mamah Mimi.


Kelima pemuda tampan dan gagah itu saling pandang lalu berjalan keluar kamar mengikut laki laki suruhan Mamah Mimi.


“Mah.. yang mana aku takut salah?” suara laki laki suruhan Mamah Mimi itu sambil terus melangkah mendekati Mamah Mimi. Mamah Mimi yang sedang berkhayal, berpikir pikir cara melakukan perawatan tubuhnya dan menenangkan debaran jantungnya, menoleh ke arah suara laki laki suruhannya. Dan saat melihat pemuda pemuda tampan dan gagah juga berjalan ke arahnya jantung Mamah Mimi kembali berdebar debar lagi dengan keras.


“Hah.. masih juga kamu itu belum tahu. Itu ke empat yang berjalan ke sini. Yang paling belakang setelahnya.” Jawab Mamah Mimi dengan nada tinggi.


“Suruh mereka kembali ke dalam kamar. Beri mereka makanan paling enak!” perintah Mamah Mimi, lalu dia kembali mengambil satu gelas air mineral dan ditegaknya lagi hingga tuntas.


Laki laki suruhan Mamah Mimi itu lalu memerintahkan kelima pemuda pelamar untuk masuk lagi ke dalam kamarnya. Dan kini dia sudah tahu pada keempat pemuda yang diinginkan oleh Mamah Mimi.


“Kamu, kamu, kamu dan kamu. Siap siap satu minggu lagi test fisik dan wawancara.” Ucap laki laki suruhan Mamah Mimi itu sambil menunjuk pada dada bidang ke empat pemuda utusan Bang Bule Vincent.


“Saya kapan Pak?” tanya pemuda pelamar yang belum diinginkan oleh Mamah Mimi.


“Setelahnya, kamu orientasi dulu di sini agar wajahmu tidak bengong bengong lagi.” Jawab laki laki suruhan Mamah Mimi itu lalu pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Kelima pemuda itu pun lalu masuk kembali ke dalam kamar. Keempat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent saling pandang sambil mengangkat kedua bahunya.


“Kalian berempat sudah terpilih dan akan test lebih dulu. Semoga lolos dan setelahnya aku. Aku sudah ingin segera bekerja dan dapat gaji. Kemarin uang untuk pendaftaran orang tuaku pinjam dulu pada saudara.” Ucap pemuda pelamar itu dengan lolosnya. Sedangkan ke empat pemuda utusan Bang Bule Vincent itu hanya diam dalam hati mereka merasa sangat kasihan dengan teman barunya itu. Dan mungkin pemuda pemuda yang lain pun juga sama seperti mereka.


“Kita lihat saja, besok aku kasih tahu kamu hasil test nya.” Ucap pengawal Dealova sambil menatap wajah teman barunya itu.


Sementara itu Mamah Mimi langsung berjalan menuju ke kamar Nyonya Siu Lie. Mamah Mimi segera mengetuk ngetuk pintu kamar Nyonya Siu Lie.


TOK TOK TOK


TOK TOK TOK TOK


Nyonya Siu Lie yang baru saja selesai menghubungi pemuda yang kemarin melayaninya tampak kaget saat pintu kamar diketuk ketuk dengan sangat keras.


“Beb....” suara Nyonya Siu Lie akan tetapi tidak berlanjut sebab yang di depan pintu adalah sosok Mamah Mimi yang langsung menghambur ke dalam kamarnya.


“Ada apa Mah?” tanya Nyonya Siu Lie dengan kaget sambil menutup pintu kamar rapat rapat.


“Nyonya kalau melakukan perawatan tubuh di mana kulit Nyonya tambak kinclong dan segar?” tanya Mamah Mimi sambil menatap tubuh Nyonya Siu Lie yang sudah setengah baya namun masih tampak segar.


“Di klinik kecantikan Mah.. ada dokternya, aku biasanya di Korea.” Jawab Nyonya Siu Lie.


“Kalau Mamah Mimi pakai perawatan apa?” ucap Nyonya Siu Lie balik bertanya.

__ADS_1


“Aku hanya pakai ramuan dari leluhur saja. Namun sepertinya aku harus menambah perawatan yang lain.” Gumam Mamah Mimi yang kurang percaya diri saat melihat keempat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent.


“Aku akan melakukan ritual di malam bulan purnama besok ini. Mungkin aku harus melakukan persiapan yang lebih baik agar ilmuku kembali lagi dan bisa melihat dua bocah itu.” Ucap Mamah Mimi yang tidak terus terang jika ada empat pemuda baru yang sangat memesona dirinya, bagaimana pun Mamah Mimi cemburu jika keempat pemuda itu juga disantap oleh Nyonya Siu Lie. Meskipun besok sudah menjadi bekasnya rasanya dia tidak rela jika ke empat pemuda itu jatuh pada pelukan temannya.


“Ya sudah Mamah Mimi melakukan perawatan dulu sebelum acara ritual. Panggil saja dokter dan pekerja klinik ke sini. Aku juga mau bayar patungan untuk ongkos mereka.” Usul Nyonya Siu Lie dan Mamah Mimi pun tersenyum setuju. Mamah Mimi pun juga menghubungi orang orang suruhan nya untuk menyiapkan bahan bahan ritual yang istimewa untuk acara di malam bulan purnama.


“Jangan lupa kembang mawar berwarna merah jambu sepuluh keranjang, kemenyan istimewa, minyak wangi, telur ayam kampung, madu hutan, rempah, empat ayam jago pilihan....” ucap Mamah Mimi pada orang suruhan nya lewat sambungan telepon yang ada di dalam kamar yang tempati oleh Nyonya Siu Lie.


Sementara itu di pulau Alexandria. Valexa dan Deondria tersenyum bahagia.


“Papa... Ante... tita bica telual cetayang dayi pecembunyian... (Papa... Uncle... kita bisa keluar sekarang dari persembunyian...).” teriak Valexa dan Deondria dengan senyum lebarnya.


“Apa kita sudah aman Sayang?” tanya Vadeo dan Bang Bule Vincent secara bersamaan.


“Beyum... tapi na peyempuan tuwa itu cedang jatuh cinta he.... he.... ( belum ... tapi nya perempuan tua itu sedang jatuh cinta he... he....).” ucap Deondria sambil tertawa dan menutup mulut mungilnya.


“Hah kamu masih kecil sudah tahu jatuh cinta.” Gumam Vadeo sambil menatap tajam wajah Deondria yang masih cekikikan tertawa.


“Tita atan betelja di mayam buyan pulnama.. (Kita akan bekerja di malam bulan purnama).” Ucap Valexa dengan nada serius.


“Hah, kapan itu?” tanya Vadeo dan Bang Bule Vincent secara bersamaan. Tampak Valexa dan Deondria menghitung hitung dengan jari jari mungilnya.


“Tujuh hayi yadi.. (Tujuh hari lagi).” Jawab Valexa dan Deondria secara bersamaan. Dan sesaat kemudian hand phone yang ada di dalam saku celana cargo milik Bang Bule Vincent berdering. Bang Bule Vincent pun segera memgambil hand phone miliknya.

__ADS_1


__ADS_2