
Alexandria tampak ke luar dari kamar mandi dengan cepat cepat dan segera melangkah menuju ke pintu keluar dari ruang kerja Vadeo itu.
Saat sampai di depan pintu dia menoleh ke Richardo yang masih duduk dengan posisi kaki selonjor dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa kedua tangannya ditekuk ke atas untuk bantal, kedua telapak tangannya berkaitan jari jarinya di taruh pada tengkuknya. Benar benar pada posisi untuk merilekskan otot otot dan syaraf syaraf nya yang sudah menegang berhari hari.
“Do, coba kamu lihat apa tadi yang sudah terjadi di dalam laut hingga menyebabkan kapal besar itu bocor. Aku ada rasa khawatir jika kita secara tidak sadar menekan tombol dan ada bom yang meledak. Namun dengan kekuatan rendah.” Ucap Alexandria yang masih berdiri di depan pintu sambil menoleh ke arah Richardo.
“Aku mau ke dapur untuk mengecek bumbu yang dibuat oleh Ixora.” Ucap Alexandria lalu segera berlalu dari pintu itu.
Richardo pun segera mengakhiri posisi nyaman nya. Dia menegakkan punggungnya dan menekuk lagi kakinya kini kembali duduk dengan sempurna. Lalu jari jarinya menekan nekan tuts keyboard lap top untuk melihat menu yang sudah dibuka oleh Alexandria. Richardo menggeser geser kursor untuk mendapatkan obyek tangkapan yang tepat. Dan sesaat mata Richardo terbelalak melihat tangkapan layar di bawah laut itu. Terlihat dengan jelas barisan ikan ikan paus besar besar dari arah laut dalam dan barisan buaya buaya yang juga besar besar dari arah pantai juga banyak jenis binatang air lainnya yang besar besar. Mereka semua berbondong bondong berenang dengan cepat dan bersatu berkumpul di bawah kapal besar itu.
Richardo menggeleng gelengkan kepalanya melihat keajaiban alam yang sungguh luar biasa itu.
“Apa itu hasil pekerjaan Nona Twins dan ular besar itu.” Gumam Richardo dalam hati yang masih melotot melihat tampilan di layar lap top bagaimana binatang binatang air itu bekerja membuat kapal bocor, dan kapal menjadi tenggelam.
“Apa mereka para penumpang itu juga akan menjadi makanan binatang binatang laut itu.” Gumam Richardo lalu menggeser geser lagi krusor akan tetapi kamera CCTV di dalam laut itu sudah tidak bisa menjangkau lagi karena kapal besar itu tenggelamnya sudah berada di kawasan luar perairan pulau Alexandria.
Sementara itu di pantai pulau Alexandria. Pesawat sudah mendarat dengan selamat. Semua karyawan Vadeo dan anak buah Bang Bule Vincent yang bertugas di pantai itu segera menyambut kedatangan orang orang di dalam pesawat itu.
__ADS_1
Saat pintu pesawat sudah terbuka. Eveline dan delapan anak buah Bang Bule Vincent lebih dulu turun mereka sudah melepas baju pelindung dan sudah dikembalikan pada kru pesawat. Tampak wajah wajah mereka dengan senyuman, senyum bahagia dan haru menjadi satu. Bahagia karena sudah berhasil menjalankan tugas dan haru karena mereka akhirnya bisa mendarat tanpa halangan di saat bahan bakar sudah akan habis. Sembilan orang itu terus menuruni anak tangga pesawat.
Sedangkan Vadeo dan Bang Bule Vincent masih melepas baju pelindung yang menempel di tubuh Valexa dan Deondria, kedua bocah itu kini tampak kembali tidur dengan pulas. Rambut di kepala mereka basah kuyup oleh keringat dan saat baju pelindung itu dilepas baju mereka pun juga basah kuyup.
“Apa mereka kepanasan dengan baju pelindung ini Tuan?” tanya kru pesawat saat menerima baju pelindung anak anak dari Vadeo dan Bang Bule Vincent.
“Padahal AC pesawat tidak ada masalah Tuan.” Ucap kru pesawat itu yang kini menerima baju pelindung Vadeo dan Bang Bule Vincent. Vadeo hanya mengangkat kedua bahunya. Lalu menggendong salah satu anaknya yang tampak masih pulas tertidur dan Bang Bule Vincent juga menggendong satunya. Mereka berdua terus melangkah keluar dari pesawat.
Vadeo dan Bang Bule Vincent dengan langkah tegap dan cepat terus melangkah menuju ke mobil yang sudah menunggu. Tampak para karyawan membawa barang barang mereka yang sudah diturunkan dari bagasi pesawat. Termasuk satu kotak besar yang terbungkus oleh plastik tebal yang sangat rapat.
Vadeo dan Bang Bule Vincent terus berjalan menuju ke mobil dan segera masuk ke dalam mobil mereka berdua duduk di jok belakang kemudi. Dua orang sopir pun tampak sudah duduk di jok depan.
“Selamat datang Tuan, saya deg degan hampir pingsan lagi tadi karena situasi tadi. Untung semua selamat.” Ucap Pak Sopir yang pingsan di atas bukit kini dia sudah duduk di jok depan di samping kemudi. Kini temannya yang akan mengemudikan mobil menuju ke rumah. Mobil pun segera berjalan menuju ke rumah. Mereka semua ingin segera pulang dan segera sampai ke rumah.
“Terima kasih Pak, iya syukur alhamdulillah kita semua selamat. Tolong buka kan koper milik Twins itu.” Ucap Vadeo karena koper milik Twins berada di tangan pak sopir itu. Pak Sopir itu pun segera membukakan koper milik Twins dan Vadeo mengambil dua baju untuk baju ganti Valexa dan Deondria.
Dengan cekatan Vadeo mengganti baju Deondria yang ada di dalam pangkuannya. Sementara Bang Bule Vincent yang memangku Valexa belum juga membuka baju Valexa yang basah oleh keringat.
__ADS_1
“Bro ini bagaimana takut terbangun anaknya.” Ucap Bang Bule Vincent. Vadeo pun lalu memberikan Deondria yang sudah berganti baju kepada Bang Bule Vincent dan mengambil Valexa untuk dipangku dan diganti bajunya.
“Harusnya kamu belajar sebelum kamu punya anak sendiri.” Gumam Vadeo sambil melepas baju milik Valexa yang basah.
“Memang kamu sebelum punya anak belajar mengganti baju?” tanya Bang Bule Vincent sambil menoleh ke arah Vadeo dan Deondria masih tidur pulas di pangkuan Bang Bule Vincent.
“Iya, belajar mengganti baju Mamanya dulu.” Jawab Vadeo dengan serius tanpa senyuman apalagi tawa. Tangannya dengan cekatan memakaikan baju ganti Valexa.
“Kalau itu sudah aku lakukan Bro!” ucap Bang Bule Vincent sambil tertawa. Dua sopir yang duduk di depan mobil yang terus berjalan meninggalkan pantai itu pun juga ikut tertawa.
“Pak, bagaimana ceritanya di bawah? Kapal besar itu bisa tenggelam karena serangan orang orang kita atau karena ada gelombang besar atau karena ledakan?” tanya Vadeo yang belum mendapat informasi penyebab kapal besar tenggelam.
“Tidak tahu saya Tuan. Tahu tahu sudah tidak lagi terdengar suara saling tembak. Haduh Tuan rasa rasanya saya mau pingsan lagi kalau mengingat suara suara itu. Sungguh mencekam. Suara sirine suara tembakan tembakan. Notifikasi di hand phone agar selalu waspada....” ucap Pak Sopir panjang lebar sambil mengurut urut dadanya sendiri sambil memangku koper kecil warna soft pink.
“Apa Alexa sudah meledakkan bom itu ya...” gumam lirih Vadeo dan Bang Bule Vincent bersamaan dan saling pandang.
Akan tetapi tiba tiba hand phone milik Vadeo berdering.
__ADS_1