
“Pak, tahanan yang bebas hari ini sudah keluar belum?” tanya Riris pada petugas penjaga pintu gerbang lapas.
“Ada yang sudah pulang ada yang belum.. apa Nona mau menjemput? Tunjukkan surat nya.” Ucap petugas pintu gerbang itu. Sebab keluarga tahanan sudah di kirim surat elektronik lewat hand phone atau dikirim surat langsung ke rumah.
“Saya akan menjemput tetapi tidak ada surat.” Ucap Riris.
“Siapa nama orang yang akan dijemput?” tanya petugas lapas.
“Justin.” Jawab Riris
“Sudah ada yang menjemput dia.” Ucap petugas pintu gerbang lalu dia sibuk membukakan pintu gerbang untuk mobil mobil dan motor motor yang akan keluar.
“Sial, siapa yang menjemput Justin.” Gumam Riris yang didengar oleh temannya.
“Mungkin keluarga Jonathan atau Wika.” Ucap teman nya Riris itu.
“Sudah ayo pulang ke rumahku besok lagi kita cari Justin.” Ucap teman Riris itu. Akan tetapi sesaat perhatian mereka tertuju pada orang orang yang baru keluar dari gedung lapas. Rombongan itu sangat mencuri perhatian mereka berdua karena ada sepasang pengantin dan pengantin laki laki menggendong seorang anak kecil.
“Justin...” ucap Riris dengan suara gemetar seluruh otot di tubuhnya pun mendadak menjadi lemas tidak ada kekuatan. Riris merangkul temannya untuk meminta kekuatan dan menopang tubuhnya.
“Mereka sudah menikah Ris.” Ucap temannya Riris sambil memeluk tubuh Riris yang lemas bersandar pada dirinya.
“Kita pulang saja, jangan sampai kamu pingsan di sini. Kita susun langkah berikutnya.” Ucap temannya Riris akan tetapi Riris sudah tidak bisa berkata kata. Mata nya terpejam dan air mata nya mengucur deras membasahi wajahnya.
Dua perempuan itu lantas berjalan agak menjauh lalu mereka memesan taxi on line. Tubuh Riris masih terlihat lemas tak berdaya dipapah oleh temannya.
“Kurang ajar Justin benar benar sudah mengkhianati aku. Hiks... Hiks... Hiks... tidak akan aku biarkan perempuan dan tuyul itu merebut kekasih hati ku hiks.. Hiks.... “ ucap Riris yang masih berdiri bersandar pada tubuh temannya.
“Sabar Ris, jangan menangis orang orang melihat kita.” Ucap temannya Riris karena mobil dan motor sudah keluar dari pintu gerbang gedung lapas dan melewati mereka berdua yang masih berdiri menunggu taxi on line.
__ADS_1
Sedangkan keluarga Vadeo terlihat sangat bahagia. Valexa dan Deondria digendong oleh Vadeo di tangan kekarnya kiri dan kanan.
“Katanya sudah besar tidak mau digendong.” Ucap Vadeo sambil mencium pipi Valexa dan Deondria.
“Boy yebih becal juga didendong.. (Boy lebih besar juga digendong).” Ucap Deondria.
“Dia kan belum pernah digendong Papanya.” Ucap Vadeo sambil terus berjalan.
Akan tetapi tiba tiba ....
“Pa, ada Yiyis.. ( Pa ada Riris).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan. Alexandria yang berjalan di samping Vadeo pun terlihat kaget dan langsung memegang lengan atas Vadeo.
“Di mana?” tanya Vadeo dan Alexandria secara bersamaan sambil terus berjalan di belakang kedua mempelai pengantin.
“Di depan tadi cudah liyat Ante Justin.” Ucap Valexa yang kepalanya menoleh ke arah jalan raya.
“Apa dia membahayakan sekarang?” tanya Vadeo dan kedua bocah yang ada di dalam gendongan itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Dia macih cok liyat Ante Justin jadi pengantin .. ( Dia masih syok lihat Uncle Justin jadi pengantin).” Ucap Valexa kemudian.
“Semoga jantungnya berhenti mendadak.” Ucap Vadeo lalu terus berjalan menuju ke arah mobil yang terparkir.
“Justin kamu satu mobil dengan anak istrimu juga Mbok Nah dan Pak No. Langsung ke Mansion. Awas kalau kamu minta berhenti di jalan, tidak akan lagi pintu Mansion Jonathan terbuka buat kamu kalau itu kamu lakukan.” Ucap Vadeo pada Justin. Justin hanya menoleh ke arah Vadeo.
“Boy jaga Papa mu jangan sampai mata nya jelalatan di jalan raya.” Ucap Vadeo sambil tersenyum menatap Boy, yang ekspresi wajahnya masih tampak kaku. Wika pun juga demikian dia pun tidak berani menggandeng tangan Justin. Sesekali Wika malah menggandeng satu tangan mungil Boy yang menggantung.
“Boy bye... bye... campe tetemu di mancen... ( Boy bye.. bye... sampai ketemu di Mansion).” Ucap Valexa dan Deondria sambil melambai lambai tangan mungilnya. Dan Boy pun mengangkat satu tangannya membalas lambaian tangan Twins. Mereka pun berjalan menuju ke mobil masing masing yang akan membawa ke Mansion Jonathan.
Dua mobil itu pelan pelan berjalan meninggalkan halaman gedung lapas. Para pegawai lapas masih berdiri untuk mengantar kepergian mereka. Dan mobil terus berjalan menuju ke Mansion Jonathan.
__ADS_1
Di dalam mobil Justin hanya diam saja. Pandangan matanya tertuju ke arah depan. Boy tidak mau dipangku , dia duduk di tengah di antara Papa dan Mamanya. Boy tampak mendongak melihat wajah Justin dia ingat pesan Tuan Muda Vadeo untuk menjaga agar mata Papa nya tidak jelalatan ke arah jalan raya. Dan beruntung pula sosok Riris sudah tidak ada di sepajang jalan raya.
“Apa lihat lihat?” tanya Justin dengan suara datar. Dan Boy pun mengkeret lalu menundukkan kepalanya.
“Maafkan Boy, Tuan.” Ucap Wika lalu merangkul tubuh mungil Boy. Wika pun masih belum berani m
“Apa dia akan membandingkan wajah ku dengan wajah nya ” gumam Justin lirih.
“Wajah mu tidak ada mirip miripnya dengan aku kenapa uji DNA 99,... % menunjukkan kecocokan.” Gumam Justin lagi.
“Tuan, anak laki laki kebanyakan mirip ibu nya.” Ucap Mbok Nah asal saja agar Justin bisa menerima kenyataan dan Boy tidak menjadi sedih.
“Iya Tuan, Boy anak yang baik, rajin membantu saya.” Ucap Pak No yang duduk di jok belakang di samping Mbok Nah. Dan Justin pun hanya diam saja.
Sementara itu di mansion Jonathan. Para pelayan sudah menyiapkan acara pesta untuk menyambut pengantin baru. Kamar pengantin di siapkan di Mansion keluarga, bukan di dalam Mansion utama. Ixora, Bang Bule Vincent dan Dealova pun sudah berada di ruang keluarga di Mansion utama. Tampak tangan Dealova memegang raket nyamuk.
“Kamu ngapain sih Deal dari tadi membawa raket nyamuk.” Ucap Ixora yang duduk di samping Suaminya.
“Ha... Ha... buat kado pengantin ha.... Ha.....” Jawab Dealova sambil tertawa. Bang Bule Vincent yang mendengar pun langsung tertawa ingat hukuman yang diberikan oleh Tuan William pada Justin.
“Kalau Justin ogah ogah an sama Wika, biar distrum saja itu burung oplasnya.. ha... ha... pasti langsung berdiri tuh burung...” ucap Bang Bule Vincent yang juga ikut tertawa.
“Burung mahal tuh ha... ha... salah sendiri Kak Alexa dilawan burung jadi arang ha... ha... entahlah itu Boy bisa punya adik ga.” Ucap Dealova yang masih tertawa.
Sementara Ixora sedang sibuk dengan hand phone miliknya. Dia yang diserahi oleh Alexandria untuk mempersiapkan acara penyambutan di Mansion.
“Kerabat keluarga Jonathan sudah tiba. Ayo kita ke depan. Kak Deo dan Kak Alexa masih on the way. “ ucap Ixora sambil bangkit berdiri. Namun tiba tiba dia memegang kepalanya.
“Bang kepalaku kok pusing ya...” ucap Ixora sambil meringis dan dahinya tampak mengkerut menahan sakit.
__ADS_1