Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 84. Menuju Rumah Tuan Rangga


__ADS_3

Dan waktu pun terus berlalu. Manuskrip yang dinanti nanti kan sudah tiba di mansion Jonathan. Petugas keamanan yang sudah dipesan oleh Vadeo segera menghubungi Vadeo, mengatakan jika ada kiriman sebuah dokumen penting dari Belanda.


Vadeo yang sedang di ruang kerjanya pun lalu minta izin pada Sang Papa Jo.


“Pa, aku mau pulang sebentar ada hal penting ini menyangkut keselamatan cucu cucu Papa.” Ucap Vadeo sambil menatap wajah Sang Papa sambil menaruh lagi hand phone ke saku jas nya setelah petugas keamanan menghubungi nya.


“Hmmm.. tapi ingat kamu harus ganti dengan kerja lembur.” Ucap Tuan Jonathan tanpa menoleh ke arah Vadeo, Tuan Jonathan masih terlihat sibuk menanda tangani setumpuk berkas berkas.


“Apa Papa tidak ingin cucu laki laki, yang besok akan menemani Papa bermain golf, menemani Papa renang... “ ucap Vadeo sambil tersenyum.


“Sudah sudah sana kamu pergi!” suara Tuan Jonathan sambil mengibas ngibaskan telapak tangannya sebagai kode agar Vadeo segera keluar dari ruang kerja.


“Terima kasih Pa, jika semua sudah beres, Papa boleh menikmati masa pensiun kok.” Ucap Vadeo lalu dia melangkah keluar dari ruang kerja nya.


Vadeo segera melangkah menuju ke lift yang akan membawa dirinya menuju ke tempat parkir mobil yang berada di lantai dasar.


Saat di dalam lift Vadeo mengambil lagi hand phone dari saku jas nya. Vadeo tampak mengusap usap layar hand phone nya.


“Bul, segera ke Mansion Jonathan, manuskrip sudah tiba.” Suara Vadeo setelah Bang Bule Vincent menerima panggilan suara nya.


“Bro, gawat.. ini banyak orang mencari informasi tentang pulau Alexandria.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada khawatir.


“Hmmm berarti yang dikhawatirkan twins benar. Kita harus lebih waspada Bul. Aku harus memerintahkan pengawasan lebih pada orang orang yang berada di pulau Alexandria. “ ucap Vadeo yang kini tiba tiba dahinya sudah muncul keringat meskipun di dalam lift yang ber AC.

__ADS_1


“Kamu segera ke Mansion Jonathan ya, nanti kita bicarakan di sana.” Ucap Vadeo lagi, lalu dia memutus sambungan teleponnya dengan bang Bule Vincent.


TING


Bunyi alarm pertanda lift sudah sampai di lantai yang dituju oleh Vadeo. Vadeo segera melangkah keluar dari pintu lift. Sambil berjalan Vadeo mengusap usap layar hand phone nya lagi.


“Segera ke mobil ku.” Suara Vadeo pada seseorang yang dihubungi nya. Vadeo lalu memutus sambungan teleponnya dan kembali menaruh hand phone nya di dalam saku jas nya.


Beberapa saat kemudian Vadeo sudah berada di tempat mobil nya yang terparkir. Tampak dua orang berdiri di dekat mobil Vadeo. Mereka adalah sopir dan pengawal yang baru saja dihubungi oleh Vadeo. Karena mendengar informasi yang baru saja diterima dari Bang Bule maka untuk keamanan nya Vadeo meminta pengawalan.


Vadeo lalu membuka pintu mobil nya. Dia duduk di jok belakang kemudi. Sopir dan pengawal pun juga segera masuk ke dalam mobil. Mereka berdua duduk di jok depan.


“Ke mansion Jonathan.” Ucap Vadeo. Dan sesaat kemudian mobil berjalan meninggalkan Jonathan Co menuju ke Mansion Jonathan.


Saat masih di dalam perjalanan, Vadeo kembali mengambil hand phone, dia lalu menghubungi Alexandria dan Richardo, memberikan pesan agar mereka lebih waspada terutama dalam menjaga Valexa dan Deondria.


“Berhenti sebentar.” Ucap Vadeo dan pak sopir pun menghentikan laju mobilnya yang sudah pelan pelan. Tampak petugas keamanan berlari menuju ke mobil Vadeo sambil membawa satu buah amplop coklat tebal. Vadeo pun segera menurunkan kaca jendela nya. Dan menerima amplop coklat tebal yang berisi manuskrip kuno yang sudah dibeli dengan harga mahal.


“Jalan.” Perintah Vadeo dan mobil pun kembali berjalan.


Dan tidak lama berselang pintu gerbang kembali terbuka dan mobil Bang Bule Vincent sudah masuk ke halaman mansion Jonathan dan berjalan di belakang mobil Vadeo. Tidak lama kemudian ke dua mobil itu berhenti di dekat teras Mansion utama.


“Bro, lihat aku sudah tidak sabar.” Suara keras Bang Bule Vincent saat sudah keluar dari mobil yang menyusul langkah kaki Vadeo yang berjalan menuju ke anak tangga teras.

__ADS_1


“Meskipun lihat berkali kali juga tidak akan bisa mengerti.” Suara Vadeo sambil menaiki anak tangga teras, tangan nya memegang erat amplop tebal yang berisi manuskrip kuno itu.


“Sekarang kamu telpon Tuan Rangga, buat janjian kita ke sana. Kita berdua yang akan mendampingi Tuan Rangga itu. Aku yang membukakan lembar lembar manuskrip ini dan kamu yang mengetik setiap apa yang diucapkan oleh Tuan Rangga. “ ucap Vadeo sambil membuka kunci pintu utama Mansion.


“Iya iya ..” ucap Bang Bule Vincent. Dan kedua laki laki muda nan tampan dan keren itu melangkah masuk ke dalam Mansion.


Setelah duduk di kursi tamu, Vadeo membuka pelan pelan amplop pembungkus manuskrip itu. Tampak ada plastik tebal pelindung manuskrip kuno yang tampak kertasnya berwarna kecoklat coklatan karena di makan usia.


Vadeo dengan hati hati membuka buka lembar lembar kertas tua itu setelah sudah membuka plastik tebal pelindung. Sedangkan Bang Bule Vincent terlihat sedang menghubungi Tuan Rangga.


“Kamu bolak balik berkali kamu juga tidak akan bisa mengerti isi di dalam manuskrip itu.” Ucap Bang Bule Vincent setelah selesai menghubungi Tuan Rangga.


“Aku buka buka siapa tahu ada gambar nya.” Ucap Vadeo yang masih saja membuka buka lembar lembar manuskrip kuno itu.


“Hahaha ha.... ha.... kamu jadi seperti anak anak yang belum bisa baca mendapat sebuah buku, uang dicari gambar gambar.” Ucap Bang Bule Vincent sambil tertawa.


“Apa ada cerita tentang ular besar di manuskrip ini ya...” gumam Vadeo yang masih saja membuka buka manuskrip mencari cari kalau kalau ada gambar ular besar di dalam manuskrip itu.


“Ayo Bro berangkat sekarang. Tuan Rangga bisa sekarang.” Ucap Bang Bule Vincent sambil bangkit berdiri. Vadeo pun menutup manuskrip kuno itu dan juga turut bangkit berdiri.


“Apa perlu aku beri Dokter khusus pada Tuan Rangga agar dia selalu sehat sampai selesai menerjemahkan manuskrip ini.” Ucap Vadeo sambil melangkah di samping Bang Bule Vincent. Vadeo khawatir jika pekerjaan Tuan Rangga terhenti karena kesehatan nya atau keburu tutup usia sebelum seluruh isi dari manuskrip itu selesai diterjemahkan.


“Kita lihat nanti kondisi dan keadaan beliau.” Ucap Bang Bule Vincent. Dan mereka berdua melangkah dengan cepat menuju ke mobil.

__ADS_1


“Bul, pakai mobil ku dan dengan pengawal aku khawatir orang orang juga mengincar manuskrip ini kalau mereka sudah mulai mencari tahu tentang pulau Alexandria. “ ucap Vadeo sambil berjalan menuju ke mobil nya. Sang pengawal Vadeo pun sudah tampak siap berdiri di dekat mobil.


...


__ADS_2