
“Okey silakan datang, apa kamu sudah menunjuk siapa yang akan menggantikan kamu untuk mengawal Twins dan Boy.” Ucap Vadeo dengan nada serius.
“Nona Eveline, Tuan. Kemarin saya sudah tanya pada Nona Twins mereka berdua setuju.” Suara Richardo di balik hand phone milik Vadeo.
“Okey kalau Twins mau ditemani Eveline kamu fokus mengikuti jalannya sidang Mr Le dan Riris. Laporkan terus perkembangannya pada aku.” Ucap Vadeo dan setelah Richardo menyanggupi Vadeo pun memutus sambungan teleponnya.
“Aku berharap laki laki psikopat itu dihukum seberat beratnya. Sepertinya dia akan kena pasal berlapis.” Ucap Vadeo sambil kembali membaringkan tubuhnya di samping Alexandria. Mereka berdua sudah mendapat berita dari Bang Bule Vincent dan Richardo tentang kejahatan Mr Le.
“Aku sebagai sesama perempuan sebenarnya kasihan dengan Riris dan perempuan perempuan yang mendapat perlakuan kasar dari Mr Le. Cuma dengar dari ceritanya saja ngeri Pa. Merinding...” ucap Alexandria ingat cerita dari Bang Bule Vincent yang mendapatkan Riris disiksa di kamar apartemen sebelum Mr Le melakukan hasrat seksualnya.
“Semoga saja kejadian itu bisa menyadarkan Riris dan menjadi jera. Tapi bagaimana pun dia sudah punya niat untuk membunuh Boy dan Wika, semoga dia juga mendapatkan hukuman yang selayaknya.” Ucap Vadeo dengan nada serius.
“Sudah Ma lupakan mereka biar pak hakim dan pak jaksa yang mengurus mereka.” Ucap Vadeo yang tangannya kembali mengusap usap perut Alexandria.
“Pak pengacara juga Pa..” ucap Alexandria sambil tersenyum yang kini sudah tidak memunggungi suaminya.
“Iya pokoknya mereka semua.. dan aku sekarang akan mengunjungi Raja dan Asasta..” ucap Vadeo dsn kini sudah tidak sabar karena kegiatan enak enaknya yang sudah tertunda. Vadeo pun mulai melanjutkan menciumi wajah Alexandria dan jari jarinya bergerilya mencari cari bagian tubuh Alexandria yang menjadi favoritnya.
Masih di Mansion Jonathan akan tetapi di Mansion Keluarga tepatnya di kamar pengantin. Terjadi sedikit kehebohan. Hingga jam dua belas malam Boy belum juga tidur. Dia masih saja matanya berkedip kedip meskipun sudah berbaring di atas tempat tidur dan sudah dibobok bobok oleh Wika.
“Boy kok belum bobok, sudah malam. Besok kamu kan sekolah bersama Twins.” Ucap Wika sambil menepuk nepuk pantat Boy.
“Ga bisa tidur Ma..” ucap Boy sambil menatap wajah Mamanya.
“Kenapa?” tanya Wika
__ADS_1
“Aku kenapa kalau pagi hari jadi berada di kamar Nanny?” tanya Boy karena Justin selalu menelepon pengasuh Boy jika dia akan enak enakan dengan Wika. Dan Boy dibawa pindah ke kamar sebelah dan tidak sempat lagi untuk di pindah ke kamar pengantin.
“Padahal kan aku tidur bersama Mama dan Papa di sini. Siapa yang memindah aku?” tanya Boy lagi.
“Pagi pagi diambil Nanny kan biar ga kesiangan kamu ke sekolah takutnya Papa dan Mama masih tidur dan tidak bisa membangunkan kamu.” Ucap Wika berkilah
“Ihhh Mama kok jadi malas di sini. Waktu di Nenek Rina kan Mama bangun di saat hari masih gelap. Jangan malas bangun pagi Ma, nanti rejeki nya lari...” ucap Boy sambil masih menatap wajah Sang Mama dengan tangan mungilnya memeluk tubuh Mamanya.
“Iya.. ya sudah besok Mama bangun pagi pagi membangunkan Boy. Sekarang Boy bobok.“ ucap Wika agar Boy bisa segera tidur.
Justin yang masih menikmati kopi sambil duduk di sofa mulai gelisah mendengar suara anak istrinya
“Hmmm apa gagal malam ini. Aku sudah minum kopi banyak biar tahan sampai pagi.” Ucap Justin yang sudah mulai kecanduan dengan tubuh dan layanan dari Wika yang berpaket paket.
Justin pun lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat tidur.
“Iya Papa...” ucap Boy lalu dia segera memejamkan matanya. Bagai mana pun Boy masih ada rasa takut pada Justin maka dia akan menuruti apa mau Sang Papa, agar Sang Papa tidak marah dan menyayangi dirinya.
Beberapa menit kemudian.
“Sudah tidur dia, kamu telepon Nanny sekarang..” ucap Justin pada Wika.
“Tunggu sebentar Pa, sepertinya Boy belum nyenyak.” Ucap Wika yang sudah sangat hafal dengan bahasa tubuh anaknya.
“Mata dia sudah terpejam sejak tadi dia juga diam saja.” Ucap Justin sambil menepuk nepuk paha Boy.
__ADS_1
“Benar, dia sudah tidur. Cepat kamu telepon Nanny kalau Nanny sudah tidur dan susah ditelepon tambah repot.” Ucap Justin yang masih menepuk nepuk paha Boy. Wika pun bangkit dari tidurnya lalu melangkah menuju ke nakas tempat pesawat telepon berada. Wika pun segera menelepon pengasuh Boy akan datang segera ke kamar pengantin.
Sementara itu Boy yang hanya pura pura tidur mendengarkan semua ucapan Mama dan Papa nya.
“Ooooh apa Nanny dipanggil biar membantu membuat adik. Kenapa mereka menunggu aku tidur. Aku juga mau kok membantu membuat adik.” Gumam Boy dalam hati sambil masih memejamkan mata nya. Boy masih pura pura tidur dia ingin tahu bagaimana Papa nya membuat adik.
Sesaat kemudian ...
TOK TOK TOK
Terdengar suara ketukan pintu tiga kali dengan suara yang sangat pelan. Akan tetapi tiga orang yang berada di dalam kamar itu semua mendengarnya termasuk Boy yang masih memejamkan matanya pura pura tidur.
Wika pun segera berjalan untuk membukakan pintu.
“Kok sampai malam sekali Nyonya?” tanya pengasuh Boy sambil melangkah masuk untuk mengambil Boy.
“Iya baru saja tidur dia, hati hati jangan sampai terbangun.” Ucap Wika yang juga berjalan menuju ke tempat tidur. Dan selanjutnya sang pengasuh yang sudah menggendong tubuh mungil Boy itu segera berjalan menuju ke pintu. Saat Wika membantu membukakan pintu. Boy membukakan matanya.
“Mama aku mau dibawa ke mana aku mau tidur sama Mama dan Papa, sepuluh hari Ma.. belum ada sepuluh hari.” Ucap Boy yang kini menegakkan kepalanya dengan nada dan ekspresi wajah yang memelas. Dan Wika pun hanya tersenyum sambil mengambil tubuh mungil Boy lalu digendong dan dipeluk dengan erat.
“Iya Sayang...” bisik lirih Wika.
“Kalau Papa mau buat adik aku mau kok membantu.” Ucap Boy agak keras agar Papa Justin mendengar. Sang pengasuh yang masih berdiri di dekat mereka pun tertawa terkekeh kekeh.
“Tuan Kecil mari kita bantu dengan tidur nyenyak di kamar Nanny..” ucap Sang pengasuh di sela sela tawanya.
__ADS_1
“Sudah Nanny kembali ke kamar saja, nanti Boy tidak tidur tidur besok ngantuk saat sekolah.” Ucap Wika dan selanjutnya sang pengasuh pun segera kembali ke kamarnya dan Wika kembali menidurkan Boy di tempat tidur. Dan mengatakan kalau mereka bertiga tidur bersama hingga esok pagi. Boy pun memeluk erat tubuh Sang Mama.
Sedangkan Justin wajahnya tampak sangat kecewa.