Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 37. Pembicaraan Serius si Kembar?


__ADS_3

Sementara itu Valexa dan Deondria yang sudah keluar dari pintu utama Mansion langsung berlari menuju ke mobil yang sudah terbuka lebar pintu nya.


Tampak Richardo masih memeriksa dengan teliti dan detail di setiap sudut mobil. Pak Sopir senior terlihat heran dengan apa yang dilakukan oleh Richardo.


“Ceyamat padi Om Yicado tan Pak coping ceniyongggggg....” teriak Valexa dan Deondria dengan nada suara ceria dan segera menghambur masuk ke dalam mobil. Pak sopir senior pun segera membalas sapaan mereka berdua.


Richardo yang masih memeriksa mobil pun tampak kaget saat kedua bocah itu sudah masuk ke dalam mobil.


“Nona, saya belum selesai memeriksa mobil.” Ucap Richardo sambil menatap dua bocah yang sudah mendudukkan pantat nya di dalam jok mobil, dari balik kaca bagian belakang mobil. Sebab Richardo masih memeriksa bagasi mobil.”


“Aman, ayo Om Yicado macuk...” ucap Valexa sambil menoleh menatap Richardo yang masih berdiri di belakang mobil. Richardo pun segera menutup pintu bagasi mobil itu karena dia pun melihat mobil dalam kondisi aman.


Richardo lalu berjalan menuju ke pintu belakang kemudi dan dia segera masuk ke dalam mobil. Seperti kemarin Valexa dan Deondria minta Richardo duduk di tengah tengah mereka berdua.


Setelah Pak Sopir senior menutup semua pintu dan jendela mobil dengan sempurna, mobil berjalan pelan pelan meninggalkan Mansion Jonathan.


“Pak coping apa yan tejadi tadi mayam di yuang dayaci?” tanya Deondria sambil menatap Pak sopir dari belakang saat mobil sudah keluar dari Mansion Jonathan.


“Ooo sopir baru itu katanya dompet nya tertinggal di dalam mobil dan di dompet nya ada obat sakit kepala yang dia butuhkan karena dia sedang sakit kepalanya.” Jawab Pak Sopir senior masih terus fokus mengemudikan mobil.


“Apa Pak coping tahu talo dia anya boong.” Ucap Valexa sambil menyandarkan tubuh mungilnya pada tubuh Richardo dengan nyaman.

__ADS_1


“Awalnya tidak tahu Nona. Tapi baru saja dikabari oleh Ibu kepala pelayan katanya dompet itu berada di dalam kamar Neng Atikah.” Jawab Pak Sopir senior yang sudah mendapat pesan chat dari Ibu kepala pelayan jika dompet Atikah sudah ketemu berada di dalam tas yang ada di kamar Atikah.


“Pak coping ceniyong dangan mau yagi detat detat cama dia..” ucap Valexa selanjutnya


“Tayo ngeyeng atu pecat!” Teriak Deondria dengan lantang sambil mendorong tubuh saudara kembar nya yang masih menempel dengan nyaman di tubuh Richardo.


“Tamu tenapa cih doyong doyong atu!” Teriak Valexa dengan membalas mendorong tubuh Deondria.


Sedangkan Pak Sopir senior mengiyakan sambil menganggukkan kepala nya. Sementara Richardo berusaha melerai aksi Valexa dan Deondria yang masih saling dorong itu.


“Nona kalau ribut terus begini saya akan mengundurkan diri menjadi pengawal Nona Nona.” Ucap Richardo dengan pelan.


“Dangggaaaaan.” Teriak mereka berdua yang seketika berhenti adegan saling dorong nya lalu mereka berdua memeluk lengan Richardo. Valexa memeluk lengan kanan Richardo dan Deondria memeluk lengan kiri Richardo. Richardo pun tersenyum gemas pada Nona Nona kecil itu.


Dan waktu terus berlalu, Valexa dan Deondria masuk ke dalam kelas dan mengikuti semua jadwal kegiatan di kelas tanpa menimbulkan masalah. Sementara Richardo menjalankan perintah dari Vadeo untuk bertanya tanya pada Pak Sopir senior. Dan hasil nya Pak Sopir senior tampak masih jujur dan tidak ada indikasi bekerja sama dengan sopir baru ataupun ada hubungan khusus.


Dan waktu belajar Valexa dan Deondria pun sudah usai. Seperti kemarin Richardo segera menjemput mereka berdua di depan kelas. Kali ini tidak ada lagi Ibu Guru yang ikut keluar dari pintu kelas. Sebab Ibu Guru itu dilarang oleh Valexa dan Deondria untuk mengikuti diri mereka.


“Om tita te yumah Ante Pin ya... “ ucap mereka berdua saat berjalan menuju ke mobil.


“Bukan nya kita harus pulang dulu ke Mansion. Nona Nona harus ganti baju dulu dan beristirahat. Kan hari ini juga bukan jadwal latihan.” Ucap Richardo sambil berjalan kedua tangannya menggandeng Valexa dan Deondria di kiri dan kanan.

__ADS_1


“Ya cudah.. puyang danti badu abis itu yancung te yumah Ante Pin. Ada yan penting.” Ucap Deondria sambil mendongak menatap wajah Richardo.


“Penting apa sih?” tanya Richardo sambil menunduk menatap mereka.


“Yahacia ha... ha... ha...” jawab mereka berdua sambil berlari masuk ke dalam mobil yang pintu nya sudah terbuka lebar. Dan mereka berdua langsung menutup pintu mobil itu dengan keras sementara Richardo belum masuk ke dalam mobil.


Deondria lalu menurunkan kaca jendela mobil.


“Om Yicado dudu di depan!” teriak Deondria lalu menurunkan kaca jendela mobil.


“Tumben.” Gumam Richardo dan pak sopir senior dalam hati.


“Atu tan Aya mau bicaya ceyius.” Ucap Deondria yang bisa mendengar gumaman Pak Sopir senior dan Richardo mesti mereka berdua bergumam di dalam hati.


Mobil pun lalu berjalan setelah Richardo duduk di jok samping kemudi dan pintu sudah ditutup dengan sempurna. Mobil terus berjalan meninggalkan lokasi play group. Richardo dan Pak Sopir senior memasang telinga nya untuk mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Valexa dan Deondria. Akan tetapi hingga mobil berjalan jauh dan hampir sampai di lokasi mansion Jonathan mereka berdua tidak mendengarkan sepatah kata pun dari mulut Valexa dan Deondria. Richardo yang sesekali menoleh ke arah belakang hanya melihat jika dua bocah itu terlihat saling pandang dengan ekspresi wajah yang tampak serius. Dan sesekali dua bocah itu mengangguk angguk kan kepala nya.


“Hmmm apa mereka berbicara dalam hati dan hanya mereka berdua yang mendengar.” Gumam Richardo dalam hati lalu dia pun kembali menghadap ke depan. Sedangkan Valexa dan Deondria tampak tidak begitu memedulikan Richardo dan Pak Sopir senior yang masih kepo pada mereka berdua.


Mobil pun terus melaju menuju ke mansion Jonathan. Dan tidak lama kemudian mobil sudah masuk ke dalam halaman Mansion Jonathan. Saat mobil sudah berhenti di dekat pintu utama Mansion tanpa menunggu Pak sopir senior atau pun Richardo membukakan pintu mobil. Valexa dan Deondria segera membuka pintu mobil itu dan segera turun dan berlari menuju ke pintu utama Mansion. Richardo pun ikut melangkah dengan cepat mengikuti langkah kaki kaki kecil yang berlarian itu.


“Om Yicado tunduu ya... “ ucap mereka berdua saat pintu utama Mansion sudah dibukakan oleh salah seorang pelayan. Mereka berdua pun segera berjalan menuju ke arah kamar mereka. Mereka sudah dipesan oleh Sang Mama siapa siapa saja yang boleh mengganti baju mereka berdua. Dan meskipun Richardo pengawal mereka berdua dan menjaga mereka berdua sajak bayi namun Alexandria tidak memperbolehkan kedua anak nya itu minta digantikan baju oleh Richardo.

__ADS_1


Sementara Valexa dan Deondria menuju ke kamar mereka. Richardo berjalan menuju ke ruang keluarga dan dia duduk di sofa yang berada di ruang keluarga itu. Saat Richardo masih berpikir pikir penasaran apa yang dibicarakan oleh si kembar di dalam hati mereka yang kata nya serius. Tiba tiba di ruang keluarga itu ada seseorang yang datang menuju ke arah tempat duduk nya.


....


__ADS_2