Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 15. Tembakan Rahasia di Ruang Rahasia


__ADS_3

“Mau kerja apa Sayang?” tanya Ixora sambil menoel noel gemas pipi pipi kedua ponakan nya itu.


“Enti Icoya atu boyeh macuk yuang keja enti Icoya....?” tanya Valexa sambil tersenyum manis menatap Ixora.


“Sayang di dalam banyak bahan bahan yang membahayakan kita. Kita harus pakai pelindung dan tidak ada pelindung yang ukuran kecil buat anak anak.” Jawab Ixora dengan lembut sambil menatap wajah Valexa dan Deondria.


“Pa beyiin peyindung buat atu tan Aca.” Ucap Deondria sambil menatap wajah Sang Papa.


“Tak ada yang jual, harus pesan.” Ucap Vadeo dengan nada datar. Hati dia masih ragu ragu untuk memasukkan kedua anak nya di dunia Bang Bule dan Ixora. Dunia yang berurusan dengan segala macam senjata dan mengejar ngejar penjahat.


“Bro kita ajak anak anak keliling ruangan ini.” Ucap Bang Bule sambil menatap Vadeo.


“Ayo ikut Beb..” ucap Bang Bule menoleh pada Ixora isterinya sambil salah satu tangannya menggandeng tangan Ixora.


“Ayo Pa.. ayo Pa...” teriak Deondria yang meronta ronta di gendongan Vadeo karena sudah tidak sabar untuk melihat lihat ruang rahasia itu.


Tiga orang dewasa itu pun lalu kakinya melangkah berkeliling di dalam ruang rahasia itu. Valexa dan Deondria yang masih terus di dalam gendongan terlihat banyak menanyakan ini dan itu. Bang Bule dan Ixora memberi tahu pada Valexa dan Deondria alat alat mana yang boleh dipegang dan mana yang tidak boleh mereka pegang tanpa ada pendampingan dari Bang Bule dan Ixora. Mereka pun diberi tahu akibat nya jika melanggar. Kedua anak itu tampak bisa memahami apa yang Bang Bule dan Ixora sampaikan.


“Sudah ayo pulang, Papa lapar..” ucap Vadeo. Ixora pun menawarkan untuk makan siang bersama.


Mereka lalu berjalan untuk keluar dari ruang bawah tanah itu. Di saat mereka sudah mendekati anak tangga dan lampu ruang bawah tanah belum dipadamkan.


“Aca, Aya coba lihat jika kamu ingin suatu bukti jika ruangan ini sangat berbahaya jika kalian datang tanpa izin dan didampingi.” Ucap Bang Bule lalu dia melepas satu buah sepatu nya dan dia lemparkan sepatu itu tepat mengenai salah satu lantai anak tangga.


Suara gema sepatu yang mengenai lantai anak tangga itu pun terdengar. Dan tidak lama kemudian terdengar


DORRR

__ADS_1


Suara sebuah tembakan dari atas tepat mengenai sepatu itu. Dan suara gema dari tembakan itu pun terdengar.


Valexa dan Deondria tampak kaget namun juga kepo.


“Keyennn ciapa yan menyembak?” tanya Valexa sambil menatap Bang Bule


“Nama nya juga ruang rahasia ha... ha...” jawab Bang Bule sambil mencium wajah Valexa.


“Tahu kan kalian kenapa tidak boleh datang sendiri di ruang ini.” Ucap Vadeo dengan serius tampak Valexa dan Deondria mengangguk paham.


Sementara itu di lain tempat, di sore hari Amelia sudah berhasil mendapatkan kartu identitas palsu meskipun masih baru kartu identitas sementara. Amelia berubah nama menjadi Atikah. Amelia yang sudah menjadi Atikah pun sudah dengan penampilan sebagai seorang gadis desa yang sederhana.


Kini dia bersama Zulfa melangkah dari rumah Pak er Te menuju ke kost nya. Teman teman kost Zulfa tidak begitu memedulikan kedatangan tamu Zulfa apalagi saat itu kedatangan Amelia malam hari di saat mereka sudah masuk ke dalam kamar mereka masing masing.


Zulfa dan Atikah yang sudah sampai di tempat kost nya itu segera masuk ke dalam kamar.


“Apa kamu yakin mereka akan menerima kamu?” Tanya Zulfa sambil merebahkan tubuhnya di salah satu tempat tidur di kamarnya itu. Di kamar itu memang ada dua tempat tidur sehingga Atikah bisa tidur di tempat tidur yang lain nya.


“Hmmm pakai cara dong... Kamu tenang saja... Aku akan bayar semua keperluan hidup mu jika usahaku sukses.” Ucap Atikah yang selanjutnya dia pun juga akan membaringkan tubuh nya di tempat tidur satu nya.


Akan tetapi belum dia meletakkan punggungnya di kasur, dia bangkit lagi dan selanjutnya berjalan menuju ke meja di mana tas nya dia taruh di situ. Atikah segera membuka tas dan mengambil hand phone nya. Zulfa yang membaringkan tubuhnya di tempat tidur karena merasa capek tadi setelah pulang kerja langsung diajak Atikah ke rumah Pak er Te. Kini hanya menatap teman nya itu.


Terlihat Atikah masih berdiri sambil mengusap usap layar hand phone nya, untuk melakukan panggilan video pada Richie.


Dan beberapa saat kemudian sambungan telepon sudah terhubung. Tampak di layar hand phone Atikah menampilkan wajah Richie yang mengernyitkan dahi.


“Rich.. Kamu masih mengenali aku tidak?” suara Atikah karena Richie masih saja diam dan mengernyitkan dahi.

__ADS_1


“Hmmm Amel... perubahan yang maksimal seratus delapan puluh derajat ...” ucap Richie dengan ekspresi wajah senang dan puas dengan penampilan baru Amelia.


“Panggil aku Atikah.” Ucap Atikah sambil tersenyum lebar.


“Okey Atikah segera laksanakan tugasmu dan bawa segera dua anak itu ke hadapanku.” Ucap Richie sambil tersenyum licik.


“Rich aku butuh uang lagi, bukan masalah mudah untuk mengubah jati diri. Perlu banyak uang pelicin agar usaha kita berhasil.” Ucap Atikah dengan nada serius dia akan meminta uang pada Richie lagi.


“Oh... Aku paham tidak masalah dengan jumlah uang untuk memperlancar urusan yang penting aku bisa mendapatkan dua anak manis itu ha... ha...ha....” suara Richie dengan tawa bahagia nya...


“Aku tidak mau menunggu lama, segera transfer ke rekening ku.” Ucap Atikah lalu dia memutus sambungan teleponnya dengan Richie.


Atikah masih memegang hand phone nya lalu berjalan menuju ke tempat pembaringan Zulfa. Atikah pun lalu duduk di tepi tempat tidur Zulfa.


“Kamu lihat sendiri nanti Zul, bagaimana cepat nya aku untuk mendapatkan uang.” Ucap Atikah kemudian sambil menatap wajah Zulfa.


“Apa kamu tidak takut jika dilaporkan karena membuat identitas palsu dan berbuat kejahatan?” tanya Zulfa dengan lugu


“Zulfa ... Zulfa.. semua pakai strategi dan cara pokoknya kamu tenang saja yang penting simpan rahasia ini.” Ucap Atikah sambil menepuk nepuk paha Zulfa. Dan tidak lama kemudian terdengar bunyi notifikasi di hand phone Atikah. Atikah pun tersenyum sebab itu notifikasi transfer an masuk ke rekening nya, dengan segera dia mengusap usap layar hand phone nya.


“Kau lihat ini.” Ucap Atikah sambil menunjukkan deretan angka fantastis kiriman dari Richie. Mata Zulfa yang melihat angka transfer an itu pun melotot kaget.


“Kamu percaya kan, kalau kamu tetap tutup mulut aku bisa membelikan rumah buat kamu. Akan tetapi kita tetap kost di sini dulu. Sampai semua urusan beres dan tidak meninggalkan jejak.” Ucap Atikah sambil tersenyum licik, sedangkan Zulfa tersenyum bahagia dengan mata berbinar binar membayangkan mendapatkan rumah sendiri dan tidak lagi tinggal di rumah kost.


“Beliin aku mobil juga ya..” ucap Zulfa sambil tersenyum lebar. Atikah hanya diam saja pandangan mata nya menerawang jauh dan bibir nya tersenyum.


“Aku sudah tidak sabar menunggu esok hari dan pergi ke mansion Jonathan.” Ucap Atikah dengan senyuman di bibir nya.

__ADS_1


__ADS_2