
“Boy, tenapa kamu menangis?” Valexa menoleh ke arah Boy.
“Tuan Vadeo... hiks hiks....” jawab Boy sambil menutup wajahnya dengan lengannya.
“Heii kamu kenapa menangis. Sakit aku ambil rambut mu? Hmmm.” Ucap Vadeo tampak kaget lalu mengusap usap kepala Boy bekas dia mengambil rambut. Dan Boy menggeleng gelengkan kepalanya.
Valexa dan Deondria tampak menatap Boy.
“Papa tidak mayah te kamu Boy... (Papa tidak marah ke kamu Boy).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan sebab mereka berdua setelah menatap Boy jadi tahu jika menangisnya Boy karena takut pada Sang Papa Vadeo.
“Papa ambik yambutmu untuk diyiat Enti Icoya. Bial nanti kamu tahu Papa mu.. (Papa ambil rambut mu untuk dilihat Aunty Ixora. Biar nanti kamu tahu Papa mu..).” Ucap Deondria sambil serius menatap Boy dan mendengar kata Papa, Boy langsung membuka lengan yang tadi digunakan untuk menutup mukanya.
“Tuan Vadeo tidak menghukum aku? Tuan mau mencarikan Papa aku?” tanya Boy sambil menatap Vadeo lalu beralih menatap pada Valexa dan Deondria. Boy mengira Vadeo marah pada dirinya. Sebab di sekolah ibu gurunya sering menghukum anak anak murid dengan mencabut rambut kepala.
“Aku tidak marah Boy.” Ucap Vadeo sambil mengusap usap puncak kepala Boy. Vadeo yang jarang ketemu Boy tidak mengira jika anak itu sangat kecil hatinya.
“Kenapa sangat berbeda dengan sikap Justin ya.. juga dengan sikap Wika yang dulu sangat judes.” Gumam Vadeo dalam hati sambil masih mengusap usap puncak kepala Boy.
Sesaat pintu sudah terbuka. Alexandria pun sudah berdiri di dekatnya. Tampak Alexandria mencubit pinggang Vadeo karena sudah menyebabkan Boy menangis.
Wika, pak sopir dan Richardo yang membawa kotak kotak makan dibawa langsung ke belakang lewat pintu samping.
“Cucu cucu Nenek kenapa datang tidak kabar kabar dulu... Nenek kan tidak siap siap makanan buat kalian.” Ucap Ibu Rina sambil menciumi pipi Valexa dan Deondria
__ADS_1
“Mama cudah bawa Nek.. tita makan belcama di cini cama Boy juga...” ucap Deondria dan Valexa pun menarik tangan Boy agar mendekat pada mereka.
Setelah Vadeo dan Alexandria memberi salam, mereka semua masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke ruang makan. Vadeo sebelumnya meminta plastik untuk menaruh rambut Boy, dan selanjutnya diberi label nama. Lalu dua plastik diberikan pada Richardo agar segera diantar ke tempat Ixora.
“Wik, Boy lebih baik sekolah di Qualty School, satu komplek sekolahan dengan Twins.” Ucap Alexandria setelah mereka selesai makan malam.
“Saya tidak cukup uang untuk menyekolahkan Boy ke sana Nyonya. Bermimpi pun tidak untuk menyekolahkan Boy di sana.” Ucap Wika yang sudah tahu sekolah tempat Twins adalah sekolah elite dengan biaya tinggi. Apalagi kondisi Boy yang tidak punya Papa, tidak punya rumah pasti akan semakin menjadi bahan perundungan dan semakin rendah diri. Wika juga khawatir jika Boy akan melakukan bunuh diri karena sering dibully.
“Kami yang biayai sekolah Boy dan segala keperluan Boy, termasuk antar jemput buat Boy.” Ucap Alexandria sambil menatap Boy yang kini matanya berbinar binar.
“Nyonya Alexa itu sangat berlebihan buat kami. Kami hanya ingin pengakuan dari Tuan Justin agar Boy ada data nama orang tua lengkap.” Ucap Wika tampak kaget dengan fasilitas yang akan diberikan oleh Alexandria pada Boy.
“Kalau benar Boy memang anak Justin. Kalian harus bersatu. Memulai kehidupan baru.” Saut Vadeo
“Masalahnya Riris tidak suka kalian bersatu. Dan sangat membahayakan buat Boy, maka Boy harus kami lindungi dulu.” Ucap Alexandria sambil menatap Wika dan Wika terlihat kaget.
“Tidak bisa. Aku akan paksa Justin untuk menikahi kamu, kasihan Boy.” Saut Vadeo sambil menatap Boy yang masih terlihat bingung.
“Secepatnya Ixora akan melakukan test DNA pada Boy dan Justin.” Ucap Vadeo selanjutnya.
Tampak Valexa dan Deondria yang duduk mengapit Boy tersenyum menatap Boy. Lalu kedua bocah itu pun merangkul Boy. Sedangkan Boy hanya tertunduk kepalanya.
“Papa Justin.” Gumam Boy lirih sebab ingat saat Deondria mengucapkan tadi akan tahu siapa Papa nya. Valexa dan Deondria pun mengangguk anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Sementara itu ekspresi wajah Wika justru terlihat panik. Dia meremass remass tangannya sendiri.
“Bagaimana jika ternyata Boy bukan anak Tuan Justin. Bagaimana jika Boy ternyata DNA nya tidak cocok dengan Tuan Justin.” Gumam Wika dalam hati sebab dia juga melakukan hubungan badan dengan Dino dan juga pak satpam sebelum tahu dirinya hamil.
“Tuan, bagaimana jika dibatalkan saja test DNA nya.” Ucap Wika tampak takut takut. Semua pandangan tertuju kepada dirinya. Termasuk Boy.
“Kenapa kamu takut akan hasilnya?” tanya Vadeo menebak nebak sebab Justin sudah mengatakan kalau Wika melakukan dengan laki laki lain
“Kalau tidak dilakukan uji DNA tidak akan kamu ketahui siapa Papa nya Boy.” Ucap Vadeo selanjutnya. Wika ekspresi wajahnya masih terlihat cemas sambil menatap wajah Boy yang kini kembali tampak bingung yang juga menatap Wika.
“Kenapa wajah Boy sangat mirip aku dan tidak ada miripnya dengan Tuan Justin.” Gumam Wika dalam hati sambil terus menatap wajah Boy, yang sangat mirip dengan dirinya apalagi saat ini kedua wajah yang mirip itu sama sama cemas dan bingung.
“Makanya kamu itu jangan melakukan dengan banyak orang, akhirnya bingung siapa Papa nya Boy.” Gumam Vadeo lirih namun suaranya terdengar oleh semua orang di tempat itu. Alexandria yang duduk di dekatnya langsung mencubit kecil pinggang Vadeo.
Dan sesaat kemudian wajah Boy tampak memerah dan matanya pun mulai memerah dan akhirnya...
“Hiks... hiks... hiks....” suara isak tangis Boy dan menundukkan kepalanya sambil kembali menutup wajahnya dengan lengannya.
“Papa buwat Boy menangis lagi....” teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan.
“Kok aku?” tanya Vadeo sambil menatap ketiga bocah kecil itu. Vadeo tidak sadar jika kata katanya sudah membuat Boy yang sangat sensitif perihal Papa nya karena sering mendapat bullyan dari teman temannya dan orang tua teman temannya menjadi sedih dan harapan nya mempunyai Papa Justin hilang. Dia sudah senang jika mendapat Papa Justin sebab juga memiliki Opa Jonathan yang sama dengan dengan Opa nya Twins
“Papa kurang sensitif dalam hal ini.” Bisik lirih Alexandria pada Vadeo.
__ADS_1
“Aku kan bicara kenyataan Ma.” Bisik lirih Vadeo juga agar tidak didengar oleh Boy.
“Hmmm Boy butuh psikolog. Harus segera diselamatkan. Apalagi Riris akan berbuat jahat pada nya. Kasihan anak itu...” Gumam Vadeo dalam hati setelah mengetahui kondisi mental Boy.