
“Justin, kamu kalau tidak menurut pada perkataanku mau menurut pada siapa? Di saat kamu masuk penjara aku yang masih menganggap kamu sebagai anakku meskipun kamu adalah keponakan yang sangat durhaka.”
“Iya Pa Jo...” ucap Justin lirih.
“Ingat kamu sudah berjanji pada aku kalau akan merubah sikap hidup kamu. Mulai hidup dengan benar menjauhi orang orang yang memberikan pengaruh jelek.” suara Tuan Jonathan penuh dengan penekanan
“Iya Pa..” ucap Justin
“Kalau kamu mengulangi lagi kesalahan membuat keluarga Jonathan bermasalah akibat perbuatan kamu. Aku sudah tidak sudi lagi menganggap kamu sebagai keluarga Jonathan. Ingat itu!” suara Tuan Jonathan lagi dengan tegas dan keras
“Iya Pa..” ucap Justin tampak ekspresi wajahnya sangat serius
“Jangan iya iya saja.. Tapi sudah harus mulai kamu lakukan. Sayangi dengan tulus Boy dan Wika. Ingat Boy itu darah daging kamu. Kamu yang hanya keponakan ku saja sudah aku anggap kamu sebagai anakku sendiri. Kamu berbuat jahat pada keluargaku aku maafkan kamu.” Suara Tuan Jonathan lagi. Tampak Justin menatap Boy, tIba tiba Justin menjadi terharu pada nasib Boy yang selama ini begitu merindukan pengakuan dari dirinya. Tampak kedua mata Justin pun memerah dan tidak lama kemudian muncul genangan air di sana.
“Boy.. anakku sini Boy.....” ucap Justin lirih yang didengar oleh Tuan Jonathan di seberang sana. Boy pun tampak terharu dan segera bangkit dari tempat duduknya dan berlari menghambur pada pangkuan Justin, Papa yang begitu dia rindukan. Dan secara spontan Justin pun memeluk tubuh mungil Boy dan menaruh begitu saja hand phone milik Vadeo yang masih terhubung dengan Papa Jo. Vadeo pun segera mengambil hand phone miliknya. Vadeo merasa senang jika Justin sudah mulai benar benar sadar dan menyayangi Boy secara tulus.
Vadeo pun menempelkan lagi hand phone miliknya di dekat telinganya.
“Pa.” Ucap Vadeo.
“Deo, sekarang aku ingin bicara pada Wika.” Suara Tuan Jonathan di seberang sana.
__ADS_1
“Papa, Wika punya hand phone sendiri..” ucap Vadeo sambil mengernyitkan dahinya.
“Hah aku tidak punya nomor nya sekalian dan setelah Wika aku ingin bicara dengan Twins.” Suara Tuan Jonathan selanjutnya. Mau tak mau Vadeo pun menyerahkan hand phone milik pada Wika. Sesaat Vadeo menoleh ke arah Justin yang masih memeluk tubuh Boy dan selanjutnya Justin memangku tubuh mungil Boy sambil memeluknya. Mungkin Justin bisa merasakan kerinduan Boy akan hadirnya seorang Papa. Sebab dia pun juga sudah merasakan hal itu. Kerinduan akan hadirnya seorang Papa di dalam hidupnya. Di saat Papa nya dibunuh oleh masyarakat adat akibat kesalahan fatal yang sudah dibuatnya dan juga saat Justin masuk penjara. Justin benar benar merasakan rindukan sosok Papa dan itu dia dapatkan dengan hadirnya Tuan Jonathan yang menyayangi dirinya dengan tulus.
Sementara Wika juga tampak terharu dan bahagia karena Justin tampaknya sudah mau menerima kehadiran Boy dengan tulus. Dia pun tidak begitu berharap diterima oleh Justin dengan tulus sebab dia sadar jika Justin tidak mencintai dirinya.
“Papa Jo, mau bicara pada kamu.” Ucap Vadeo sambil mengulurkan hand phone milik nya pada Wika. Dan Wika menerima hand phone milik Vadeo.
Tampak Twins duduk bergelayut manja di tubuh Alexandria, mereka berdua pun bahagia saat melihat Boy dipeluk penuh sayang oleh Justin.
“Wika, kamu sudah menjadi istri sah Justin. Kamu harus juga bisa berusaha agar Justin mencintai kamu jadilah istri dan Mama yang baik.” Suara Tuan Jonathan di balik hand phone milik Vadeo.
“Baik Tuan.. terima kasih banyak atas semua bantuan dari Tuan dan keluarga Jonathan juga keluarga William. “ suara Wika dengan tulus mengucapkan terima kasih.
“Baik Tuan.. eh.. Opa Jo...” ucap Wika
“Ya sudah sekarang aku mau bicara dengan Twins.” Suara Tuan Jonathan selanjutnya. Dan Wika pun menyerahkan hand phone milik Vadeo itu pada Twins.
“Opaaa.. Aku mau pandilan pideo...” teriak Twins saat sudah menerima hand phone milik Vadeo. Dan panggilan suara pun terputus.
Tidak lama kemudian terdengar dering suara hand phone milik Vadeo lagi dan kini Tuan Jonathan melakukan panggilan video. Jari mungil Valexa pun segera menggeser tombol hijau. Tampak wajah Tuan Jonathan yang terlihat lebih segar bugar akibat beberapa hari berada di pulau Alexandria terbebas dengan permasalahan urusan perusahaan.
__ADS_1
“Aca, Aya.. Opa Jo dan Opa William sangat ingin melihat kerajaan di bawah tanah itu. Tetapi anak buah Bang Bule Vincent menjaga sangat ketat. Kata mereka harus izin pada kalian terlebih dahulu.” Suara Tuan Jonathan dengan nada penuh permohonan. Sebab anak buah Bang Bule Vincent sudah di pesan oleh Bang Bule Vincent seperti itu. Harus mendapat izin dari Twins untuk naik ke bukit pohon asam.
“Opa cayang.. tunggu campai adik adik ku lahil dulu dan meleka bica beljalan balu boleh Opa dan Oma melihat kelajaan bawah tanah itu. Jangan cetayang Opa.. bahaya...” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan.
“Hah lama sekali, tiga tahun lagi..” suara Tuan Jonathan di balik hand phone milik Vadeo.
“Cabal Opa... “ ucap Valexa dan Deondria lagi sambil tersenyum lebar.
“Ya sudah kalau begitu bilang pada Papa kamu. Sepuluh hari lagi adakan acara resepsi pernikahan Uncle Justin dan Aunty Wika. Opa pulang di saat acara resepsi itu.” Suara Tuan Jonathan lagi dan selanjutnya sambungan panggilan video pun sudah terputus.
“Papa ciapkan acala lecepci pelnikahaaannn Ante Justin dan Enti Wika, cepuyuh hayi lagi....” ucap Deondria sambil menyerahkan hand phone milik Sang Papa.
“Hah aku lagi yang harus sibuk.” Ucap Vadeo sambil menerima hand phone milik nya. Dan Deondria pun menganggukkan kepalanya.
“Tuan, saya siap membantu jika diperlukan.” Ucap Wika yang merasa tidak enak hati sebab keluarga kecil Vadeo sudah banyak membantu dirinya. Dan Wika pun masih lebih nyaman memanggil Tuan dan Nyonya pada Vadeo dan Alexandria meskipun sudah berkali kali diberi tahu tetap dia tidak bisa untuk memanggil hanya nama saja pada Vadeo dan Alexandria.
“Kamu pengantin nikmati hari hari kamu.” Ucap Alexandria sambil menatap Wika.
Akan tetapi tiba tiba terdengar bunyi suara pintu kamar pengantin itu yang diketuk ketuk.
TOK TOK TOK
__ADS_1
TOK TOK TOK TOK