
“Bang, mereka sudah masuk di kota sasaran.” Suara Eveline memberikan laporan pada Bang Bule Vincent.
“Bagus, pantau terus keadaannya. Kamu tetap berada di rumah penginapan itu jangan masuk ke kota perempuan itu kalau tidak dibutuhkan oleh mereka berempat.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius.
“Ante Pin duda yacak meyeta dayi cini (Uncle Vin juga lacak mereka dari sini).” Suara Valexa dengan lantang.
“Minta nomol heng pong bayu meyeka pada Enti Epeyin (Minta nomor hand phone baru mereka pada Aunty Eveline).” ucap Valexa lagi masih dengan suara lantang hingga didengar oleh telinga Eveline di seberang sana. Sementara tangan mungil Valexa masih sibuk mengatur ranting ranting yang akan dibakar untuk memanaskan air.
“Ooo iya Bang, mereka sudah memakai hand phone dengan nomor baru. Akan aku share nomor mereka ke Bang Bule Vincent.” Suara Eveline setelah mendengar teriakan suara imut Valexa.
“Okey, aku akan melacak mereka berempat.” Ucap Bang Bule Vincent dan selanjutnya sambungan panggilan suara itu terputus. Dan tidak lama kemudian Vadeo sudah datang dengan Deondria sambil membawa peralatan makan dan minum yang diambil dari buffet di ruang makan. Bang Bule Vincent yang melihat barang barang antik, unik dan cantik itu matanya melotot.
“Bro bagus sekali ini pasti mahal harganya di jaman sekarang ini.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menatap barang barang yang dibawa oleh Vadeo.
“Kalau Oma Kucing tahu pasti kita kena marah memanasi teko ini dengan api kayu bakar.” Gumam Vadeo yang telah membersihkan teko antik itu dan sudah mengisi dengan air bersih dari aliran air sumber mata air.
Sementara itu di lain tempat. Keempat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent sudah turun dari bis kota bersama penumpang lainnya yang juga kaum pemuda yang akan mendaftar ke lowongan pekerjaan yang dibuat oleh orang orang suruhan Mamah Mimi.
Tampak rombongan pemuda pemuda tampan dan gagah yang jumlahnya sepuluh orang lebih itu berjalan menyusuri trotoar menuju ke alamat yang akan dituju. Dan tidak lama kemudian mata mereka sudah melihat sebuah rumah yang sangat besar, megah dan mewah. Wajah mereka tampak semakin berseri seri kecuali wajah keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent.
__ADS_1
“Itu hotelnya sudah terlihat, memang sangat megah, pantas saja membutuhkan banyak karyawan.” Ucap salah satu dari mereka yang berasal dari kota tetangga. Nada suaranya pun terdengar sangat bersemangat penuh harapan.
Mereka terus berjalan menuju ke pintu gerbang rumah mewah milik Mamah Mimi. Sementara itu di dalam sebuah ruang pos keamanan di pintu gerbang ada dua orang yang bertugas menjaga.
“Itu mereka dari kota sebelah sudah datang lagi. Kita akan mendapat rejeki lagi.” Ucap salah satu dari dua petugas keamanan itu dengan bibir tersenyum bahagia, sebab mereka mendapat persenan pungli yang dilakukan oleh orang suruhan Mamah Mimi yang bertugas merekrut pemuda pemuda tetangga kota.
Dua orang petugas keamanan yang juga pemuda pemuda tampan dan gagah itu keluar dari ruang pos keamanan untuk menyambut para pelamar yang datang.
“Ayo ayo cepat masuk sebelum waktu pendaftaran ditutup. Langsung menuju ke ruang pendaftaran sana ya.” Ucap mereka berdua sambil menunjukkan sebuah ruang yang digunakan untuk pendaftaran pelamar.
Rombongan pemuda pelamar itu pun berjalan menuju ke ruang pendaftaran yang ditunjukkan oleh petugas keamanan.
“Sama, semoga kita berempat tidak terpisah.” Ucap salah satu yang lainnya dari keempat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent.
“Ayo ayo masuk secara bergilir siapkan surat surat dan syarat syaratnya.” Ucap seorang laki laki yang umur nya kira kira empat puluh tahunan. Dia adalah orang yang disuruh oleh Mamah Mimi untuk merekrut pemuda pemuda kota tetangga. Dia pula yang sudah memanfaatkan untuk mengambil keuntungan dengan memungut uang pendaftaran lima ratus ribu rupiah untuk masing masing pendaftar.
Dari pemuda yang masuk mendaftar ada yang belum membawa uang dan disusunnya pulang atau minta transferan dari keluarga. Ditunggu hingga waktu sore hari. Dan kini tiba giliran pemuda utusan Bang Bule Vincent yang menyerahkan syarat syarat pendaftaran.
“Hmmm ini bukan kartu identitas. Hanya surat keterangan tinggal.” Ucap laki laki suruhan Mamah Mimi itu saat membuka syarat syarat yang di bawa oleh pemuda utusan Bang Bule Vincent.
__ADS_1
“Iya Pak, bangko habis.” Ucap pemuda utusan Bang Bule Vincent.
“Hmmm Okeylah.. yang penting kalian keren gagah dan sehat. Surat bisa menyusul. Dan yang terpenting bayar uang pendaftaran lima ratus ribu untuk biaya baju seragam kalian dan sepatu.” Ucap laki laki suruhan Mamah Mimi.
“Pak, di syarat syarat yang tertulis tidak pakai biaya pendaftaran dan harusnya kan seragam ditanggung oleh pihak hotel.” Ucap pemuda utusan Bang Bule Vincent.
“Hah! Jangan berani berani kamu protes kalau tidak mau masih banyak yang mendaftar selain kamu.” Bentak laki laki suruhan Mamah Mimi.
“Bro bayar saja.” Ucap ketiga pemuda utusan Bang Bule Vincent.
“Ayo kalian semua ikut aku. Pemilik Hotel sebentar lagi datang dan akan menyeleksi kalian untuk penempatan divisi.” Ucap laki laki suruhan Mamah Mimi itu lalu berjalan keluar dari ruangan dan menuju ke dalam rumah utama Mamah Mimi.
“Hah? Kita bisa langsung kerja tanpa harus pulang dulu Pak?” tanya salah satu pemuda pendaftar dari kota tetangga dengan wajah berseri seri dan bibir tersenyum bahagia. Sementara keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent semakin deg degan jantungnya.
Laki laki suruhan Mamah Mimi itu terus berjalan dengan tangan membawa hand phone dan amplop coklat besar dan tebal berisi uang pendaftaran. Hand phone miliknya pun juga jadi gendut rekeningnya karena yang tidak membawa uang cash mentransfer pada rekeningnya.
Saat sudah sampai di dalam ruang tamu yang sangat luas para pemuda pendaftar itu di suruh duduk menunggu. Sementara laki laki suruhan Mamah Mimi itu berjalan menuju ke dalam kamarnya. Dia akan menghubungi Mamah Mimi. Dan sesampai di dalam kamarnya dia segera menghubungi Mamah Mimi.
“Mah, sudah ada lagi sepuluh pemuda dari tetangga kota yang datang. Mamah bisa segera datang dan memilih mereka untuk ritual.” Ucap Laki laki itu setelah Mamah Mimi menerima panggilan suaranya.
__ADS_1
“Ha... ha.... ha...Bagus bagus... aku akan segera datang. Kamu masukkan mereka ke dalam kamar kamar yang ada. Aku akan memanggil mereka ha... ha.... ha... aku sudah tidak sabar apa pemuda tetangga kota lebih manjur untuk syarat ritualku... ha.... ha.... ha..” Suara Mamah Mimi sambil tertawa terbahak bahak bahagia.