
“Ante Pin adak enti Icoya tan bawa cenjata yahacia ya.. tepat .. (Uncle Vin ajak Aunty Ixora dan bawa senjata rahasia ya... cepat).” suara Deondria dengan lantang. Dan setelah Bang Bule Vincent mengiyakan perintahnya Deondria pun segera memutus panggilan suara di hand phone sang Papa.
Mereka pun setelah siap segera turun ke lantai bawah untuk sarapan. Pengasuh, pelayan dan karyawan yang sudah diberitahu oleh Vadeo dan Alexandria yang semula jadwal keberangkatan ke pulau Alexandria di siang hari ini, mereka pun sudah bersiap diri.
Sementara itu di meja makan Tuan dan Nyonya Jonathan sudah duduk manis menunggu keluarga kecil Vadeo turun dan sarapan pagi bersama.
“Hmmm ada apa di pulau Alexandria Pa..?” tanya Nyonya Jonathan penasaran sebab dia tadi mendengar pembicaraan suaminya dan Vadeo lewat telepon seluler.
“Twins minta pagi ini segera berangkat. Vadeo tidak menjelaskan kenapa. Hanya tahu sendiri kan kalau Twins sudah punya kemauan harus terlaksana. Mereka berdua tidak mau sekolah dan tidak mau memakai baju..” ucap Tuan Jonathan setelah menyesap kopi pahit nya.
Dan sesaat kemudian keluarga kecil Vadeo sudah masuk ke dalam ruang makan. Dua pengasuh Valexa dan Deondria pun berjalan di belakang mereka.
“Kalian berdua juga sarapan pagi sekarang, biar Aca dan Aya aku yang urus.” Ucap Alexandria sambil menoleh pada dua orang pengasuh anak nya itu. Dua pengasuh itu pun menganggukkan kepala dan melangkah menuju ke ruang makan khusus untuk para pelayan yang tinggal di Mansion utama.
Sedangkan Nyonya Jonathan perasaan nya tidak enak melihat kedua cucu nya memakai pakaian ala Bang Bule Vincent.
“Katakan pada Oma kenapa kalian berdua ingin segera ke Pulau Alexandria?” tanya Nyonya Jonathan sambil menatap Valexa dan Deondria yang sudah didudukkan di kursi makan mereka berdua oleh Vadeo dan Alexandria.
“Hmmm mau yatihan di cana... (Hmmm mau latihan di sana..).” jawab Valexa sambil tersenyum menatap Sang Oma Jo..
“Iya Oma.. bocan yatihan di cini.. tuyang acik.. he.... he... (Iya Oma.. bosan latihan di cini .. kurang asyik.. he... he....).” tambah Deondria sambil tertawa kecil dan juga menatap Sang Oma Jo.
__ADS_1
“Kenapa tergesa gesa bukan nya latihan bisa nanti nanti atau besok besok.” Ucap Nyonya Jonathan yang masih penasaran sambil menatap wajah kedua cucunya yang sedang menatap gelas nya yang baru dituang susu oleh Mama dan Papa nya.
“Atu mau yatihan menangkap buyung Oma... buyung na ada di pagi hayi... (Aku mau latihan menangkap burung Oma.. burung nya di ada di pagi hari...).” ucap Deondria sambil tersenyum menatap wajah Oma Jo yang masih kepo.
“Sudahlah Ma, mereka baik baik dalam penjagaan kami.” Ucap Vadeo yang sudah selesai menuangkan susu di gelas anak nya.
Mereka pun memulai acara sarapan paginya dan setelahnya akan segera melanjutkan rencana kegiatannya masing masing.
Sementara itu di belahan bumi lain yang juga di benua Asia, anak buah Tuan Njun Liong yang berada di daratan sudah mendapatkan kapal sewaan termasuk bulldozer yang akan dipakai membongkar lahan untuk mendapatkan harta karun. Persenjataan pun telah lengkap. Kini mereka sudah berada di negara Philipina yang sebelumnya mereka datang dari negeri China dengan menggunakan pesawat terbang.
Kapal sewaan itu sudah keluar dari salah satu pelabuhan di Philipina menuju ke perairan Indonesia.
“Kita masuk lewat mana yang aman?” tanya laki laki tinggi besar berkulit gelap pada teman nya saat kapal sudah berlayar.
“Kamu yakin?” tanya laki laki yang berkulit hitam.
“Yakin, andai tidak bisa masuk lewat bayar kita langsung saja habiskan mereka. Biasanya pengamanan minim di pintu ilegal itu.” Jawab temannya penuh keyakinan.
“Okey lah jika lewat jalan ilegal juga lebih cepat sampai ke pulau itu.” Ucap laki laki berkulit hitam itu.
Laki laki berkulit hitam itu lalu berjalan menuju ke ruang nahkoda kapal guna memberi tahu sang nahkoda lewat jalur mana yang harus dilalui.
__ADS_1
Waktu pun terus berlalu, sementara itu di Mansion Jonathan pun suasana sudah sepi. Tuan Jonathan sudah berangkat ke Jonathan Co. Keluarga Vadeo dan rombongan sudah berangkat ke lapangan golf milik Tuan Jonathan di mana pesawat jet pribadinya sudah menunggu di sana, yang akan mengantar mereka menuju ke pulau Alexandria.
Sedangkan Nyonya Jonathan yang masih penasaran dia mondar mandir berjalan di ruang tamu. Dia tadi tidak mau diajak oleh Vadeo untuk ikut mengantar ke lapangan golf, dengan alasan kalau ikut ke lapangan golf pasti ingin ikut serta terbang.
“Apa aku hubungi besanku saja ya. Mungkin dia tahu kenapa jadwal ke pulau Alexandria diganti pagi hari.” Gumam Nyonya Jonathan lalu mengambil hand phone yang berada di saku rok nya.
Nyonya Jonathan pun segera mengusap usap layar hand phone nya untuk mencari nama kontak besan perempuannya. Sambil menunggu panggilan video nya diterima oleh Nyonya William dia berjalan menuju ke sofa yang ada di ruang tamu itu.
Tidak lama kemudian, layar hand phone nya tampak wajah Nyonya William yang sudah terlihat cantik juga.
“Selamat pagi Oma Jo, tenang saja.. Jean sudah mencarikan permata yang sesuai dengan foto yang kita kirim.” ucap Nyonya William yang mengira Nyonya Jonathan menghubungi dirinya untuk menanyakan pesanan permata pada Jean kakak perempuan Bang Bule Vincent.
“Aku menghubungi pagi ini bukan untuk masalah permata Oma William, tapi ada masalah lain lagi..” ucap Nyonya Jonathan dengan nada serius.
“Hah? Masalah apa lagi? Cepat katakan ini aku mau diajak Dealova untuk menghadiri pameran lukisan nya.” Ucap Nyonya William yang sudah melihat Dealova melangkah menuruni anak tangga. Dan Nyonya Jonathan pun segera menceritakan tentang keberangkatan keluarga kecil Vadeo ke pulau Alexandria di pagi hari dan tentang kekepoannya.
“Hmmm apa perlu kita menyusul ke sana. Coba Oma Jo tanya pada Tuan Rangga tentang cerita di manuskrip itu. Mungkin ini dikarenakan isi cerita itu lalu mereka tergesa gesa pergi ke pulau Alexandria. Nanti setelah acara pembukaan pameran Dealova selesai aku segera ke Mansion Jonathan .” ucap Nyonya William dengan nada serius, setelah Nyonya Jonathan selesai bercerita.
"Okey okey, begitu juga baik. kalau begitu aku tutup ya.. aku akan segera menuju ke paviliun tamu untuk menanyakan pada Tuan Rangga. " ucap Nyonya Jonathan. Lalu dia segera menutup panggilan video dengan sang besan perempuan nya.
Nyonya Jonathan mengusap usap lagi hand phone nya untuk menghubungi sopir pribadinya agar mengantar ke paviliun tamu. Akan tetapi belum juga sang sopir pribadi menerima panggilan suara nya. Nyonya Jonathan membatalkan panggilan suara nya. Dia lalu bangkit berdiri....
__ADS_1
...