
Waktu terus berlalu, hasil uji laboratorium menunjukkan hal sama seperti yang sudah Twins katakan jika Papanya Boy adalah Uncle Justin. Akan tetapi Justin belum diberi tahu tentang hasil laboratorium itu.
Dan selama tiga hari Boy mendapat pendampingan dari psikolog. Wika pun mengizinkan jika Boy untuk sementara tinggal di Mansion Jonathan. Boy pun juga dijaga oleh satu orang pengasuh. Dia tinggal di Mansion utama akan tetapi di kamar lantai satu. Kamar yang dulu dipakai oleh Justin.
Kini penampilan Boy sudah jauh berbeda, sebab Alexandria sudah membelikan baju baju bermerk dengan segala perlengkapannya. Boy pun sudah tidak takut lagi pada Vadeo akan tetapi Boy masih tampak malu malu.
“Nanny apa aku sekarang sudah jadi orang kaya?” tanya Boy pada pengasuhnya saat kini dia didandani oleh Sang pengasuh dengan memakai pakaian lengkap dengan tuxedo kecil yang elegan yang sewarna dengan celana panjangnya. Sepatu hitamnya pun tampak berkilau.
“Iya Tuan Kecil. Tuan adalah cucu Tuan Jonathan dan keponakan dari Tuan Muda Vadeo yang kaya. Jadi Tuan Kecil tidak akan kekurangan apa pun.” Ucap Sang pengasuh yang sudah diberi tahu jika Boy adalah anak Justin.
“Dan saat ini Tuan Kecil akan bertemu dengan Papa Justin.” Ucap Sang pengasuh karena hari ini adalah hari kebebasannya Justin. Boy tampak matanya berbinar binar akan tetapi bibirnya tidak tersenyum dan sesaat kemudian.
“Nanny apa Papa Justin akan mau punya anak aku. Kalau aku berkunjung bersama Opa Jo dan Twins dia malas melihat aku. Harus dipaksa oleh Opa Jo dan Twins baru dia mau melihat dan memegang kepalaku.” Ucap Boy dengan nada sedih.
“Pasti mau Tuan Kecil kalau tidak mau Tuan Muda Vadeo tidak mau menjemput Papa Justin. Biar Papa Justin di penjara terus.” Ucap Sang pengasuh sambil menyisir rambut Boy.
Dan sesaat kemudian pintu kamar Boy terbuka dengan lebar dan muncul sosok Valexa dan Deondria yang sudah cantik jelita. Mereka berdua memakai gaun indah berwarna putih dihiasi renda renda putih cantik bermotif bunga bunga kecil berbahan lembut. Kepala mereka berdua pun memakai bando warna putih dengan bahan yang senada dengan gaun yang mereka pakai. Sangat cantik pakai peri peri kecil.
__ADS_1
“Ayo Boy...” teriak mereka berdua. Boy pun tersenyum lebar. Dia sangat bahagia dan merasa aman jika ada Twins di dekatnya.
“Sudah Nanny.” Ucap Boy saat Sang pengasuh masih merapikan penampilan Boy. Ketiga anak itu pun segera meninggalkan kamar Boy. Mereka bertiga berjalan dengan riang gembira sesekali Twins menggandeng tangan Boy, dan telapak tangan Boy terasa dingin karena deg deg an akan bertemu Papa nya.
“Ayo Boy, Mamamu lancung te cana belcama Nenek Lina.. (Ayo Boy, Mamamu langsung ke sana bersama Nenek Lina).” Ucap Valexa sambil menggandeng tangan Boy.
Sesaat Vadeo dan Alexandria pun sudah menuruni anak tangga dan berjalan menyusul anak anaknya. Alexandria tampil cantik dengan gaun berwarna salem. Sedangkan Vadeo mengenakan pakaian lengkap dengan tuxedo berwarna hitam celana panjang hitam kemeja di dalam berwarna senada dengan warna gaun Alexandria.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil ketiga bocil itu duduk di jok belakang sedangkan Vadeo dan Alexandria di jok belakang kemudi, dan di jok depan Richardo dan tentu saja Pak Sopir. Mobil terus melaju menuju ke lembaga pemasyarakatan tempat Justin berada.
“Pak kok biasanya tahanan yang bebas tidak didandani macam saya?” tanya Justin yang tampak heran sebab dandanannya bagai akan ada acara resmi saja.
“Ya beda dong. Nanti kan Tuan Vadeo yang akan menjemput ke sini.” Ucap petugas lapas yang mendandani Justin.
“Sudah ayo keluar. Bawa sekalian tas kamu itu.” Ucap petugas lapas itu sambil mengajak Justin keluar dari sel nya. Dia sudah pamit pada teman temannya. Justin pun dibawa oleh petugas lapas itu berjalan akan tetapi langkah mereka tidak ke ruang tamu biasa para penghuni lapas menunggu jemputan akan tetapi mereka berjalan menuju ke gedung pertemuan.
Justin semakin heran saat di gedung pertemuan itu sudah datang beberapa orang tampak memakai pakaian rapi. Dan depan ada meja besar lengkap dengan kursi kursi. Meja itu ditutupi oleh taplak warna putih dan berlipat lipat menjuntai menutupi kolong meja. Kursi kursi pun ditutupi oleh kain satin warna putih yang indah.
__ADS_1
“Tuan Justin silahkan duduk di depan di samping bapak pimpinan lapas.” Ucap petugas lapas itu pada Justin.
Dan sesaat kemudian mobil Vadeo pun sudah sampai di gedung lapas. Dan berikut nya ada sebuah mobil juga masuk ke halaman gedung lapas. Keluarga Vadeo plus Boy pun turun dari mobil. Dan mobil yang baru saja tiba berhenti tidak jauh dari mobil Vadeo. Pintu mobil pun terbuka dan sosok Ibu Rina keluar dari mobil. Dia mengenakan kebaya dengan kain batik. Dan tidak lama kemudian muncul sosok Wika dengan baju kebaya warna putih yang panjang hingga di atas lutut. Dan setelahnya Mbok Nah dan Pak No juga ikut turun dari mobil. Mereka berdua juga mengenakan pakaian formal.
“Aca dan Aya temani Aunty Wika.” Ucap Alexandria. Aca dan Aya pun segera berlari dan menggandeng tangan Wika kiri dan kanan. Sedangkan Boy kini sudah digandeng tangannya oleh Vadeo. Telapak mungil itu masih terasa dingin.
“Jangan takut Boy, ada Uncle Deo di sini.” Ucap Vadeo sambil menggenggam dengan erat telapak mungil Boy. Alexandria dan Bu Rina berjalan di belakang Wika. Mereka terus berjalan menuju ke ruang pertemuan yang ada di dalam gedung lapas. Yang sudah dihias indah.
Orang orang yang sudah duduk kursi ruang pertemuan itu berdiri dan menghadap pada rombongan Vadeo. Tatapan mata mereka tidak hanya tertuju pada sosok Wika akan tetapi semua yang berjalan itu menarik perhatian mereka.
Dan Justin melihat rombongan datang melotot kedua matanya. Hanya dirinya saja yang masih duduk di kursi menoleh pada rombongan Vadeo.
“Deo apa yang kamu lakukan.” Gumam Justin dalam hati yang tiba tiba perasaan nya tidak nyaman melihat Wika yang tampil layaknya mempelai perempuan.
Wika berjalan pelan pelan karena kain panjang dan high heel yang dia kenakan membuatnya tidak bisa melangkah lebar. Tangan mungil Twins terus saja menggandeng tangan Wika kiri kanan. Bibir mungil Twins terus saja tersenyum semakin membuat mereka berdua terlihat cantik jelita. Para hadirin yang melihat benar benar terpesona melihat dua gadis kecil kembar yang cantik jelita. Rasanya ingin mencubit pipi mereka karena gemas. Akan tetapi tidak akan dilakukan karena pasti akan mendapat marah dari kedua orang tuanya.
Justin masih saja menatap dengan bengong.
__ADS_1