Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 98. Ke Pulau Alexandria


__ADS_3

“Sayang kok belum juga pakai baju..” ucap Alexandria yang sudah berada di dekat kedua anaknya. Lalu memegang ke dua punggung anaknya dan diajak untuk kembali ke kamar nya agar segera memakai baju.


“Mama, atu ga mau pate badu.... (Mama, aku ga mau pakai baju....).” ucap Valexa dengan bibir manyun sambil mendongak menatap Sang Mama.


“Atu duda ga mau pate baju... (Aku juga ga mau pakai baju...).” ucap Deondria yang juga sama bibir nya manyun beberapa centi meter ke depan.


“Mosok anak Tuan Vadeo tidak pakai baju begini.” Ucap Alexandria sambil tersenyum dan terus menggandeng tangan mungil kedua anaknya.


Sedangkan Vadeo kembali membukakan pintu kaca penghubung kamar sambil masih berdebar debar jantungnya karena terhuyung huyung akibat dorongan pintu kaca yang tebal oleh kedua anaknya.


“Tapi na te puyo Ayetandiya cetayang... (Tapi nya ke pulau Alexandria sekarang).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan.


“Hmmm.” Gumam Alexandria yang hafal dengan tabiat anak anak nya yang akan memaksa kemauan nya jika mendapat sinyal bahaya.


“Pa, batalkan meeting atau delegasikan tugas kita pada yang lain.” ucap Alexandria sambil menatap Sang suami yang masih memegang handel pintu kaca penghubung.


“Okey, aku hubungi Papa Jo dan Papa William.” Ucap Vadeo lalu membalikkan tubuh nya untuk mengambil hand phone yang masih berada di atas nakas.


“Accccciiiiikkkkkkk.” Teriak Valexa dan Deondria sambil berlari menuju ke kamar mereka kembali.


“Patein badu ya Ma... ( Pakai in baju ya Ma...).” teriak mereka berdua lagi yang kini mereka sudah tersenyum bibir nya.


Alexandria pun menuruti keinginan kedua puterinya itu.. Mereka berdua meminta mengenakan pakaian ala Bang Bule Vincent.


“Ma tita atan yama di puyo Ayetandiya bawa badu banak Ma.. ( Ma kita akan lama di pulau Alexandria, bawa baju banyak Ma...).” ucap Valexa saat Sang Mama memakaikan baju nya.


“Kita tidak lama Sayang.. Mama dan Papa kan punya pekerjaan di sini.” Ucap Alexandria


“Tan petejaan peyucahaaaan cudah dideyedacitan.. (kan pekerjaan perusahaan sudah didelegasikan).” Saut Deondria yang menunggu gilirannya dipakai kan baju oleh Sang Mama.


“Iya.. di sana juga ada banyak baju kita.” Ucap Alexandria masih terus melanjutkan pekerjaannya hingga selesai.

__ADS_1


Setelah mereka berdua sudah berpakaian rapi. Alexandria menyuruh kedua pengasuh anak itu untuk melanjutkan mengurus kedua anak itu dan menyiapkan segala keperluan mereka berdua yang akan dibawa ke pulau Alexandria. Dan Alexandria pun kembali berjalan menuju ke kamarnya karena dia pun juga harus bersiap siap.


“Bagaimana Pa?” tanya Alexandria saat sudah masuk ke dalam kamar dan berjalan menuju ke lemari pakaian nya.


“Sudah mau ditangani kedua Papa dan Om Raymond juga Pak Rio.” Ucap Vadeo yang masih duduk di sofa sambil memegang hand phone nya.


“Aku mau hubungi Bang Bule Vincent dan pilot agar segera siap.” Ucap Vadeo selanjutnya sambil mengusap usap layar hand phone nya mencari nama kontak Bang Bule Vincent.


Dan saat Alexandria masih mengambil baju dari lemari dan Vadeo masih mengusap usap layar hand phone nya. Pintu kaca penghubung kamar terbuka dengan lebar. Pintu yang tadi tidak dikunci oleh Alexandria dibuka oleh Valexa dan Deondria. Kedua bocah itu yang sudah tampil dengan pakaian ala Bang Bule Vincent melangkah dengan cepat menuju ke dalam kamar orang tua nya.


“Papa biyan Ante Pin bawa cenjata yahacia enti Icoya.. ( Papa bilang Uncle Vin suruh bawa senjata rahasia Aunty Ixora..).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan.


Vadeo terlihat ekspresi wajah nya sangat kaget, lalu menoleh ke arah Alexandria yang sedang memakai baju.


“Ma, kamu cek aplikasi mu. Coba kamu lihat apa ada alarm bahaya. Kok Aca dan Aya begitu.” Ucap Vadeo selanjutnya.


Alexandria segera menyelesaikan mengancingkan baju nya lalu dia mengambil hand phone untuk mengecek aplikasi yang digunakan untuk menjaga pulau Alexandria.


“Ini jarak yang Mama buat sudah jarak yang aman Sayang.. saat ada alarm kita bisa segera melakukan sesuatu. Menyuruh orang yang berada di pulau berjaga jaga.” Ucap Alexandria


“Oyang yan daga di cana tuyang cendata na tuyang Ma... (Orang yang jaga di sana senjata nya kurang Ma..).” saut Deondria yang selanjutnya kedua anak itu minta duduk di sofa di dekat sang Papa .


“Papa tepat teyepon Ante Pin (Papa ceoat telepon Uncle Vin).” Teriak mereka berdua.


Vadeo pun segera mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi Bang Bule Vincent. Sudah berkali kali dihubungi nama kontak Bang Bule Vincent tidak bisa terhubung.


“Kok belum juga bisa terhubung sih.” Gumam Vadeo sambil berusaha berganti untuk menghubungi nomor kontak Ixora.


Sudah berkali kali menghubungi Ixora juga belum bisa berbicara, hanya nada sambung saja akan tetapi tidak diterima oleh Ixora.


“Apa Ixora tugas pagi..” gumam Vadeo yang masih menunggu panggilan suara nya diterima oleh Ixora.

__ADS_1


“Papa teyepon yumah Ante Pin aja ..(Papa telpon rumah Uncle Vin aja...).” ucap Deondria dengan nada serius sambil menatap Sang Papa.


Vadeo pun segera membatalkan panggilan suara ke nomor kontak Ixora dan beralih menghubungi nomor telepon rumah Bang Bule Vincent.


Dan sesaat ..


“Selamat pagi...” suara seorang laki laki di seberang sana dari balik hand phone Vadeo. Yang tidak itu adalah suara dari salah satu anak buah Bang Bule Vincent.


“Di mana Bang Bule Vincent? Aku mau bicara dengan nya penting.” Uxao Vadeo dengan nada serius.


“Bang Bule Vincent masih di dalam kamar Tuan. Nona Ixora juga. Belum keluar sejak tadi.” Jaaab anak buah Bang Bule Vincent


“Kamu panggil dia kamu gedor gedor pintu nya!” perintah Vadeo pada anak buah Bang Bule Vincent.


“Baik Tuan...” ucap anak buah Bang Bule Vincent lalu meletakkan ganggang telepon akan tetapi tidak menutup sambungan teleponnya dengan Vadeo.


Beberapa menit kemudian..


“Bro kamu tega banget sih mengganggu kenikmatan di pagi hari ku yang sulit ku dapat. Kamu tahu kan Ixora jadwalnya padat.. saat ini dia libur aku pun juga ingin segera punya Vincent junior penerus ...” suara Bang Bule Vincent di balik hand phone Vadeo dengan nada kesal dan masih sedikit parau parau.


“Banyak cakap kamu Bul.. macam kamu tidak mengganggu aku aku saja, saat aku bukan madu di Bali pun kamu ganggu karena masalah restu mu dulu..” ucap Vadeo yang mengingatkan Bang Bule Vincent pun juga pernah mengganggu diri nya dan Alexandria yang sedang enak enak..


“Papa... tepat tatakan... (Papa cepat katakan...).” teriak Valexa dan Deondria sambil menepuk tubuh Sang Papa sekenanya. Lalu kedua bocah itu menepuk jidat nya sendiri, sebab sudah hafal dengan tingkah Papa dan Uncle nya yang selalu berdebat tidak ada habis habisnya.


Vadeo pun lalu menyampaikan maksud nya pada Bang Bule Vincent. Jika pagi ini berangkat ke pulau Alexandria, jika perlu Bang Bule Vincent tidak usah mandi dan diberi gantinya boleh mandi di sungai di pulau Alexandria namun dengan syarat izin dari Valexa dan Deondria.


Dan saat Vadeo akan mengakhiri panggilan suaranya dengan Bang Bule Vincent tiba tiba tangan mungil Deondria menarik tangan Vadeo yang masih memegang hand phone, dan merebut hand phone yang Vadeo pegang.


“Atu mau bicaya... (aku mau bicara..).” suara Deondria yang sudah berhasil memegang hand phone Sang Papa.


.....

__ADS_1


__ADS_2