Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 224.


__ADS_3

Bang Bule Vincent berjalan di belakang pak satpam, sedangkan dua orang polisi berjalan di samping Bang Bule Vincent. Richardo dan dua anak buah Bang Bule Vincent berjalan di belakang mereka.


Tidak lama kemudian pak satpam itu berdiri di depan pintu sebuah kamar apartemen.


“Ini Tuan kamar orang yang dicari.” Ucap Pak satpam itu sambil menoleh ke arah Bang Bule Vincent dan Pak Polisi.


“Sudah tahu.” Gumam Bang Bule Vincent sambil menekan pass word pintu kamar itu di saat dua polisi itu akan mendobrak pintu dan akan berteriak.


Pintu apartemen itu pun terbuka. Pak satpam kaget melihat Bang Bule Vincent sukses membuka pintu dengan menekan pass word. Semua orang yang berada di depan pintu itu segera masuk ke dalam kamar apartemen. Dan mereka semua mendengar sayup sayup suara tawa seorang laki laki dan rintihan serta tangisan suara seorang perempuan dari dalam kamar tidur yang ada di dalam kamar apartemen itu.


“Mereka di dalam cepat dobrak!” perintah Bang Bule Vincent pada kedua anak buahnya yang jago mendobrak pintu. Dua anak buah Bang Bule Vincent itu pun lalu mengambil jarak beberapa meter dari depan mereka berdua lalu meloncat dengan kaki menendang daun pintu itu dengan kekuatan besar dan benar daun pintu itu langsung terbuka dengan lebar akibat tendangan dua laki secara bersamaan.


Mr Le menoleh ke arah pintu, suara tawa nya mendadak terhenti. Mr Le terlihat sangat kaget saat melihat pintu terbuka dan ada banyak orang termasuk ada dua orang polisi. Mr Le yang mengenakan celana panjang jeans namun tidak memakai baju itu, langsung mengambil senjata api yang ada di atas meja dan dengan segera mengarahkan senjata api itu pada semua orang, termasuk pada Riris yang terbaring dengan kedua tangan dan kakinya terikat pada ujung atas dan bawah tempat tidur. Tubuh Riris yang hanya mengenakan pakaian dhalem itu tampak ada bilur bilur di tubuhnya. Dan ada sebuah cambuk kecil di atas tempat tidur.


“Hiks.. hiks.. tolong tolong saya....” suara Riris sambil terisak isak wajahnya pun penuh dengan air mata. Riris menangisi nasibnya benar benar tidak menyangka Mr Le melakukan hal itu pada dirinya. Saat ada polisi berada di dalam kamar sekarang ini satu sisi Riris senang karena terbebas dari permainan *** Mr Le yang tidak normal akan tetapi sel penjara pun juga sudah menunggunya lagi.


Mr Le tampak masih mengarahkan senjata apinya pada semua orang.

__ADS_1


“Jangan melawan kalau tidak mau hukuman lebih berat.” Ucap Pak Polisi yang juga mengarahkan senjata api pada Mr Le.


Di saat perhatian Mr Le terarah pada Pak Polisi. Bang Bule Vincent dengan serta merta meloncat dan menendang senjata api yang dipegang oleh Mr Le. Tendangan yang begitu keras secara tiba tiba itu membuat senjata api yang berada di tangan Mr Le terlempar mengenai dinding tembok kamar dan terjatuh tidak jauh dari posisi Richardo. Richardo pun dengan sigap mengambil senjata api itu. Sedangkan Bang Bule Vincent bersama kedua polisi meringkus Mr Le, meskipun harus melewati perlawanan dari Mr Le. Akan tetapi Mr Le yang sudah kebanyakan meminum minuman beralkohol ditambah hati emosi dengan mudah dikalahkan oleh Bang Bule Vincent apalagi dibantu oleh dua polisi.


Sementara dua anak Bang Bule Vincent menuju ke tempat Riris terbaring. Salah satu anak buah Bang Bule Vincent mengambil senjata api nya.


“Ampunnn Tuan, jangan bunuh saya.. tolong saya Tuan... hiks... hiks....” Ucap Riris mengiba dan masih terisak isak.


Anak buah Bang Bule Vincent masih saja memegang senjata api nya dan mengarahkan pucuk senjata api itu ke arah tempat tidur Riris.


“Jangan bergerak, kalau ingin selamat!” perintah anak buah Bang Bule Vincent.


DORRR


Suara tembakan tepat pada satu rantai yang mengikat tangan kiri Riris. Riris terlihat sangat lega sebab tadi dia mengira akan ditembak tubuhnya. Dan anak buah Bang Bule Vincent pun menembakkan lagi tiga peluru pada rantai yang masih mengikat di tangan dan kedua kaki Riris.


“Terima kasih hiks .. hiks...” Ucap Riris sambil terisak isak saat keempat rantai sudah tidak lagi mengikat kedua tangan dan kedua kakinya. Akan tetapi dia masih terbaring di tempat tidur.

__ADS_1


“Pakai baju kamu itu!” ucap anak buah Bang Bule Vincent tanpa menatap Riris. Dengan lemah Riris berusaha bangkit dari tidurnya. Tubuhnya yang masih capek ditambah dengan cambukan semakin menambah rasa sakit remuk redam.


“Justin kamu di mana tolong aku.... kamu jahat sekali meninggalkan aku, mengkhianati aku. Aku gagal lagi untuk merebut kamu... hiks... hiks....” rintih dan tangis Riris di dalam hati sambil memungut pakaiannya dan memakai sebisanya sebab tangannya terasa masih sakit untuk digerakkan.


“Suatu saat aku akan merebut mu lagi Justin.. “ ucap Riris yang mau tak mau sekarang harus menurut untuk dibawa Pak polisi menuju ke kantor polisi bersama Mr Le.


Sementara itu di tempat lain di Mansion Jonathan tepatnya di kamar pengantin. Justin dan Wika kini sedang berada di atas tempat tidur. Mereka berdua tidak ada pekerjaan lain selain makan dan berkegiatan berpaket paket. Tadi Justin merasa kurang puas di sofa maka setelah makan siang mereka pindah di tempat tidur. Kini mereka berdua masih tertidur pulas dengan tubuh mereka yang tidak tertutup sehelai benang sekalipun.


Dan waktu pun terus berlalu hingga sore hari menjelang petang pun tiba. Justin dan Wika terbangun akibat suara gedoran gedoran pintu kamar itu.


“Hah? Siapa yang mengganggu orang tidur dengan menggedor gedor pintu kamar.” Suara Justin lalu segera bangkit berdiri. Wika pun tampak juga menegakkan punggungnya.


“Kamu cepat sembunyi di kamar mandi sana. Jangan keluar keluar kalau tidak aku suruh kamu keluar. Malu dilihat orang.” Ucap Justin yang dia lupa jika dirinya juga tidak memakai pakaian apa pun.


“Tuan kan juga tidak memakai apa apa.” Ucap Wika mengingatkan lalu dia bangkit berdiri dan berlari menuju ke kamar mandi. Justin pun akhirnya juga turut serta berlari menuju ke kamar mandi.


Saat sudah sampai di kamar mandi Justin segera menyambar handuk ukuran sedang dan melilitkan pada tubuh bagian bawahnya.

__ADS_1


“Apa pelayan mengantar makan malam. Tetapi seperti nya belum waktunya makan malam.” Ucap Justin sambil melangkah menuju ke pintu kamar.


“Hah, aku ini macam apa saja disuruh makan dan kawin macam kambing di kandang lapas saja.” Gumam Justin yang mengira pelayan datang membawa makanan.


__ADS_2