Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 42.


__ADS_3

Sementara itu di halaman Mansion Jonathan masuk sebuah mobil yang berjalan dengan pelan pelan. Mobil itu adalah mobil milik Vadeo yang dikemudikan oleh Bang Bule, karena si kembar tidak mau berpisah dari Sang Papa dan Uncle Vin, akhirnya Pak Sopir senior tadi di suruh pulang lebih dulu.


Mobil kini sudah berhenti di dekat pintu utama Mansion. Richardo yang duduk di samping jok kemudi segera membuka pintu dan turun dari mobil. Saat dia akan membuka kan pintu belakang mobil, pintu sudah terbuka dan muncul Deondria dan segera bocah itu berlari menuju ke pintu utama Mansion dan sesaat kemudian sosok Valexa pun juga turun dan segera berlari mengikuti saudara kembar nya.


“Cepat kamu ikuti mereka sebelum kaki kaki mereka menendang nendang pintu.” Perintah Vadeo pada Richardo. Richardo pun segera berlari menyusul pada Valexa dan Deondria yang sudah menaiki anak tangga hampir sampai di depan pintu utama.


“Kamu dulu buatnya bagai mana Bro, bisa muncul dua bocah seperti itu?” tanya Bang Bule yang sudah turun dari mobil sambil menutup pintu mobil Vadeo.


“Penuh dengan cinta dan perasaan.” Jawab Vadeo dengan nada serius sambil melangkah meninggalkan mobil. Bang Bule yang di samping Vadeo lalu menepuk pundak Vadeo dengan keras.


“Sial.” Umpat Vadeo dengan membalas menepuk pundak Bang Bule tidak kalah keras. Dan Bang Bule pun hanya tertawa.


Sementara itu di depan pintu mansion utama kaki kaki mungil Valexa dan Deondria sudah siap siap akan menendang pintu utama itu, akan tetapi sebelum kaki mungil itu mengenai daun pintu, tangan Richardo sudah memencet bel tamu.


“Ha... Ha... tita tayah tepat.” Suara mereka berdua sambil tertawa dan menoleh mendongak arah wajah Richardo. Richardo yang gemas lalu menoel dagu kedua bocah itu.


Sesaat kemudian pintu terbuka dan muncul sosok Nyonya William di balik pintu.


“Kenapa kalian lama sekali pulang, mobil pak sopir senior sudah datang sejak tadi.” Suara Nyonya William sambil menatap orang orang yang berada di depan pintu.


“Tita yapat duyu Oma Tucing....” ucap Valexa lalu menggandeng tangan Sang Oma.


“Iya Oma tita tadi cibuk ada poyek pencing.” Ucap Deondria yang juga menggandeng tangan satu nya Sang Oma. Mereka bertiga melangkah masuk menuju ke ruang makan. Richardo pun melangkah di belakang mereka. Sementara Vadeo dan Bang Bule baru memasuki pintu utama Mansion.


“Tita tuh udah tenyang Oma cudah maem tue tue enyak di yumah Ante Pin. “ ucap Valexa yang terus berjalan menggandeng tangan Sang Oma.


“Iya tapi kalian harus makan sayur, buah dan ikan. Biar Mama tidak marah.” Ucap Nyonya William sambil menggandeng kedua tangan cucu cucu nya menuju ke meja makan.


Sesaat mereka sudah sampai di meja makan, Nyonya William dan Richardo membantu mereka berdua untuk duduk di kursi makan mereka. Dan tidak lama kemudian Bang Bule dan Vadeo pun sudah sampai di meja makan.


“Hmmm benar menu di meja makan masih utuh lengkap. Mama belum menyentuhnya menunggu cucu cucu nya datang.” Gumam Vadeo dalam hati saat melihat meja makan.


“Ma, lain kali kalau kami pergi dan belum pulang saat jam makan, Mama bisa makan lebih dulu.” Ucap Vadeo sambil duduk di kursi dan menatap Sang Mama Mertua yang sedang sibuk mengambilkan makanan buat cucu cucu nya.


“Hmmm Oma tuh ke sini untuk menemani Valexa dan Deondria, bukannya untuk nunut makan siang.” Ucap Nyonya William sambil melirik ke arah Vadeo dan Bang Bule.

__ADS_1


Vadeo dan Bang Bule pun hanya diam saja. Mereka semua akhirnya menikmati makan siang tanpa banyak mulut berbicara.


Beberapa menit kemudian makan siang mereka sudah selesai. Valexa dan Deondria mau makan sayur, buah dan ikan yang sudah disiapkan untuk mereka berdua. Alexandria selalu menasihati mereka berdua untuk makan menu itu agar cantik dan pintar, mereka berdua yang mengidolakan Sang Mama pun menjadi nurut pada nasehat Mama nya.


“Ma, kami akan pergi lagi.” Ucap Vadeo setelah selesai menegak air minum nya.


“Iya kamu berdua harus kerja lagi. Istri istri kalian sibuk dengan tugas nya, kalian berdua malah hanya main main saja kerja nya. Gini nih kalau sahabat jadi ipar an.” Ucap Nyonya William sambil menatap tajam kedua menantu nya itu.


“Hmmm ini juga dalam rangka bekerja Ma.” Ucap Bang Bule berusaha memberi penjelasan


“Kerja apa? Main? Ngobrol?” saut Nyonya William dengan mata melotot ke arah Bang Bule


“Sttttt mo tantap oyang dahat..” suara lirih Deondria menoleh ke arah Sang Oma dan telunjuk mungil nya di tempel di mulut nya yang juga mungil cantik.


“Ayo Pa, tita beyantat.” Ucap Valexa sambil menganggukkan kepalanya ke arah Sang Papa dan berusaha untuk turun dari kursi nya. Sang pengasuh yang berdiri di belakang nya pun segera membantu Valexa untuk turun dari kursi.


“Hai kamu anak kucing mau ke mana?” teriak Nyonya William pada Valexa yang sudah turun dari kursi nya.


“Mau tes op lin Oma Tucing...” ucap Deondria yang juga berusaha turun dari kursi nya.


“Ma, mereka berdua mau ikut test penting, mau audisi.” Ucap Vadeo selanjutnya sambil bangkit berdiri dan menatap Mama Mertua nya.


“Owhhh kalian mau audisi?” tanya Nyonya William minta keyakinan sambil menatap kedua cucu nya yang sudah berada di dekat Papanya, mereka berdua pun tersenyum dan mengangguk dengan mantap.


“Yaa sudah sana berangkat , Oma doa kan kalian lolos test dan Oma ikut terkenal.” Ucap Nyonya William selanjutnya saat mendengar kata audisi perkiraan mereka kedua cucu nya akan mengikuti audisi yang berhubungan dengan dunia keartisan.


Nyonya William pun ikut bangkit berdiri dan melangkah mengikuti mereka mengantar sampai depan pintu utama Mansion Jonathan. Bibir Nyinya William pun tersenyum lebar membayangkan kedua cucu nya menjadi artis dan dia akan menjadi menejer nya.


Mobil yang dikemudikan oleh Bang Bule pun mulai berjalan pelan pelan. Kaca jendela di belakang masih terbuka dan kedua bocah itu melambai lambaikan tangannya pada Sang Oma yang masih berdiri di depan pintu. Dan pintu jendela mobil ditutup saat sosok Sang Oma sudah tidak terlihat oleh mereka.


Mobil terus berjalan membelah jalan raya, menuju ke kantor tempat rekan kerja Bang Bule berada.


Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman gedung suatu kantor. Bang Bule yang sudah sering ke kantor itu segera melajukan mobil menuju ke tempat parkir. Dan setelahnya mereka semua keluar dari dalam mobil. Valexa digendong oleh Vadeo dan Deondria digendong oleh Richardo. Sedangkan Bang Bule Vincent berjalan di paling depan menuju ke dalam kantor itu.


“Pa...” ucap lirih Valexa dengan nada khawatir.

__ADS_1


“Tenang aja ada Papa di sini.” Ucap Vadeo sambil mempererat pelukan pada Valexa.


“Ah anak anak ku tetap manusia normal memiliki perasaan khawatir juga.” Gumam Vadeo dalam hati sambil terus berjalan mengikuti langkah kaki Bang Bule Vincent.


“Tatut ndak yuyus.” Ucap lirih Valexa


“Kalian pasti lulus.” Ucap Vadeo sambil menatap Valexa lalu menoleh ke arah Deondria yang masih di dalam gendongan Richardo.


Sesaat kemudian mereka sudah masuk ke dalam ruangan pimpinan. Dan setelah saling mengenalkan diri dan menjelaskan misi yang akan dikerjakan. Pimpinan di kantor itu sangat kagum dengan kemampuan Valexa dan Deondria.


“Tim sangat membutuhkan kemampuan mereka, di test on line mereka sudah lulus dengan nilai terbaik. Sempurna. Sekarang kita butuh test off line.” Ucap pimpinan itu sambil menatap Vadeo.


“Tenang saja hanya test kesehatan.” Ucap Pimpinan itu sambil menatap wajah mungil Valexa dan Deondria yang tampak khawatir.


“Mari Nona Nona cantik, kita masuk ke ruang latihan.” Ucap pimpinan kantor itu sambil bangkit berdiri.


Sesaat mereka sudah memasuki suatu ruangan yang digunakan untuk melakukan test kesehatan.


“Pa tit mil..” ucap Valexa saat melihat ada treadmill di ruang an itu yang sama dengan milik Sang Papa dan Uncle Vin nya.


“Iya Pa tayak puna Papa tan Ante Pin ...” suara Deondria.


Akhirnya mereka berdua disuruh lari di atas alat tread mil itu. Valexa dan Deondria pun ditaruh oleh Vadeo dan Richardo di atas alat itu.


“Hati hati ya Nak.” Ucap Vadeo sambil menatap Valexa dan Deondria yang sudah siap di atas alat itu. Tampak wajah mereka berdua kini sudah tidak lagi khawatir sebab mereka berdua sudah terbiasa latihan dengan alat seperti itu di rumah Bang Bule Vincent.


“Okey kita mulai ya.” Ucap pimpinan kantor itu sambil menatap Valexa dan Deondria. Kedua bocah itu pun tampak mengangguk kan kepalanya.


“Start.” Suara keras pimpinan kantor itu. Valexa dan Deondria pun mulai berlari awalnya pelan pelan dan setelahnya mereka berdua menambah kecepatannya.


Sesaat kemudian pimpinan kantor itu tampak melotot matanya saat melihat kecepatan lari kedua bocah itu.


“Hah bisa bisa alat ku rusak karena kecepatan yang melebihi batas.” Gumam pimpinan kantor itu dengan ekspresi wajah tampak khawatir


...

__ADS_1


__ADS_2