Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 146.


__ADS_3

“Hah kenapa badanku jadi panas begini...” teriak Mamah Mimi lalu dia segera melepas seluruh pakaian hitam hitamnya itu. Mamah Mimi pun segera berlari terbirit birit menuju ke kamar mandi.


Kita tinggalkan Mamah Mimi yang berada di dalam kamar mandi untuk berendam di dalam air karena kepanasan akibat jamu kuat yang dia minum.


Sementara itu di pulau Alexandria, Valexa dan Deondria tampak tenang bermain main di taman bunga depan rumahnya. Kupu kupu yang indah dan cantik cantik tampak beterbangan menemani mereka berdua. Ada satu dua kupu kupu yang bertengger manis di rambut kepala kedua bocah itu.


Sementara itu Vadeo dan Bang Bule Vincent yang terus menghitung waktu tampak semakin gelisah. Apalagi Eveline memberi kabar jika keempat pemuda tampan dan gagah disekap di dalam kamar di rumah mewah Mamah Mimi.


“Bro tinggal dua hari lagi, apa Aca dan Aya tidak mengatakan sesuatu hal yang penting?” tanya Bang Bule Vincent pada Vadeo yang duduk di teras rumah sambil mengamati kedua anaknya.


“Hanya mengatakan aku disuruh menyiapkan pesawat jet pribadi dan menghubungi pihak bandara di kota perempuan tua itu.” Jawab Vadeo pada Bang Bule Vincent yang baru saja datang mendekati dirinya. Bang Bule Vincent pun lalu duduk di dekat Vadeo.


“Apa kita akan berangkat dua hari lagi? Jam berapa kita berangkat?” tanya Bang Bule Vincent dengan nada serius.


“Ya, berangkat dua hari lagi. Tepat di hari H itu. Tapi Aca dan Aya belum mengatakan jam berapa.” Jawab Vadeo lalu tangannya terulur mengambil cangkir yang berisi kopi hitam di atas meja di dekatnya. Vadeo lalu menyesap kopi yang berada di dalam nya.


“Kamu hubungi Eveline agar menyiapkan mobil dan siap menjemput di bandara sewaktu waktu kita datang.” Ucap Vadeo setelah menyesap kopi. Bang Bule Vincent pun lalu meraih hand phone dari saku celana cargonya. Dia segera mengusap usap layar hand phone nya dan menghubungi Eveline, mengatakan apa yang disuruh oleh Vadeo.


“Apa mereka masih disekap di dalam kamar?” tanya Bang Bule Vincent pada Eveline setelah menyampaikan apa yang disuruh oleh Vadeo.


“Iya Bang, masih di dalam kamar tidak boleh keluar ke mana mana. Tetapi mereka berempat dalam keadaan sehat. Diberi makan dengan layak dan kata mereka diberi jamu juga, akan tetapi mereka tidak meminum jamu itu. Katanya mereka buang ke dalam closed.” Suara Eveline dengan nada serius.


“Hah.. benar benar kurang ajar nenek tua itu. Sudah tua bangka tidak tahu diri.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada kesal.

__ADS_1


“Kamu lantai terus keadaan keempat anak itu. Dan tunggu dua hari lagi kami akan datang.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya. Lalu dia memutus sambungan teleponnya. Dan sesaat kemudian..


“Papa... Ante.... (Papa... Uncle....).” teriak Valexa dan Deondria yang berlarian dari taman bunga menuju ke teras tempat Vadeo dan Bang Bule Vincent sedang duduk di kursi teras sambil mengamati mereka berdua.


“Papa apa cudah ciap pecawat tan bandaya di cana? (Papa apa sudah siap pesawat dan bandara di sana)?” tanya Valexa setelah berada di dekat Sang Papa.


“Sudah Sayang apa ada lagi yang perlu disiapkan?” tanya Vadeo sambil meraih tubuh kedua anaknya lalu dipangku nya.


“Papa sudah menyuruh Aunty Eveline menyiapkan mobil.” Ucap Vadeo selanjutnya


“Bro yang tepat itu kamu menyuruh aku dan aku yang menyuruh Eveline.” Saut Bang Bule Vincent protes.


“Halah gitu saja protes kamu Bul.” Ucap Vadeo sedangkan Valexa dan Deondria hanya melirik ke arah Bang Bule Vincent karena sudah hafal jika Sang Papa dan Sang Uncle nya selalu berdebat.


“Pa, Om Yicado bial mendaga di cini (Pa, Om Richardo biar menjaga di sini).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan.


Sementara itu di lain tempat Tuan Njun Liong di dalam kamarnya tampak gelisah. Karena sudah beberapa hari di rumah mewah Mamah Mimi tidak mendapatkan hasil apa apa. Bahkan justru yang dia lihat Mamah Mimi dan Nyonya Siu Lie malah sibuk melakukan perawatan kecantikan setiap waktu bagai lupa akan tujuannya semula.


“Tidak bisa dibiarkan terus begini. Aku juga harus bergerak dengan caraku sendiri.” Gumam Tuan Njun Liong sambil berjalan mondar mandir di dalam kamarnya.


“Hmmm aku hubungi saja Tuan Richie agar masuk ke dalam kamarku, aku ajak berdiskusi.” Ucap Tuan Njun Liong lalu mengambil hand phone dari saku bajunya untuk menghubungi Richie. Dan beberapa menit kemudian.


TOK TOK TOK

__ADS_1


TOK TOK TOK TOK


Suara pintu kamar Tuan Njun Liong terdengar bunyi ketukan. Tuan Njun Liong pun segera melangkah menuju ke pintu dan dengan cepat dia membuka daun pintu itu.


“Ada apa Tuan?” tanya Richie yang sudah berada di depan pintu.


“Masuk!” ucap Tuan Njun Liong dan Richie pun segera masuk ke dalam kamar Tuan Njun Liong. Tuan Njun Liong menutup lagi pintu kamar itu dengan rapat rapat. Lalu mereka berdua melangkah menuju ke sofa dan segera mendudukkan pantat nya di sana.


“Tuan Richie kita harus gunakan strategi lain. Sudah berhari hari kita di sini tidak ada hasil apa pun. Uang saya malah habis tidak jelas.” Ucap Tuan Njun Liong sambil menatap wajah Richie dengan serius.


“Saya juga berpikir begitu Tuan. Kalau saya dengar dengar Mamah Mimi sedang menyiapkan ritual untuk malam bulan purnama agar kekuatan menjadi sempurna bisa melihat lagi dua bocah itu.” Ucap Richie dengan serius pula.


“Hmmm okey aku percaya kalau Mamah Mimi punya kekuatan mistis, aku sudah merasakan kakiku sakit tidak ketulungan. Tapi aku pikir pakai dua cara lebih baik. Kita di sini memang sudah tidak bisa lepas dari Mamah Mimi.” Ucap Tuan Njun Liong yang kini menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


“Tapi aku masih punya kekuatan di sana.” Ucap Tuan Njun Liong dengan senyum mengembang di bibirnya.


“Kapal besarku sudah bersandar di pelabuhan Philipina, dan di dalam kapal itu masih banyak orang orangku lengkap dengan senjatanya.” Ucap Tuan Njun Liong dengan mata yang berbinar binar.


“Benar Tuan. Bagaimana jika mereka diperintahkan untuk bergerak menuju ke pulau harta karun itu lagi.” Ucap Richie yang kini juga mulai bersemangat.


“Tepat aku juga berpikir seperti itu.” Ucap Tuan Njun Liong lalu menegakkan tubuhnya lagi.


“Tapi bagaimana jika ada hujan badai yang kata Mamah Mimi akibat ulah dua bocah nakal itu.” Gumam Tuan Njun Liong dengan nada khawatir.

__ADS_1


“Tuan, bukannya kedua bocah itu sedang bersembunyi menurut kata Mamah Mimi.” Ucap Richie sambil menatap Tuan Njun Liong.


“Benar benar benar....” gumam Tuan Njun Liong sambil mengangguk anggukan kepalanya..


__ADS_2