Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 86. Penawaran Sepuluh Kali Lipat


__ADS_3

“Tuan maafkan kami lagi.” Ucap Vadeo setelah berdiri di dekat Tuan Rangga.


“Demi keamanan Tuan Rangga bagaimana jika Tuan tinggal di Mansion saya. Di sana juga ada klinik kesehatan dengan dokter jaga yang siap setiap saat. “ ucap Vadeo dengan hati hati.


“Bagaimana dengan rumah dan cucu ku?” tanya Tuan Rangga sambil menatap Vadeo lalu menatap Juna sang cucu yang sekaligus asisten pribadinya yang duduk agak jauh namun masih bisa mengawasi Tuan Rangga.


“Cucu Tuan bisa ikut serta. Rumah Tuan bisa tetap dijaga oleh Asisten rumah tangga Tuan dan nanti kami tambah dengan petugas keamanan.” Jawab Vadeo sambil menatap Tuan Rangga dan selanjutnya juga menatap Juna.


“Okey, aku rasa itu baik karena manuskrip ini benda yang sangat langka dan berharga pasti ada orang jahat yang menginginkan nya. Orang orang yang berhubungan dengan manuskrip ini pasti dalam pantauan orang jahat.” Ucap Tuan Rangga yang sudah berpengalaman melihat manuskrip manuskrip.


“Benar Tuan, saya khawatir dengan keselamatan Tuan, khawatir jika ada yang ingin menjadikan Tuan sebagai tawanan karena Tuan bisa membaca manuskrip ini.” Ucap Vadeo selanjutnya.


“Jun, kamu siapkan segala yang perlu kita bawa.” Ucap Tuan Rangga pada Juna.


Juna pun tampak bangkit berdiri. Mereka sepakat untuk segera menuju ke Mansion Jonathan agar bisa menerjemahkan isi di dalam manuskrip itu dengan tenang.


Vadeo lalu menghubungi salah satu sopir yang ada di Mansion untuk segera menjemput di rumah Tuan Rangga, lengkap dengan satu orang tenaga medis. Karena Vadeo sangat mengkhawatirkan kesehatan Tuan Rangga yang sudah tua renta itu.


Beberapa menit kemudian Juna sudah siap dengan dua koper besar, dan tidak lama kemudian mobil yang digunakan untuk menjemput Tuan Rangga pun sudah tiba.


“Jun, kamu bawa koper itu ke mobil yang baru datang menjemput. Tuan Rangga nanti ada yang mengurusnya.” Perintah Vadeo pada Rangga . Dan Rangga pun keluar dengan membawa dua koper besar di saat pintu sudah terbuka muncul satu perawat yang siap masuk ke dalam rumah Tuan Rangga.

__ADS_1


“Tuan, dia perawat yang akan melayani kesehatan Tuan.” Ucap Vadeo yang memperkenalkan perawat itu pada Tuan Rangga. Tuan Rangga pun tersenyum senang. Lalu perawat itu tampak mendorong kursi roda Tuan Rangga dengan hati hati.


“Bul kamu ikut ke dalam mobil mereka.” Ucap Vadeo pada Bang Bule Vincent saat mereka sudah keluar dari rumah Tuan Rangga.


Beberapa menit kemudian dua mobil itu pun sudah berjalan meninggalkan kawasan perumahan sederhana itu dan berjalan menuju ke Mansion Jonathan.


“Hmmm memang benar, lebih baik Tuan Rangga lebih awal berada di dalam mansion sebelum orang orang mencari dirinya.” Gumam Vadeo dalam hati yang kini duduk seorang diri di belakang jok kemudi tanpa Bang Bule Vincent.


“Aku sebenarnya sudah tidak sabar untuk mendengarkan isi cerita du dalam manuskrip itu. Kalau orang orang menyebutnya dengan pulau Kemakmuran pasti itu karena pulau itu subur. Tadi dibilang ada tanaman dan ikan ikan budidaya. Berarti dulu ada kehidupan di sana. Tapi kenapa sebelum aku beli menjadi pulau yang tidak berpenghuni? Dan orang orang tidak berani masuk? Hanya penjahat saja yang masuk dan itu tidak lama sudah tertangkap tim Bang Bule. “ gumam Vadeo dalam hati.


Di saat Vadeo masih bertanya tanya. Hand phone di dalam saku jas nya berdering. Vadeo segera meraih hand phone nya dari dalam saku jas nya itu. Saat di lihat nama kontak Bang Bule Vincent melakukan panggilan suara. Vadeo segera menggeser tombol hijau dia khawatir jika kesehatan Tuan Rangga terganggu saat di dalam perjalanan.


“Hmmm tidak hanya manuskrip nya yang harus dijaga dengan hati hati. Orang yang bisa membacanya pun juga harus dijaga dengan hati hati.” Gumam Vadeo sambil menggeser tombol hijau.


“Bro, siap siap kamu. Namamu sebagai pemilik pulau Alexandria sudah muncul dalam pencarian informasi sekarang.” Suara Bang Bule Vincent di balik hand phone Vadeo.


Dan sesaat kemudian banyak modifikasi masuk ke dalam hand phone Vadeo.


“Bro, kamu kirim anak buahmu untuk memperketat penjagaan pulau Alexandria. Alexa juga sudah memperbaiki aplikasi untuk memantau pulau itu.” Ucap Vadeo selanjutnya. Dan setelah Bang Bule Vincent mengiyakan sambungan teleponnya terputus.


Vadeo mengusap usap layar hand phone nya untuk melihat banyak email yang masuk. Saat dilihat banyak alamat alamat email asing yang akan membeli pulau Alexandria. Bahkan sudah ada yang menawarkan harga sepuluh kali lipat dari harga saat dia membeli pulau itu.

__ADS_1


“Hah... Aku membangun pulau itu tidak dengan biaya sedikit. Belum lagi tentang memori pulau itu. “ gumam Vadeo dan belum juga membalas email email itu.


“Ah aku belum mengecek anak dan istri ku.” Gumam Vadeo selanjutnya. Lalu dia akan menghubungi lagi Richardo dan Alexandria untuk memastikan keamanan nya.


Sementara itu di belahan bumi lain, kapal besar Tuan Njun Liong masih terus berlayar. Tuan Njun Liong tersenyum senang karena sudah mendapatkan informasi pemilik pulau yang ada harta karun nya itu.


“Tuan, apa Tuan sudah mendapatkan informasi tentang pulau itu?” tanya Richie sambil menatap serius Tuan Njun Liong yang wajah nya tampak bahagia.


“Sudah sudah... Aku sudah akan membelinya. Aku katakan aku sanggup membeli sepuluh kali lipat dari harga yang dulu dia beli. Dia belum membalasnya pasti masih berpikir pikir... “ ucap Tuan Njun Liong dengan senyuman penuh kemenangan.


“Aku yakin pasti sudah banyak yang ingin juga membeli pulau itu. Karena orang orang yang juga mencari harta karun pasti mengintai setiap gerak gerikku.” Ucap Tuan Njun Liong lagi dengan nada serius.


“Bagaimana kalau ada yang memberikan harga lebih tinggi Tuan?” tanya Richie dengan nada dan ekspresi khawatir.


“Kamu tenang saja.. Mereka tidak memiliki peta ini. Meskipun bisa membeli pulau itu kalau tidak memiliki peta in percuma saja akan kesulitan untuk mencari letak di mana harta karun itu berada ha.... ha... ha.... “ ucap Tuan Njun Liong lagi sambil tertawa terbahak terbahak dan menepuk nepuk dada nya karena peta harta karun itu dia simpan di dalam bajunya agar tidak diambil oleh orang lain.


“Kecuali....” ucap Tuan Njun Liong selanjutnya yang kini sudah berhenti tertawa nya. Dan tampak wajah dan nada suara nya khawatir.


“Kecuali apa Tuan?” tanya Richie dengan ekspresi wajah dan nada suara antara penasaran dan juga bercampur rasa khawatir.


“Semoga saja itu tidak terjadi. Karena aku pikir itu sangat sulit.” Ucap Tuan Njun Liong dengan lirih seperti bicara pads diri nya sendiri sedangkan Richie tampak mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“Tuan kecuali apa?” tanya Richie lagi...


....


__ADS_2