
Kelima orang itu pun menatap pada satu benda tipis lebar yang tertempel pada batang pohon. Selembar kertas yang bertuliskan lowongan pekerjaan untuk para pemuda.
“Coba kita mendekat, apa syarat dan sepertinya itu ada kontak yang bisa dihubungi.” Ucap Eveline sambil berjalan lebih mendekat ke arah pohon yang batangnya ditempeli oleh kertas brosur lamaran pekerjaan. Keempat pemuda tampan utusan itu pun turut mempercepat langkahnya mengikuti Eveline. Mereka berlima memang sengaja berjalan kaki dari tempat penginapan ke gedung pemerintahan setempat selain letaknya yang tidak terlalu jauh, juga untuk melihat lihat situasi kota.
“Aku curiga lowongan pekerjaan ini, perempuan tua itu yang membuat. Hmmm mereka sudah berekspansi ke luar kotanya.” Ucap Eveline setelah membaca tulisan yang ada di kertas yang tertempel di batang pohon itu.
“Iya kalau melihat syarat syaratnya hanya umur, sehat, penampilan menarik, tinggi badan dan berat badan seimbang.” Ucap salah satu dari empat pemuda utusan Bang Bule Vincent itu.
“Coba kamu hubungi nomor yang ada di situ.” Perintah Eveline pada salah satu dari keempat pemuda tampan itu.
“Sudah aku simpan nomornya Nona, kita mencari surat keterangan dulu dari pemerintah setempat.” Ucap salah satu dari pemuda itu yang sudah menyimpan nomor hand phone yang tertulis di lembar kertas lowongan pekerjaan.
Mereka berlima pun segera melanjutkan berjalan kaki menuju ke gedung pemerintahan setempat. Saat sampai di pintu gerbang itu tampak banyak pemuda pemuda dengan penampilan yang menarik berada di gedung pemerintahan itu. Ada yang sedang berdiri sambil berbincang bincang ada yang sedang duduk duduk di kursi antrian.
“Apa mereka akan melamar pada lowongan pekerjaan yang informasinya tertempel di pohon itu.” Gumam Eveline yang penasaran sebab banyak pemuda tampan dan gagah tampak mereka umurnya masih sangat muda yang berada di gedung pemerintahan itu.
__ADS_1
Eveline terus melangkah menuju ke petugas penerimaan tamu, sedang keempat pemuda temannya mendekati para pemuda yang sedang berdiri berbincang bincang untuk mencari cari informasi.
Eveline menyampaikan maksud kedatangannya pada petugas penerima tamu dan dengan menunjukkan kartu identitasnya. Petugas penerima tamu itu pun segera menyuruh Eveline masuk ke dalam ruang pimpinan. Dan karena organisasi Bang Bule Vincent resmi dan juga sudah dikenal oleh bapak pimpinan itu. Eveline pun disambut dengan baik oleh bapak pimpinan kantor itu.
“Terima kasih Nona atas kehadiran Nona dan tim nya di kota kami ini. Saya benar benar tidak menaruh curiga pada brosur brosur lowongan pekerjaan yang tertempel di jalan jalan itu. Banyak pemuda yang tertarik karena syaratnya tidak berat apalagi pada situasi seperti sekarang ini apa apa mahal, susah mencari pekerjaan ditambah banyak phk di perusahaan perusahaan.” Ucap bapak pimpinan kantor itu setelah Eveline menceritakan misinya dan menanyakan tentang brosur yang ditempel di pohon.
“Sudah berapa lama brosur itu ada Pak?” tanya Eveline
“Belum lama, dan mereka yang membutuhkan pekerjaan langsung datang ke sini untuk mencari surat surat. Banyak pemuda pemuda yang baru lulus sekolah belum memiliki kartu identitas kependudukan karena mereka sebelumnya masih menggunakan kartu pelajarnya.” Jawab bapak pimpinan kantor itu.
“Ooo kalau belum lama biar saja dulu Pak, biar yang menempelkan brosur itu tidak menaruh curiga. Akan tetapi untuk keselamatan pemuda pemuda kota ini, pembuatan surat surat agak diperlama saja Pak.” Usul saran Eveline.
Setelah Eveline sudah selesai dia pun keluar dari ruang bapak pimpinan itu. Tidak lupa mereka saling mengucapkan kalimat terima kasih. Sesaat Eveline masih melihat keempat pemuda temannya itu masih berbincang bincang dengan pemuda pemuda kota itu yang berdiri mengantre .
“Hah, kalian kenapa lebih cepat selesai aku masuk loket pun belum. Aku yakin kalian juga akan melamar pekerjaan untuk menjadi pegawai hotel itu.” Ucap salah satu dari mereka tampak kesal karena keempat pemuda tampan yang baru datang sudah mau pulang.
__ADS_1
“Tidak Bro, kami hanya minta surat keterangan sebagai tamu di kota ini.” Ucap salah satu pemuda tampan utusan Bang Bule Vincent. Dan mereka berlima pun segera meninggalkan lokasi gedung pemerintahan setempat itu untuk kembali ke penginapan.
“Benar Nona, dari informasi yang aku dapat mereka sudah menghubungi kontak di nomor hand phone brosur itu. Lowongan pekerjaan untuk menjadi karyawan hotel berbintang. Para pemuda tadi akan segera melamar pekerjaan itu.” Ucap salah satu dari keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent.
“Iya, kita harus segera menuju ke kota perempuan para normal itu sebelum banyak memakan korban.” Ucap Eveline sambil mempercepat langkah kakinya.
"Termasuk kami Nona jangan sampai menjadi korban." ucap salah satu dari keempat pemuda tampan utusan Bang Bule Vincent itu. Dan Eveline hanya mampu tersenyum datar, karena dia pun juga khawatir dengan nasib keempat temannya itu.
Sementara itu di rumah praktik Mamah Mimi. Mamah Mimi kembali masuk ke dalam ruang praktiknya bersama Nyonya Siu Lie dan Tuan Njun Liong juga Richie. Kini sang pengawal tidak diizinkan masuk oleh Mamah Mimi karena dianggap oleh Mamah Mimi yang menyebabkan gagalnya dia melihat bola kristal.
“Aku kira sekarang aku bisa menunjukkan pada kalian dua bocah yang sudah membuat kapal kamu itu tenggelam.” Ucap Mamah Mimi yang kini sudah kembali berpenampilan dengan pakaian hitam hitam dan juga penutup kepala hitam hitam. Karena dia pikir sudah berganti hari Dan dia pun sudah melakukan ritual maka ilmunya akan kembali hebat. Mamah Mimi lalu memejamkan matanya dan mulut kembali komat kamit membaca mantra mantra. Setelah selesai membaca mantra mantra dua telapak tangan Mamah Mimi mengusap usap permukaan bola kristal dengan bibir tersenyum dan penuh keyakinan akan bisa menunjukkan dua bocah di dalam bola kristalnya. Dan saat Mamah Mimi membuka matanya, dia melotot dan wajahnya tampak kaget sebab tetap saja tidak melihat apa apa di dalam bola kristal itu.
“Mamah Mimi saya harus percaya apa lagi? Saya bisa laporkan Mamah Mimi dan kamu Siu Lie karena sudah menipu aku.” Ucap Tuan Njun Liong tampak kesal karena merasa ditipu oleh Nyonya Siu Lie dan Mamah Mimi.
“Hai kamu jangan sembarangan menuduh aku!” teriak Mamah Mimi penuh emosi. Lalu dia membalikkan tubuhnya dan mengambil satu boneka santet yang terbentuk laki laki.
__ADS_1
“Kalau kamu tidak percaya aku akan buktikan kepada kamu sekarang juga.” Ucap Mamah Mimi sambil membawa boneka santet yang berbentuk laki laki itu dan tangan kanannya kini mengambil satu buah jarum. Mamah Mimi itu lalu menatap tajam pada wajah Tuan Njun Liong.
“Kamu rasakan!” teriak Mamah Mimi sambil tangan kiri membawa boneka santet dan tangan kanan membawa jarum yang siap ditusukkan pada boneka santet itu.