
Vadeo terus fokus menatap layar lap top. Jari jarinya pun menekan nekan tuts key board lap top. Dia yang juga penasaran akan penyebab tenggelamnya kapal besar itu melihat rekaman CCTV yang pasang di bawah air laut. Dia pun sama seperti Richardo yang kaget dan takjub melihat barisan ikan ikan besar dan binatang air yang berkumpul sehingga menyebabkan kapal besar itu tenggelam.
“Do, kamu sudah lihat ini?” tanya Vadeo tanpa menoleh ke arah Richardo yang masih sibuk dengan hand phone nya. Richardo pun lalu menoleh ke arah lap top.
“Sudah Tuan. Nyonya Alexa juga penasaran dengan penyebab kapal tenggelam kemarin, dia khawatir kalau saya salah tekan tombol dan membuat ada bom yang meledak.” Ucap Richardo masih menatap layar lap top.
“Tapi Nyonya Alexa malah belum melihat itu, sebab tiba tiba perut mual mual.” Ucap Richardo selanjutnya.
“Hmmm Do, kemungkinan ikan ikan dan binatang binatang laut yang besar besar ini berkumpul atas perintah Aca dan Aya.” Ucap Vadeo sambil ekspresi wajahnya terkagum kagum melihat rekaman CCTV di bawah laut itu.
“Saat di pesawat mereka berdua tampak diam akan tetapi sangat serius. Tubuh mereka basah oleh keringat. Aku sempat khawatir kalau mereka sakit. Kamu tahu kan aku lupa tidak membawa tim medis saat berangkat untuk menyerang perempuan tua juga Richie itu.” Ucap Vadeo dengan nada serius dan ada rasa sesal karena lupa membawa tim medis dan untung semua selamat tidak ada yang sakit hanya ada yang gatal gatal akibat kontaminasi senjata rahasia buatan Ixora.
“Yang sakit Nyonya Alexa, Tuan. Mual mual terus.” Gumam Richardo.
“Itu sakit karena perbuatanku Do.” Gumam Vadeo
“Aku akan memanggil Bang Bule Vincent untuk melihat keajaiban ini.” Ucap Vadeo lalu dia mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi Bang Bule Vincent. Akan tetapi hand phone milik Bang Bule Vincent tidak aktif. Vadeo pun lalu menghubungi hand phone milik Ixora dan hasilnya sama saja hand phone Ixora pun juga tidak aktif.
“Hmmm hand phone Bang Bule dan Ixora mati semua.” Gumam Vadeo dengan kesal.
__ADS_1
“Mungkin sedang membuat penyakit mual Tuan.” Ucap Richardo tanpa menoleh dan tanpa senyuman. Vadeo pun lalu bangkit berdiri.
“Kamu pantau terus itu sampai kondisi aman. Nanti malam kamu istirahatlah biar diganti Bang Bule Vincent. Dia kan sudah istirahat sore ini.” Ucap Vadeo lalu dia melangkah keluar dari ruang kerjanya untuk menuju ke kamar ingin memberi tahu pada Alexandria tentang apa yang sudah dia lihat di rekaman CCTV bawah laut.
Saat Vadeo baru saja berjalan beberapa langkah dari pintu ruang kerjanya. Hand phone di dalam saku bajunya berdering. Dia pun segera mengambil hand phone miliknya itu. Saat dilihat di layar hand phone miliknya tertera nama kontak Pak Pilot, Vadeo pun segera menggeser tombol hijau.
“Tuan, Nyonya Jonathan memerintahkan saya untuk menjemput besok pagi.” Suara Pak Pilot di balik hand phone milik Vadeo.
“Hah? Kondisi belum aman. Masih ada orang orang di dalam kapal karet yang berkeliaran kita tidak tahu jika mereka masih ada yang membawa senjata jarak jauh. Aku baru saja memerintahkan untuk melakukan pengejaran pada mereka. Tunggu dulu kalau situasi sudah benar benar aman.” Suara Vadeo dengan nada tinggi.
“Tolong Tuan Vadeo yang mengatakan hal itu pada Nyonya Jonathan. Saya sudah mengatakan kalau situasi masih belum aman tetapi Nyonya Jonathan mengatakan kalau situasi sudah aman. Katanya juga dia membawa pesanan Nyonya Alexa yang harus segera sampai ke pulau Alexandria.” Suara Pak Pilot lagi di balik hand phone milik Vadeo.
“Hmmm ya sudah aku yang mengatakan pada Mama.” Ucap Vadeo lalu dia memutus sambungan teleponnya dengan Pak Pilot.
“Deo, kamu itu gimana sebagai suami dan seorang ayah. Istri ngidam minta ikan laut diberi ikan asin. Apa uang mu tidak cukup untuk membeli ikan laut hah?.... Aku akan subsidi kamu ikan laut yang banyak dan semua ikan asin yang kamu beli itu harus kamu habiskan..” suara Nyonya Jonathan dengan lantang sebelum Vadeo berbicara satu patah kata pun.
“Ma... itu karena akibat salah paham dan juga karena ide Bang Bule Vincent, Ma..” ucap Vadeo membela diri tidak mau disalahkan secara penuh.
“Lagian Alexa juga sudah tidak marah sudah dapat ikan penggantinya.” Ucap Vadeo lagi.
__ADS_1
“Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku besok akan datang ke pulau Alexandria dengan membawa banyak pesanan Alexa agar cucuku tidak ngeces.” Ucap Nyonya Jonathan lalu menutup sambungan teleponnya.
“Ma, situasi belum aman...” ucap Vadeo akan tetapi sambungan teleponnya pada Sang Mama Jo sudah terputus dan berkali kali Vadeo mencoba menghubungi lagi akan tetapi selalu ditolak oleh Sang Mama.
Vadeo lalu melangkah menuju ke kamarnya untuk meminta bantuan pada Istrinya agar membujuk pada Sang Mama untuk menunda dulu keberangkatannya ke pulau Alexandria.
Saat Vadeo melangkah dia melihat sosok Bang Bule Vincent dan Ixora yang berjalan dengan ekspresi wajah yang sangat kusut dan penuh kekecewaan. Bang Bule Vincent tampak menarik koper besarnya, Ixora pun tangannya membawa tas tas miliknya.
“Bul mau kemana kalian?” tanya Vadeo dengan suara lantang.
“Sial benar Bro. Aku dan Ixora lagi enak enaknya digedor gedor pintu kamar oleh pelayan kamu. Dan setelah dibuka malah kami diusir katanya kamar akan dibersihkan besok pemilik kamar akan datang.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada sedih sambil terus menarik kopernya.
“Ayo Beb kita lanjutkan di kamar kita di guest house..” ucap Bang Bule Vincent mempercepat langkah kakinya. Ixora pun juga cepat cepat mengikuti langkah lebar suaminya.
“Huaha..... ha.... ha......” tawa keras Vadeo tiba tiba pecah. Bang Bule Vincent menoleh dan melotot menatap Vadeo sambil mengepalkan tangannya di arahkan pada sosok Vadeo. Dan Vadeo pun malah semakin keras tawanya.
“Pasti Oma Kucing sudah minta kamarnya dibersihkan dan tidak mau tidur satu kamar dengan Oma Jo.” Ucap Vadeo sambil geleng geleng kepala dan terus melangkah menuju ke kamarnya.
“Bang Bule Vincent pasti akan tambah kecewa jika keberangkatan Oma Oma ditunda he... he...” ucap Vadeo masih dengan tawa kecilnya.
__ADS_1
Saat Vadeo sudah sampai di depan pintu kamarnya Vadeo cepat cepat membuka pintu kamar. Akan tetapi saat daun pintu sudah terbuka tampak Alexandria terbaring di atas tempat tidur. Vadeo terus melangkah mendekati tempat tidur itu. Dan dilihatnya Alexandria tertidur dengan sangat pulas. Vadeo mengusap usap dengan lembut puncak kepala Alexandria dan tidak tega untuk membangunkannya.
“Menunggu Alexa bangun apa sekarang menelepon Mama Mertua ya...” gumam Vadeo yang terlihat ekspresi wajahnya bingung.