
“Tuan pengantin perempuan dan rombongan sudah datang. Mari kita pindah tempat duduk. Pak Penghulu Lapas juga sudah siap.” Ucap Bapak pimpinan lapas itu. Pak Penghulu yang biasa menikahkan penghuni lapas pun juga sudah berada di ruangan itu.
“Siapa pengantin pria nya?” tanya Justin bodoh.
“Siapa lagi kalau bukan Tuan Justin. Tuan Vadeo yang akan mewakili sebagai keluarga Tuan Justin. Tuan Jonathan juga sudah menyetujui.” Ucap Bapak pimpinan lapas yang sering berkomunikasi dengan Tuan Jonathan untuk menyampaikan hasil perkembangan Justin.
“Mari Tuan.” Ucap Bapak pimpinan lapas itu lagi.
“Saya tidak mempunyai apa pun untuk mas kawin dan bayar ini semua. Saya hanya punya tas berisi beberapa helai baju saya ini.” Ucap Justin tampak kuatir dan dia masih duduk dengan wajah bengong. Tangannya memegang tas kecil yang dia taruh di atas kursi sampingnya. Sedangkan rombongan Vadeo sudah duduk di tempat yang disediakan. Pandangan mata Boy terus tertuju pada sosok Justin, akan tetapi dia siap siap untuk mengalihkan pandangannya jika Justin menatapnya. sedangkan Justin kini tampak menatap Vadeo, yang sudah duduk di kursi dekat meja besar. Pak Penghulu pun sudah duduk di dekat meja itu, demikian juga Wika dan Pak No yang akan mewakili ayahnya yang sudah meninggal. Sedangkan ibu dan saudara saudaranya tinggal di kampung yang jauh. Mereka akan datang di hari resepsi.
“Semua sudah disiapkan oleh Tuan Vadeo. Mas kawin, cincin kawin semua sudah siap.." ucap Bapak pimpinan lapas.
Akhirnya Justin pun bangkit berdiri dan berjalan bersama bapak pimpinan lapas menuju ke kursi yang sudah disiapkan untuk pengantin pria.
Akhirnya acara akad nikah itu pun berjalan meskipun Justin harus mengulang tiga kali kalimat yang harus diucapkan. Surat hasil laboratorium uji test DNA Boy dan Justin merupakan salah satu mas kawinnya.
Setelah ketiga kalinya baru terdengar kata sah dari para orang orang yang ada di ruang pertemuan itu. Tidak ketinggalan mulut imut Twins pun ikut ikut mengucapkan.
“Cah...” teriak Valexa dan Deondria dengan senyuman yang lebar di bibit mungilnya.
“Cah Boy, Ante Justin cudah jadi Papa mu.. cana tacih peyuk tan cium.. ( Sah Boy , Uncle Justin sudah jadi Papa mu, sana kasih peluk dan cium..).” ucap Deondria sambil menoleh ke arah Boy yang duduk di dekat nya. Boy tampak bingung.
__ADS_1
“Ayo kita antal..” ucap Valexa lalu ketiga bocah itu pun berjalan menuju ke meja besar di mana dua pengantin masih sibuk menanda tangani surat surat.
“Ante Justin ....” teriak Valexa dan Deondria. Justin pun menoleh pada arah suara itu. Pandangan matanya pun juga menatap Boy yang berdiri di antara Valexa dan Deondria.
“Ini anakmu...” ucap Valexa dan Deondria selanjutnya. Sambil menoleh dan memegang pundak Boy. Boy ekspresi wajahnya masih tampak takut takut memandang wajah Justin.
“Papa....” ucap Boy lirih dan air mata tiba tiba mengalir dari kedua ujungnya. Tangan mungil Boy dengan gemetar terulur memberanikan diri untuk memberi salam pada Justin, dia akan mencium punggung tangan Justin itu seperti yang biasa dilakukan anak anak pada orang tua nya. Justin memegang bolpen masih saja menatap tiga bocah kecil itu. Lalu dia melihat tangan mungil Boy yang terulur ke arah dirinya.
Justin pun lalu melepas bolpen di telapak tangannya dan selanjutnya menerima tangan mungil itu.
“Boy.” Ucap Justin sambil menerima tangan mungil Boy yang dingin dan gemetar. Boy pun lantas mencium punggung tangan Justin.
“Gendong Boy!” perintah Vadeo sambil menepuk keras pundak Justin. Justin pun akhirnya mengangkat tubuh mungil Boy wajah Boy tampak basah oleh air matanya. Justin menggendong tubuh Boy dan wajah Boy tertunduk di pundak Justin.
“Cium Boy anakmu Ante Justin!” perintah Deondria dengan lantang sedang tangan mungil Valexa memukul pantat Justin.
“Iya iya ... ” Ucap lirih Justin lalu Justin pun menciumi wajah basah Boy. Boy masih saja menangis sebab Papanya melakukan masih karena perintah dari Twins dan Vadeo.
Setelah acara salam salaman. Mereka menikmati jamuan yang sudah dipesan pada jasa catering. Semua penghuni lapas pun juga ikut menikmati jamuan yang sudah di pesan oleh keluarga Vadeo itu. Setelah acara makan makan selesai mereka pun bersiap siap untuk pulang.
“Kita semua pulang ke Mansion Jonathan lebih dulu.” Ucap Vadeo pada rombongannya.
__ADS_1
Sementara itu, di lain tempat Riris pun juga sudah bebas. Dia dijemput oleh temannya. Kini mereka berdua berada di tas taxi on line yang menuju ke lapas tempat Justin berada.
“Aku sudah tidak sabar untuk menemui Justin.” Ucap Riris sambil tersenyum mesum.
“Kamu pasti sudah tidak sabar untuk enak enakan dengan Justin ha... ha...” Ucap teman Riris sambil tertawa hingga pak sopir taxi on line itu melihat penumpangnya dari kaca spion depannya.
“Iya lah selama di penjara aku hanya self service saja mana enaknya coba.” Ucap Riris dengan bibir cemberut temanya pun malah ssmakin tertawa terbahak bahak.
Sesaat mobil taxi on line itu sudah berada di dekat lokasi gedung lapas tempat Justin berada.
“Berhenti di luar pagar saja tidak usah masuk halaman.” Ucap Riris pada Pak Sopir mobil taxi on line itu.
“Kok tampak ramai Ris? Banyak mobil dan motor dan lihat itu macam ada acara, itu banyak orang orang pakai baju batik.” Ucap teman Riris saat melihat banyak mobil dan motor parkir di halaman gedung lapas. Dan orang orang memakai kemeja batik berjalan dari dalam gedung lapas. Mereka adalah tamu tamu acara akad nikah Justin dan Wika.
“Mungkin ada acara pegawai pegawai lapas. Mungkin ada pegawai lapas yang pensiun lalu ada acara pelepasan.” Ucap Riris karena saat dia berada di dalam lapas, pernah ada acara pelepasan pegawai yang sudah pensiun.
“Kita tanya pada petugas saja apa Justin masih di ruang tunggu.” Ucap Riris selanjutnya sambil membuka pintu mobil taxi on line yang sudah berhenti di luar pagar gedung lapas. Teman Riris pun juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua turun dari mobil dan melangkah menuju ke pintu gerbang gedung lapas.
Mereka berdua terus berjalan menuju ke tempat petugas lapas penjaga gerbang. Sementara itu semakin banyak orang orang yang keluar dari dalam gedung lapas menuju ke motor atau mobil mereka yang terparkir.
"Selamat siang Pak." sapa Riris pada petugas pintu gerbang gedung lapas itu.
__ADS_1