
Sementara itu di kamar pengantin. Justin yang sudah selesai makan malam bangkit dari tempat duduknya. Sejak tadi dia sambil makan sesekali melirik melihat sosok Wika yang juga sedang makan dan duduk di sofa yang tidak jauh dari dirinya. Akan tetapi mereka berdua makan hanya diam tidak berbicara sepatah kata apa pun.
“Kalau kamu sudah selesai makan, biar meja dorong tetap di situ. Jangan kamu keluarkan. Nanti ada orang melihat tubuhmu itu. Memalukan!” ucap Justin dengan nada ketus lalu dia melangkah menuju ke kamar mandi. Wika hanya menganggukkan kepalanya.
“Hmmm kenapa aku jadi memedulikan dengan tubuhnya. Bukan nya pasti sudah biasa laki laki melihat tubuhnya.” Gumam Justin dan terus melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket karena keringat, akibat kegiatan satu paket.
Wika yang sudah selesai makan. Dia meringkasi alat alat makan dan dia taruh lagi di atas meja dorong. Lalu dia kembali duduk di sofa. Tiba tiba dia teringat akan Boy.
“Boy pasti ingin tidur dengan aku dan Papanya yang sudah sangat dia rindu. Tapi seperti malam ini sudah direncanakan oleh Tuan Vadeo, aku dan Tuan Justin dikurung di dalam kamar ini.” Gumam Wika dalam hati yang juga teringat akan hand phone yang masih berada di dalam kamar Boy. Tapi bagaimana bisa dia mengambilnya jika tidak ada baju yang benar yang bisa dipakai. Dan hanya dikurung di dalam kamar berdua dengan Justin dengan menggunakan pakaian tidak benar.
“Bagaimana kalau aku hamil lagi. Apa Tuan Justin akan marah marah lagi. Pasti dia masih mencintai Nona Riris.” Gumam Wika dalam hati.
“Tidak apa jika Tuan Justin menceraikan aku dan dia kembali pada Nona Riris. Tetapi jika aku hamil lagi. Kasihan anakku nanti dan kasihan Tuan Vadeo, Nyonya Alexa. Mereka berdua yang repot memikirkan hidup ku dan anak anakku.” Gumam Wika lagi yang khawatir jika kegiatan satu paket nya akan membuahkan hasil.
“Semoga Keluarga Tuan Vadeo selalu mendapat rejeki berlimpah dan selalu diberi kesehatan.” Doa Wika secara tulus karena mengingat kebaikan Vadeo dan Alexa .
“Hmmm dan semoga aku tidak hamil akibat kegiatan khilaf tadi.” Ucap Wika sambil mengelus elus perut nya
__ADS_1
Di saat Wika masih mengusap usap perutnya. Justin tiba tiba sudah berjalan dari kamar mandi dengan melilitkan handuk pada bagian bawah tubuhnya. Dan Justin pun melihat sosok Wika yang sedang mengelus elus perutnya.
“Kenapa dia mengusap usap perutnya? Apa dia sedang hamil?” Gumam Justin dalam hati dengan mata melotot menatap Wika. Wika yang sadar karena ditatap dengan tatapan melotot oleh Justin. Wika takut jika akan diajak berkegiatan satu paket lagi. Dia pun langsung bangkit berdiri dan berlari menuju ke kamar mandi karena dia pun juga ingin membersihkan tubuhnya
“Kurang ajar kalau dia sedang hamil. Anaknya pasti akan dikira anakku.” Ucap Justin dan membiarkan Wika berlari menuju ke kamar mandi.
Sedangkan di lain tempat. Di sebuah Cafe yang remang remang. Temannya Riris masih setia menunggu dengan duduk di sofa.
“Kok lama sekali ya...” gumam temannya Riris sebab tengah malam pun sudah berlalu. Temannya Riris juga semakin takut sebab setelah tengah malam banyak laki laki dengan wajah menyeramkan mulai berdatangan. Mereka pun duduk di ruang dalam dan melakukan pembicaraan serius yang tidak di dengar oleh telinga teman Riris itu.
“Hmmm aku terjebak di sini. Mau pulang juga sudah mulai dini hari, tidak pulang kok suasana semakin menyeramkan. Apa orang orang itu para pembunuh seperti Mr Le, ya...” gumam teman Riris sambil menundukkan kepalanya dan sibuk mengusap usap layar hand phone miliknya agar orang orang yang menyeramkan tidak melihat wajahnya.
“Nona, saya lihat sejak tadi Nona duduk sendirian di sini. Hari sudah semakin larut.” Ucap sang pelayan Cafe dengan hati hati.
“Iya saya menunggu teman saya tadi. Dia sedang dibawa oleh Mr Le.” Jawab teman Riris dengan takut takut. Wajah lelah dan mengantuknya tampak jelas sekali.
“Mereka akan lama Nona. Nona sebaiknya tidak menunggu di sini. Tuan Tuan itu merasa terganggu pembicaraan nya jika ada orang yang belum mereka kenal ada di sini.” Ucap pelayan itu lagi.
__ADS_1
“Saya harus menunggu di mana? Takut jika menunggu di luar.” Ucap teman Riris jujur apa adanya. Pelayan itu lalu mengajak teman Riris masuk ke dalam entah mau dibawa ke mana.
Sedangkan Riris di dalam kamar tampak sudah terkapar lemas lunglai karena harus melayani nafsu Mr Le yang brutal.
“Kamu sangat luar biasa Nona. Aku benar benar puas...” suara Mr Le tampak bahagia melihat lawan main nya tergolek lemas tak berdaya.
“Aku akan menemui teman temanku. Kamu boleh tidur di sini atau pulang.” Ucap Mr Le lalu dia melangkah turun dari tempat tidur. Mr Le pun segera mengenakan lagi bajunya tanpa mandi lebih dahulu. Sesaat tampak dia mengambil dompetnya dan menarik banyak lembar uang kertas seratusan ribu.
“Ini buat kamu Nona, aku tidak hanya akan melakukan apa yang kamu inginkan. Aku pun akan membayar kamu. Bagaimana baik kan aku ha.... ha .... ha... “ suara Mr Le sambil tertawa berbahak bahak.. sambil melempar berlembar lembar uang seratusan ribu ke tempat tidur.
“Tuan, Saya bukan pelacur. Saya melakukan ini karena saya tidak bisa membayar Tuan, kenapa malah saya dibayar.” Ucap Riris sangat pelan karena sudah tidak berdaya. Dia khawatir jika Mr Le tidak jadi membunuh Boy dan Wika.
“Nona tidak usah khawatir saya membayar Nona karena suka. Dan lihat saya sudah mengirim target pada teman teman saya.” Ucap Mr Le sambil memperlihatkan hand phone miliknya dia sudah meneruskan foto Boy dan Wika pada teman temannya.
Dan Riris pun tampak tersenyum senang. Mr Le pun segera melangkah meninggalkan kamar itu. Riris yang masih terkapar dengan tubuh polos itu pelan pelan bangkit dari tidurnya.
“Gila orang itu, bikin remuk tulang belulangku.” Gumam Riris dalam hati sambil meringis merasakan sakit di seluruh sendi sendi tubuhnya. Karena setelah puasa lima tahun lama nya berbuka dengan cara dihajar habis habisan secara brutal oleh Mr Le.
__ADS_1
“Hmmm bersakit sakit dahulu tidak apa apa, demi Justin. Lumayan juga aku jadi pegang uang.” Gumam Riris sambil memunguti uang uang yang tersebar di tempat tidur itu. Riris merasakan tubuhnya masih sakit, akan tetapi bibirnya tersenyum, tersenyum karena tangannya memegang uang dan tersenyum akan rencananya untuk menghabisi orang orang yang merebut Justin kekasih hatinya.
“Hmm aku coba lihat Mr Le pergi kemana tadi katanya mau menemui teman temannya.” Gumam Riris lalu segera mengenakan gaunnya.