Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 230.


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Boy sudah tidur dengan nyenyak demikian juga Wika pun ikut tidur dengan pulas juga tangan mungil Boy masih memeluk tubuh Wika dengan sangat posesif termasuk kaki mungil Boy juga menumpang pada perut Wika.


Sedangkan Justin belum juga bisa tidur. Justin mengangkat kepala dan punggungnya.


“Ma....” ucap lirih Justin sambil menepuk nepuk pelan lengan Wika akan tetapi Wika yang sudah tertidur pulas tidak mendengar dan merasakan tepukan dari Justin.


Justin lalu memandang wajah anak dan istrinya yang tidur dengan pulas itu. Dia pun akhirnya tidak sampai hati untuk membangunkan nya. Dan tiba tiba ekspresi wajah Justin terlihat sendu bukan karena nafsu..


“Mama....” gumam lirih Justin yang teringat akan sang Mamanya. Melihat Boy yang memeluk erat Wika, dia teringat saat kecil dulu yang juga sering tidur berdua dengan Sang Mama sedangkan Sang Papa nya entah tidur dengan siapa.


Justin lalu duduk di tempat tidur itu, dia cium puncak kepala Boy dengan penuh kasih sayang. Lalu wajah dia pun berpindah ke wajah Wika dia cium kening Wika dengan penuh kasih sayang pula.


“Aku akan menjaga mereka, agar nasib Mama tidak terjadi pada isteriku. Aku harus melupakan Riris demi kebaikan semua. Aku tidak akan menyakiti dan membuat kecewa lagi orang orang yang sudah baik pada aku.” Ucap Justin dalam hati sambil masih mencium kening Wika dengan dalam.


“Pa, besok pagi saat Boy sekolah saja ya.. ngantuk banget aku.” Bisik lirih Wika yang terbangun akibat ciuman dari Justin.


“Iya Ma, kapan kapan saja bukannya kita akan selalu bersama..” ucap Justin dengan nada suara yang berbeda dari biasanya yang hanya datar datar saja, kali ini nada suaranya terdengar lembut dan merdu di telinga Wika. Wika yang tadi mengantuk antara sadar dan tidak sadar kini Wika tersadar penuh. Wika pun membuka matanya dengan lebar.


Justin yang masih membelai rambut kepala Wika juga jadi kaget saat melihat mata Wika terbuka lebar. Menatap tajam pada wajah Justin yang berada tidak jauh dari wajahnya.


“Katanya ngantuk kenapa menatap aku seperti itu?” tanya Justin sambil tersenyum dan semakin membuat Wika heran.

__ADS_1


“Apa ini pengaruh mabok kopi.” Gumam Wika dalam hati sambil matanya mengerjap ngerjap menatap Justin.


“Sudah teruskan tidur. Besok sepulang Boy sekolah kita ke makam Mama dan Papa untuk meminta restu.” Ucap Justin selanjutnya dan Wika pun menduga duga mungkin suaminya baru saja teringat orang tuanya hingga nada suara nya sudah mulai berubah.


Waktu pun terus berlalu dan kini tiba saatnya hari resepsi pernikahan Justin dan Wika tinggal satu hari lagi. Semua persiapan sudah okey. Kecuali souvenir pesanan dari Vadeo masih suatu rahasia tidak ada yang tahu kecuali Vadeo saja.


“Pa, semua sudah siap. Souvenir pesanan Papa kok belum datang. Untung aku sudah pesan. Opa dan Oma nanti siang juga sudah datang. Twins dan Boy minta menjemput mereka.” Ucap Alexandria saat pagi hari akan berangkat bekerja.


“Mama tenang saja, tunggu saja besok.” Ucap Vadeo sambil menyerahkan dasi minta tolong pada istrinya untuk memasangkannya.


“Ma, nanti kita tidak usah menjemput Opa dan Oma ya, biar Justin sama anak anak. Kita lihat apa Justin sudah bisa dipercaya.” Ucap Vadeo sambil kedua tangannya memeluk pinggang sang istri yang berada di depannya sedang memasangkan dasinya.


“Iya Pa, aku juga sibuk dengan William Group, ada meeting setelah jam sepuluh kemungkinan Opa dan Oma tiba meeting belum selesai.” Ucap Alexandria sambil menyelesaikan tugasnya memasangkan dasi milik suaminya.


“Semoga Tuan Rangga tetap sehat Pa, aku tadi telepon Mama katanya semua sehat sehat. Kondisi kesehatan Tuan Rangga layak untuk melakukan perjalanan jauh.” Ucap Alexandria.


Di saat Alexa dan Vadeo akan keluar dari kamar tiba tiba pintu kaca penghubung yang tidak terkunci terbuka dengan lebar. Dan muncullah sosok Valexa dan Deondria yang sudah memakai baju seragam lengkap dengan tas mungil di punggung mereka.


“Mama... Papa... “ teriak Valexa dan Deondria.


“Aku kira kalian sudah turun ke bawah.” Ucap Alexa sambil menoleh ke arah anak anaknya.

__ADS_1


“Apa Mama dan Papa nanti tidak bica menjemput Oma dan Opa?” tanya Valexa dan Deondria secara bersamaan.


“Iya Sayang Mama dan Papa masih sibuk kerja. Kalian sama uncle Justin dan Aunty Wika ya...” ucap Alexandria sambil mengusap usap kepala kedua anaknya yang sudah berada di dekatnya. Sedangkan Vadeo tampak sedang menghubungi Justin lewat telepon.


“Om Yicado juga tidak bica Ma, dia macih ikut cidang. Ante Pin juga ikut cidang...” ucap Valexa sambil mendongak menatap Sang Mama.


“Aunty Evelin akan mengawal kalian.” Ucap Alexandria sambil menatap wajah mungil Valexa dan Deondria yang masih mendongak menatap dirinya.


“Tapi nya....” ucap Valexa dan Deondria dengan wajah tampak khawatir.


“Uncle Justin sudah siap akan menemani kalian menjemput Opa dan Oma. Boy sangat ingin melihat pesawat mendarat. Katanya Boy juga ingin naik ke pesawat kita nanti. Ingin melihat isi di dalam pesawat.” Ucap Vadeo yang baru saja selesai menghubungi Justin.


“Pa tapi nya butuh pengawal lagi, cuyuh anak buah Ante Pin ikut..” ucap Deondria sambil menoleh ke arah Sang Papa. Dan Vadeo pun mengernyitkan dahinya.


“Apa Justin belum bisa dipercaya kenapa Twins masih menginginkan anak buah Bang Bule Vincent untuk mengawal apa tidak cukup Eveline dan Justin untuk mengawal mereka.” Gumam Vadeo dalam hati sambil masih menatap wajah kedua anaknya.


“Cepat Pa telepon Ante Pin...” teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan.


“Iya iya...” ucap Vadeo lalu dia mengambil hand phone yang sudah ditaruh di saku jas nya. Lalu Vadeo pun segera menghubungi Bang Bule Vincent.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih reader tersayang yang sudah hadir dan memberi dukungan hingga bab ini. Mohon maaf jika ada salah salahnya othor


__ADS_2