
“Opa William sekarang di mana?” tanya Tuan Jonathan saat melihat back ground Tuan William.
“Opa Jo, baru punya dua cucu saja sudah pikun. Bukannya tadi Opa Jo mengundang aku makan malam sambil memikirkan nama cucu baru kita.” Ucap Tuan William yang kini sudah berada di ruang keluarga Mansion Jonathan.
“Ooowhhh iya, maaf Opa William, aku benar benar lupa kalau sudah mengundang Opa William untuk makan malam. Okey sekarang Opa William ke paviliun tamu saja, kita makan malam dengan Tuan Rangga di sini.” Ucap Tuan Jonathan dan sambungan telepon pun terputus. Tuan Jonathan lalu menyuruh sang pelayan yang masih berada di ruang itu untuk menambah lagi makanan dan perlengkapan buat Tuan William.
Sementara itu di lain tempat di pulau Alexandria. Tepatnya di ruang makan rumah Vadeo dan Alexandria, kini terlihat ruang itu lebih penuh karena bertambahnya Nyonya Jonathan dan Nyonya William, juga Bang Bule Vincent dan Ixora pun ingin turut serta makan malam di situ untuk menemani Oma Oma.
Kedua Nyonya itu selalu saja mengalihkan pembicaraan jika ditanya tentang kepergiannya ke bukit dan apa yang membuat mereka berdua pingsan.
“Ix, kapan kamu mengikuti Kakak mu hamil?” tanya Nyonya William saat Bang Bule Vincent menanyakan tentang apa yang membuat Oma Oma pingsan.
“Bule itu disuruh lebih keras dalam berusaha, mosok kalah sama Vadeo. Ixora kalau cerita katanya barangmu besar dan panjang sekali, tapi tidak ada hasil...” Gumam Nyonya William sambil melirik ke arah Bang Bule Vincent dan Ixora yang mendengar pun lalu tersedak dan tersipu malu. Tidak menyangka curhatannya pada Sang Mama malah dibuka di meja makan.
“Mama....” ucap Alexandria sambil menatap Nyonya William.
“Apa? Siapa yang memulai bicara saat kita masih makan..” ucap Nyonya William tidak mau kalah sambil melirik ke arah Bang Bule Vincent. Valexa dan Deondria terlihat hanya tenang tenang saja menikmati makan malamnya dibantu oleh Sang Papa dan Sang Mama.
“Aca, Aya besok temani Papa dan Uncle ke bukit pohon asam ya..” ucap Vadeo saat mereka sudah selesai makan.
__ADS_1
“Iya Papa...” jawab mereka berdua sambil tersenyum menatap Sang Papa. Sedangkan Nyonya William dan Nyonya Jonathan yang baru menikmati menu penutup tiba tiba tersedak dan mereka berdua terburu buru mengambil gelas yang berisi air mineral dan segera menegaknya.
“Apa Oma mau ikut?” tanya Bang Bule Vincent sambil menatap wajah Nyonya Jonathan dan Nyonya William secara bergantian. Nada suara dan ekspresi wajah Bang Bule Vincent tampak serius total akan tetapi dalam hati dia tertawa kecil.
“Tidak... tidak.. capek nya Oma belum habis.” Ucap Nyonya Jonathan sambil telapak tangannya mengibas ngibas. Sedangkan Nyonya William tampak wajahnya kembali memucat karena ingat ular besar yang menjulur julur lidahnya dan menatap tajam kepada dirinya.
“Oma baik baik aja?” tanya Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil menatap Oma Oma.
“Sedikit. Aunty Ixora setelah ini harus periksa Oma, mungkin Oma masih kecapekan.” Ucap Nyonya William sambil menatap kedua cucunya lalu menatap Ixora. Dan Ixora hanya menganggukkan kepalanya meskipun dalam hati dia juga tersenyum sebab dia juga tahu jika Oma Oma masih trauma dengan ular besar di atas bukit pohon asam.
Waktu pun terus berlalu keesok paginya. Vadeo, Bang Bule Vincent dan Si kembar sudah siap siap akan berangkat ke bukit pohon asam. Richardo pun kini juga diajak sebab tidak perlu lagi memantau aplikasi keamanan dengan full dua puluh empat jam.
Alexa dan Ixora mengantar mereka sampai ke mobil. Nyonya Jonathan dan Nyonya William pun juga ikut mengantar sampai ke mobil, mereka berdua masih penasaran kenapa yang akan ke bukit itu tidak takut dengan ular besar yang ada di atas bukit itu. Kedua Oma itu tiba tiba mengangkat kedua pundaknya dan geleng geleng kepala mengingat ujud ular besar yang sangat menakutkan buat mereka berdua.
“Mama tidak perlu malu jika Mama pingsan karena takut pada ular besar. Karena kami semua juga mengalami.” Ucap Alexandria saat mobil sudah tidak terlihat oleh pandangan mata mereka berempat.
“Cuma bedanya kami tidak diseret seret he.... he... he... “ ucap Ixora sambil tertawa kecil.
“Kok kamu tahu kalau aku diseret?” tanya Nyonya William sambil menatap tajam pada Ixora.
__ADS_1
“Tahulah Ma...” ucap Ixora sambil merangkul pundak Sang Mama dari samping. Karena yang sebenarnya Bang Bule Vincent sudah menanyakan secara mendetail pada pengawal Nyonya William, tentang apa yang sudah terjadi dengan mereka saat di bukit pohon asam.
Sementara itu mobil yang menuju ke bukit pohon asam terus melaju dengan kecepatan penuh. Vadeo ingin cepat sampai di bukit pohon asam dan segera mendapatkan kepastian diizinkan atau tidak untuk merehab bangunan kerajaan bawah tanah itu.
Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di batu besar. Setelah mobil berhenti. Valexa dan Deondria segera membuka pintu mobil dan kedua bocah itu langsung berlari dan naik ke atas bukit di bawah pohon asam. Richardo sudah diperintah oleh Vadeo agar mengikuti kedua anaknya. Sedangkan dirinya dan Bang Bule Vincent berjalan sambil melihat lihat situasi dan kondisi bukit berkaitan dengan rencananya untuk melakukan rehab bangunan.
“Tetap harus memikirkan faktor faktor agar tidak merusak bukit ini Bul.” Ucap Vadeo sambil terus melangkah.
“Benar Bro harus menjaga agar lingkungan hidup tidak rusak. Kalau terjadi longsor dan banjir di daerah bawah kamu juga yang repot .” Ucap Bang Bule Vincent yang melangkah di belakang Vadeo.
Sesaat kemudian Vadeo dan Bang Bule Vincent sudah sampai di dekat pohon asam. Valexa dan Deondria tampak sudah duduk manis di singga sana kecilnya. Dan Richardo sudah duduk bersila di tanah di dekat singga sana si Kembar.
“Kok ular besar itu tidak terlihat.” Gumam Vadeo sambil terus berjalan karena dia tidak melihat ular besar di bawah singga sana atau di depan Si Kembar.
“Mungkin sedang disuruh Twins mencari buah buah kesukaan mereka.” Ucap Bang Bule Vincent yang juga berjalan di samping Vadeo.
“Apa ular besar itu kalian suruh mencari buah?” tanya Vadeo pada Valexa dan Deondria lalu Vadeo pun duduk bersila di dekat ke dua anaknya dan berhadapan dengan Richardo. Valexa dan Deondria hanya menggeleng gelengkan kepala nya.
“Kami tiba di sini ular besar itu tidak ada Tuan.” Jawab Richardo sambil menatap Vadeo. Dan ucapan Richardo itu membuat Vadeo dan Bang Bule Vincent tampak heran dan juga khawatir.
__ADS_1
“Kok tumben Bro, dia tidak ada. Jangan jangan dia sudah tahu maksudmu akan datang ke sini dan dia tidak mengizinkan Bro.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada kecewa sambil mendudukkan pantatnya di tanah.
“Kita tunggu saja Bul.” Ucap Vadeo masih penuh harap untuk bisa bertemu dengan ular besar itu.