
Tuan Njun Liong mengusap ngusap layar hand phone nya dan dia tampak kecewa karena tidak ada balasan email dari Vadeo. Padahal yang dia nanti nanti adalah email masuk dari alamat email Vadeo.
Ternyata notifikasi yang masuk adalah pesan pesan dan email email dari jaringan orang orang pencari harta karun dan benda benda kuno.
Sesaat mata Tuan Njun Liong terbelalak kaget saat ada informasi yang mengatakan manuskrip tentang pulau yang ada harta karun nya itu sudah tidak ada di dalam museum.
“Hah siapa yang sudah bisa mencuri barang itu di dalam Museum yang dijaga ketat.” Suara Tuan Njun Liong dengan penuh emosi, wajah nya pun kini tampak tegang dan berwarna memerah menahan emosi.
Tuan Njun Liong lalu tampak sibuk dengan hand phone nya menghubungi sana sini untuk mencari tahu siapa yang mengambil manuskrip pulau yang ada harta karun nya itu.
“Hmmm kalau Tuan Vadeo sudah membeli manuskrip itu, kemungkinan dia sudah tahu jika di dalam pulau itu ada harta karun nya itu. “ ucap Tuan Njun Liong saat dia sudah mendapatkan informasi jika Tuan Vadeo Jonathan yang membeli manuskrip itu secara resmi.
“Sial, maka nya dia tidak membalas email ku.” Ucap Tuan Njun Liong sambil mengepalkan tangannya karena emosi.
“Hmmm aku harus memakai cara kasar.” Gumam Tuan Njun Liong selanjutnya lalu dia keluar dari kamarnya dengan langkah tergesa gesa.
Saat keluar dari kamar dilihatnya Richie sedang tiduran dengan ditemani oleh beberapa wanita penghibur. Mendengar suara pintu terbuka dengan kasar mereka semua menoleh.
“Tuan!” teriak Richie sambil bangkit dari tiduran nya.
“Ayo ikut aku!” suara Tuan Njun Liong tanpa menoleh dan terus melangkah. Richie pun segera bangkit berdiri dan berlari dengan kaki terpincang pincang mengikut langkah kaki Tuan Njun Liong.
Tuan Njun Liong dan Richie terus menuruni anak tangga. Dan beberapa menit kemudian mereka berdua sudah berada di lantai bawah.
“Tuan ada apa?” tanya Richie karena melihat wajah Tuan Njun Liong tampak tegang dan tidak ada lagi senyuman.
“Gawat, sepertinya pemilik pulau itu sudah tahu jika ada harta karun di pulau nya. Dia juga sudah membeli manuskrip itu. Sekarang kita rebut pulau itu dengan cara kasar.” Ucap Tuan Njun Liong lalu mengetuk ngetuk pintu pada kamar di lantai bawah kapal.
__ADS_1
TOK TOK TOK TOK
TOK TOK TOK TOK
“Itu lebih baik Tuan, dengan cara kasar, kita tidak perlu keluar uang.” Ucap Richie dengan senyum licik nya, sebab dia pun juga akan turut serta terbalas dendam nya pada Vadeo dan Alexandria.
Dan tidak lama kemudian pintu terbuka
Richie melotot matanya, saat melihat apa yang ada di dalam kamar itu. Ada banyak senjata dan perlengkapan dan terlebih dari pada itu ada beberapa orang laki laki dengan tubuh yang besar tinggi dan kekar dengan tampang yang seram seram.
“Siap Tuan.” Ucap salah satu laki laki di dalam kamar itu yang sudah berdiri di depan Tuan Njun Liong.
“Siapkan seluruh senjata dan amunisi nya, juga seluruh anak buahmu.” Perintah Tuan Njun Liong pada laki laki bertubuh besar tinggi dan kekar juga bertampang seram itu.
“Baik Tuan.” Ucap laki laki yang diperintah oleh Tuan Njun Liong itu.
“Aku juga akan menghubungi orang orang di darat agar menuju ke sasaran.” Ucap Tuan Njun Liong lagi.
“Rasakan kamu Vadeo dan Alexandria, akhir aku bisa membalas dendamku lewat Tuan Njun Liong, aku hanya akan berdiri dan melihatnya lalu aku bisa turut menikmati harta karun itu ha.... ha.....” ucap Richie di dalam hati.
Dan tiba tiba tubuh Richie terhuyung huyung karena terdorong oleh tubuh Tuan Njun Liong yang membalikkan tubuhnya dengan cepat.
Tuan Njun Liong pun meninggalkan pintu kamar itu, sambil berjalan Tuan Njun Liong meraih hand phone dari saku bajunya. Dia terlihat mengusap ngusap layar hand phone nya untuk menghubungi seseorang.
“Kamu cari tahu samua orang orang yang bisa membaca manuskrip itu. Culik mereka semua !” perintah Tuan Njun Liong pada orang yang sedang dihubungi nya.
“Tuan, apa kita akan berhasil menguasai pulau itu?” tanya Richie yang terus mengikuti langkah Tuan Njun Liong dengan kaki terpincang pincang.
__ADS_1
“Aku sedang menyusun kekuatan. Tuan Richie bisa membantu dengan menyembunyikan data data nomor hand phone ku dan anak buah ku. Agar tidak terlacak saat kita melakukan komunikasi.” Ucap Tuan Njun Liong sambil menyerahkan hand phone miliknya. Richie pun menerima dengan senang hati.
Sementara itu di belahan bumi lain di benua Asia, tepatnya di Mansion Jonathan. Setelah selesai acara makan siang Vadeo dan Bang Bule Vincent yang masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya segera bergegas meninggalkan meja makan setelah pamit pada Valexa dan Deondria juga pada kedua Mamanya.
“Mama jaga Aca dan Aya, hibur mereka agar jangan bersedih.” Suara lantang Vadeo yang terus melangkah.
Sedangkan Nyonya William dan Nyonya Jonathan tampak bingung antara ingin ikut ke paviliun tamu atau menjaga kedua cucu nya.
Bang Bule Vincent dan Vadeo terus saja berjalan dengan langkah lebarnya menuju ke pintu utama Mansion. Dengan cepat Vadeo dan Bang Bule Vincent membuka pintu utama Mansion.
Dan saat mereka sudah keluar dari pintu utama Mansion..
“Bro mana manuskrip nya?” tanya Bang Bule Vincent saat melihat Vadeo tidak membawa apa apa hanya berjalan dengan tangan kosong.
“Sial, kenapa baru sekarang mengingatkan. Cepat sana kamu yang ambil!” ucap Vadeo sambil menepuk pundak Bang Bule Vincent dengan keras.
“Bro aku tidak tahu kamu taruh di mana.” Ucap Bang Bule Vincent beralasan karena malas untuk kembali masuk ke dalam Mansion.
“Di sofa di ruang keluarga cepat sana.” Ucap Vadeo sambil terus menuruni anak tangga.
“Bro kamu saja yang mengambil aku kan sudah mengingatkan.” Ucap Bang Bule Vincent karena masih malas untuk kembali berjalan masuk ke dalam mansion.
“Itu hukumannya karena kamu terlambat menginginkan.” Ucap Vadeo sambil terus berjalan menuju ke mobil yang terparkir.
Bang Bule Vincent pun mau tak mau kembali melangkah menuju ke dalam mansion utama dan terus melangkah menuju ke ruang keluarga.
Akan tetapi betapa kagetnya Bang Bule Vincent saat sudah sampai di dalam ruang keluarga. Mata nya melihat kedua Mama, Nyonya Jonathan dan Nyonya William sedang duduk tenang berdampingan di sofa panjang sambil membuka buka lembar lembar manuskrip kuno itu. Dan dia tidak melihat sosok kedua keponakannya.
__ADS_1
“Gawat.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menepuk jidat nya sendiri.
....