
Alexandria terus melangkah ke luar dari dari menuju ke ruang keluarga. Lalu dia duduk di sofa sambil mengusap usap layar hand phone miliknya. Ixora pun juga ikut duduk di sampingnya.
“Kak, ada yang bilang orang ngidam tidak harus dituruti jika itu membahayakan.” Ucap Ixora sambil menoleh ke arah Alexandria. Sedangkan Alexandria hanya diam saja dan masih terus saja mengusap usap layar hand phone miliknya. Dia akan menghubungi Vadeo.
Sementara itu mobil yang ditumpangi Vadeo sudah mendekati lokasi bandara tempat pesawat jet pribadinya parkir. Penumpang yang ada di dalam mobil itu masih tertidur nyenyak. Tiba tiba hand phone du saku baju Vadeo berdering. Vadeo yang tertidur pun langsung terbangun dan membukakan matanya. Hari sudah terang sinar matahari pagi sudah mulai menyinari bumi.
“Hmmm siapa..” gumam Vadeo ekspresi wajah Vadeo terlihat sangat capek. Vadeo lalu mengambil hand phone dari saku bajunya. Saat melihat di layar hand phone miliknya tertera nama Alexandria dengan segera Vadeo menggeser tombol hijau.
“Hallo Sayang ada apa?” suara Vadeo dengan nada khawatir. Tangan kiri Vadeo yang tidak memegang hand phone miliknya itu membetulkan posisi letak kepala Deondria agar kembali nyaman bersandar di dada bidangnya.
“Papa sampai mana?” suara Alexandria di balik hand phone Vadeo.
“Sudah mendekati bandara sebentar lagi paling sampai dan langsung masuk ke dalam pesawat.” Jawab Vadeo.
“Syukurlah belum masuk ke dalam pesawat.” Gumam Alexandria yang didengar oleh Vadeo dan seketika Vadeo mengernyitkan dahinya.
“Pa tolong bawa ikan laut dari situ ya.. di sini tidak ada persediaan ikan laut. Kata ibu pelayan Papa melarang orang membawa hasil laut ke gudang logistik.” Suara Alexandria selanjutnya.
“Iya Sayang aku khawatir jika lautan di sekitar pulau kita dicemari oleh racun yang berbahaya. Untuk antisipasi aku tidak ingin kejadian masa lampau kerajaan Asasta terulang lagi. Aku pastikan semua bahan makanan yang masuk ke dalam gudang logistik benar benar aman.” Ucap Vadeo dengan nada serius dan agak keras sehingga membuat Bang Bule Vincent kini ikut terbangun.
__ADS_1
“Makanya tolong bawakan ikan laut dari situ. Mumpung Papa belum naik ke pesawat. Cari dulu ke pasar ikan dekat dekat bandara situ. Pokoknya harus bawa.” Ucap Alexandria lalu memutus sambungan teleponnya.
“Hah? Di mana harus cari ikan laut di sini?” gumam Vadeo sambil menaruh lagi hand phone di saku bajunya.
“Ada apa Tuan?” tanya Pak Sopir yang mendengar gumaman Vadeo dan percakapan Vadeo dengan lawan bicaranya di telepon.
“Ada apa Bro?” tanya Bang Bule Vincent pula dengan suara parau karena habis tidur.
“Di mana cari ikan laut di sini?” tanya Vadeo pada Pak Sopir dan tampak Pak Sopir berpikir pikir. Vadeo pun lalu menjelaskan pada Bang Bule Vincent jika Alexandria meminta oleh oleh ikan laut karena di gudang logistik tidak ada stok ikan laut.
“Kita carikan ikan asin saja Bro. Beli di pasar sekitar sini pasti ada.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius.
“Benar Tuan kalau ikan asin lebih mudah dicari di sini. Bandara di kota ini kan jauh dari pantai Tuan. Kalau ikan asin pasti di kios kios pasar dekat dekat bandara ada.” Ucap Pak Sopir dengan serius pula. Vadeo pun setuju lalu mobil terus melaju menuju ke sebuah pasar kecil yang ada di dekat dekat bandara.
Sementara itu di tempat lain sebuah kapal besar milik Tuan Njun Liong terus berlayar menuju ke pulau Alexandria. Kini pelayaran kapal itu dipimpin oleh Tuan Lim Neo orang kepercayaan Tuan Njun Liong. Berbeda dengan Tuan Njun Liong yang sudah setengah baya dan perutnya gendut. Tuan Lim Neo masih muda usianya kira kira masih tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi dan gagah, wajahnya tampan. Beberapa tato permanen tergambar pada bagian bagian tubuhnya. Hal yang sama dengan Tuan Njun Liong, Tuan Lim Neo juga penyuka wanita. Para wanita penghibur lebih suka melayani Tuan Lim Neo bahkan mereka rela tidak dibayar jika bermain main dengan Tuan Lim Neo.
Namun kini Tuan Lim Neo sedang duduk di kursi kamarnya seorang diri. Tuan Lim Neo sudah mendapat kabar jika Tuan Njun Liong dan Richie ditangkap.
“Hmmm aku harus melanjutkan pekerjaan yang sudah di depan mata ini.” Gumam Tuan Lim Neo yang sedang duduk sambil mengetuk ngetuk meja di depannya dengan ujung telunjuk jarinya.
__ADS_1
“Tapi peta harta karun itu tidak ada berada di tanganku.” Gumam Tuan Lim Neo masih mengetuk ngetuk meja dengan ujung telunjuk jarinya.
TUK TUK TUK
TUK TUK TUK
TUK TUK TUK
“Aku harus bisa menguasai pulau harta karun itu. Bukannya pemilik pulau itu masih ada di tempat lain.” Gumamnya lagi lalu tampak bibirnya tersenyum. Tuan Lim Neo lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya. Sambil berjalan menuju ke mini bar yang ada di kapal Tuan Lim Neo masih berpikir pikir. Dan sesaat kemudian.
“Ha.... Ha.... Ha... benar benar aku harus segera menuju ke sana, sebelum pemilik itu sampai di sana. Dan aku akan menguasai pulau itu ha... Ha.... Ha....” suara Tuan Lim Neo sambil tertawa terbahak bahak hingga anak buah kapal yang sedang sibuk bekerja menoleh ke arah dirinya.
“Ha.... ha.... Ha... ada untungnya juga Tuan Njun Liong ditangkap dan akhirnya aku yang bakal memiliki semua ini. Keluarga Tuan Njun Liong di daratan bisa aku tumpas atau aku tipu ha... Ha... Ha.... Ha.... “ suara Tuan Lim Neo masih tertawa terbahak bahak sambil meminta satu botol bir pada petugas mini bar.
Tuan Lim Neo lalu duduk di salah satu kursi yang ada di depan mini bar itu, tangannya tampak mengambil hand phone yang tadi dia taruh di saku belakang celana jeansnya. Tampak Tuan Lim Neo mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi anak buah yang berada di bagian nahkoda kapal. Dia memerintahkan agar kapal dipercepat lajunya.
“Aku tidak mau tahu, yang penting kita harus bisa mendarat ke pulau itu sebelum pemilik pulau itu tiba!” suara Tuan Lim Neo dengan lawan bicaranya di telepon, lalu Tuan Lim Neo memutus sambungan teleponnya.
“Aku akan mengecek semua senjata. Aku yang akan di depan memimpin penyerangan ini.” Gumam Tuan Lim Neo. Dan tidak lama kemudian beberapa wanita penghibur sudah datang mendekati dirinya ada yang membukakan botol bir ada yang memijat mijat punggungnya ada yang hanya duduk duduk di dekatnya sambil senyum senyum dan mengusap usap lengannya. Mereka yang mendengar ucapan Tuan Lim Neo dan sudah tahu jika Tuan Njun Liong ditangkap, sangat berharap diperistri oleh Tuan Lim Neo secara resmi dan menjadi Nyonya Bos Harta Karun seri dua.
__ADS_1