
Tuan Njun Liong terus melangkah ke dalam kamarnya mengikuti pemuda tampan dan gagah pelayan di rumah mewah Mamah Mimi itu. Demikian juga dengan Richie dan pengawal Tuan Njun Liong. Dalam hati mereka masih bertanya tanya tentang keberadaan pemuda pemuda tampan dan gagah itu. Tuan Njun Liong dan Richie sambil berjalan mengedarkan pandangan nya melihat situasi dan suasana, benar benar berbanding terbalik dengan rumah yang tadi ditempati oleh Mamah Mimi. Tuan Njun Liong dan Richie juga mencari cari sosok perempuan di dalam lokasi rumah mewah itu akan tetapi tidak menemukan atau belum. Sedangkan Nyonya Siu Lie sudah tidak terlihat batang hidungnya dia sudah masuk ke dalam kamar bersama pemuda gagah dan tampan yang membawa kopernya.
“Apa Mamah Mimi juga tidur di sini?” tanya Tuan Njun Liong sambil menoleh pada pemuda yang membawa kopernya.
“Di waktu waktu tertentu.” Jawab pemuda itu tanpa menoleh ke arah Tuan Njun Liong. Tuan Njun Liong yang masih penasaran hanya bisa memendam dalam hati sebab seperti nya pelayan Mamah Mimi hanya akan memberikan sedikit informasi.
“Siu Lie kenapa terlihat sangat bahagia dan begitu bersemangat menuju ke kamar nya. Seperti jika aku bersemangat untuk bersenang senang dengan wanita penghiburku. Apa dia juga begitu ...” gumam Tuan Njun Liong dalam hati. Dan di saat dia masih berpikir pikir tentang Nyonya Siu Lie dan Mamah Mimi, tiba tiba...
“Tuan silahkan masuk, di dalam kamar ada telepon yang bisa Tuan gunakan untuk menghubungi kami jika Tuan memerlukan sesuatu.” Ucap pemuda tampan dan gagah itu sambil membuka pintu sebuah kamar. Tuan Njun Liong bisa melihat isi di dalamnya lewat pintu yang baru sepertiga terbuka itu. Dalam hati Tuan Njun Liong berdecak kagum sebab isi di dalam kamar itu sudah setara dengan kamar hotel berbintang tampak tempat tidur luas dilapisi oleh bad cover dengan kain satin yang indah bantal bantal yang tampak empuk dilapisi oleh sarung bantal dengan warna yang senada dengan nada bed cover nya di dekat tempat tidur pun tampak mebel mewah dan ornamen ornamen juga bagus artistik dan elegan tidak mengerikan seperti di rumah Mamah Mimi yang tadi.
“Hmmm makanya Mamah Mimi juga suka uang ternyata lain di sana lain di sini.” Gumam Tuan Njun Liong yang masih melongo.
“Tuan.” Ucap pemuda tampan pelayan rumah mewah Mamah Mimi dengan suara lebih keras sambil membuka pintu kamar itu lebar lebar dan memasukkan koper milik Tuan Njun Liong.
__ADS_1
“Iya iya.. “ ucap Tuan Njun Liong lalu dia segera masuk ke dalam kamar. Dia akan segera menghubungi Nyonya Siu Lie ingin menanyakan harus membayar berapa sewa kamar ini dan yang lebih dari itu dia akan menanyakan tentang rasa penasarannya pada rumah mewah yang pelayan nya pemuda pemuda tampan dan gagah tidak ada seorang pun perempuan yang dia lihat.
Setelah masuk ke dalam kamar menaruh koper dan melepas jas nya. Tuan Njun Liong segera menghubungi kontak nama Siu Lie. Tuan Njun Liong melakukan panggilan suara akan tetapi hanya terdengar nada sambung namun tidak terhubung karena tidak diterima panggilan suara Tuan Njun Liong oleh Nyonya Siu Lie.
Sementara itu Nyonya Siu Lie di dalam kamar tidak mendengarkan dering hand phone panggilan suara dari Tuan Njun Liong. Sebab tadi setelah masuk ke dalam kamar dengan pelayan rumah mewah Mamah Mimi yang tampan dan gagah. Nyonya Siu Lie yang sudah kenal dengan pemuda itu langsung menutup pintu kamar rapat rapat dan menarik lengan kekar pemuda itu untuk dibawa masuk ke kamar mandi. Nyonya Siu Lie pun melepaskan gairahnya di sana bersama pemuda gagah dan tampan itu. Meskipun Nyonya Siu Lie sudah separo baya akan tetapi gairahnya masih membara bila melihat pemuda gagah dan tampan dengan tubuh atletis perut yang kotak kotak bagai roti sobek. Sebaliknya dia tidak tertarik dengan Tuan Njun Liong temannya itu yang perutnya sudah membuncit entah karena dimakan usia atau karena kebanyakan minum bir.
“Hmmm Siu Lie sedang buat apa hand phone dibiarkan berdering tidak diangkat.” Gumam Tuan Njun Liong yang putus asa karena tidak bisa menghubungi Nyonya Siu Lie.
“Ooo aku jalan jalan saja di sekitar lokasi rumah Mamah Mimi ini sambil ngopi ngopi di warung pasti akan ada cerita dari masyarakat di sekitar sini.” Gumam Tuan Njun Liong lalu dia pergi ke kamar mandi untuk mandi dan setelahnya akan jalan jalan di sekitar rumah mewah Mamah Mimi untuk mencari informasi.
Valexa dan Deondria terus berlari dan membuka pintu itu dengan cepat. Dan...
DUER
__ADS_1
Terdengar suara keras daun pintu yang tertutup lagi dengan rapat karena gerakan tangan mungil kedua bocah itu yang menarik daun pintu agar tertutup lagi. Kedua bocah itu terus berlari dan melakukan hal yang sama dalam membuka dan menutup pintu. Untuk pintu dan bangunan istana itu sangat kuat jadi tidak bergetar sedikit pun. Dan kini kedua bocah itu melakukan pada pintu terakhir pintu terluar.
DUEEERRR
Vadeo dan Bang Bule Vincent yang sedang jongkok membakar daging kelinci dan ubi langsung terlonjak kaget dan menoleh ke arah suara pintu yang tertutup dengan keras. Vadeo dan Bang Bule Vincent kagetnya tambah berlipat lipat saat melihat Valexa dan Deondria berlari ke arah mereka. Vadeo dan Bang Bule Vincent pun langsung bangkit berdiri khawatir ada hal yang membahayakan pada kedua bocah itu.
“Aca .. Aya.. Ada apa?” teriak Vadeo sambil berlari mendekati kedua anaknya.
“Papa... awas....” teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan semakin membuat Vadeo dan Bang Bule Vincent semakin takut dan khawatir.
“Ada apa Sayang?” teriak Vadeo dan Bang Bule Vincent secara bersamaan. Akan tetapi tiba tiba tampak Vadeo langsung duduk berjongkok lagi. Sedangkan Bang Bule Vincent tertawa terbahak bahak menatap sosok Vadeo yang kini masih duduk berjongkok, demikian juga juga Valexa dan Deondria berhenti dan ikut tertawa terkekeh kekeh..
“Ha... Ha... Ha.... Ha....” suara tawa Bang Bule Vincent tampak bahagia serasa mendapat penghiburan di tengah rasa kekhawatiran, kelelahan dan kelaparannya.
__ADS_1
“Kik... kik... kik... kik... “ suara tawa Valexa dan Deondria terkekeh kekeh sambil menutup mulut mungil mereka dengan telapak telapak mungil tangan mereka.