Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 136.


__ADS_3

“Tapi saya sudah membawa surat tugas Pak.” Ucap Eveline sambil mengambil kartu identitas miliknya yang dikeluarkan dari organisasi resmi Bang Bule Vincent.


“Ooo kalau begitu Nona silakan menghadap dulu pada petugas di ruang sana.” Ucap petugas bandara itu. Eveline dan keempat pemuda tampan itu pun lalu berjalan meninggalkan tempat pemeriksaan ruang cek in.


“Kita bagi tugas untuk menghemat waktu. Kalian berempat ke loket cek in. Aku yang menjelaskan pada petugas.” Ucap Eveline sambil menarik koper nya yang belum mendapat stiker lolos dari petugas bandara. Eveline lalu berjalan dengan langkah cepatnya menuju ke ruang yang disebutkan oleh petugas di pintu masuk ruang cek in.


Saat sampai di depan pintu ruang yang dituju Eveline segera mengetuk ngetuk pintu ruang tersebut.


TOK TOK TOK TOK


TOK TOK TOK TOK


Eveline mengetuk ngetuk pintu ruang itu dengan tidak sabar. Karena dia khawatir jika berlama lama akan ketinggalan pesawat yang akan dinaiki.


TOK TOK TOK TOK


TOK TOK TOK


Eveline mengetuk ngetuk pintu ruang itu lagi dan kini dia lebih keras dalam mengetuk pintu ruang itu.

__ADS_1


“Ih lama sekali sih....” gumam Eveline sedikit kesal sebab pintu juga belum terbuka dan tidak ada sautan suara dari dalam ruangan. Dan tidak lama kemudian pintu ruang itu terbuka tampak satu orang laki laki berpakaian seragam petugas bandara.


“Silakan masuk Nona, apa yang bisa kami bantu.” Ucap laki laki petugas bandara itu sambil mempersilahkan Eveline masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi. Sementara laki laki petugas bandara itu duduk di kursi kerjanya, dan Eveline pun duduk di kursi di depannya dengan bersekat meja kerja.


“Pak, koper saya tidak lolos di mesin X ray. Akan tetapi saya memiliki kartu ini Pak.” Ucap Eveline sambil menunjukkan kartu identitas yang dikeluarkan oleh organisasi Bang Bule Vincent. Petugas bandara itu lalu menerima kartu identitas Eveline.


“Ooo anak buah Bang Bule Vincent. Maaf Nona mungkin petugas kami di depan belum mengenal Bang Bule Vincent. Maklum Petugas baru.” Ucap laki laki petugas bandara itu setelah melihat kartu identitas milik Eveline. Laki laki itu lalu menyerahkan kembali kartu identitas Eveline kepada pemiliknya. Lalu dia mengambil stiker tanda lolos periksa tanpa membuka koper milik Eveline. Karena petugas itu sudah mengenal organisasi milik Bang Bule Vincent.


Setelah selesai memasang stiker lolos pemeriksaan. Petugas bandara itu segera menyerahkan koper milik Eveline sambil mengucapkan permintaan maaf lagi. Eveline pun mengucapkan terima kasih sambil terus bangkit berdiri dari tempat duduknya. Eveline berjalan dengan cepat meninggalkan ruang itu.


Saat Eveline keluar dari ruang itu, sudah terdengar pengumuman jika namanya sudah dipanggil untuk segera masuk ke dalam pesawat. Eveline pun berlari lari sambil menarik koper untuk menuju ke loket cek in. Setelah mendapat boarding pass dan koper sudah diterima oleh petugas cek in. Eveline segera berlari menuju ke ruang tunggu.


“Maaf.” Ucap Eveline sambil menyerahkan boarding pass miliknya. Setelah petugas bandara itu selesai mengecek dan memberikan lagi boarding pass milik Eveline. Eveline segera berlari di lorong yang akan membawanya menuju ke pintu pesawat.


Masih dengan nafas tersengal sengal Eveline pun sukses masuk ke dalam pesawat. Setelah Eveline masuk, pintu pesawat itu pun langsung tertutup. Banyak penumpang yang sudah duduk di kursi menatap Eveline dengan ekspresi wajah kesal. Mungkin mereka mengira Eveline termasuk penumpang yang tidak disiplin pada waktu.


Eveline terus berjalan untuk mencari tempat duduknya. Dan tidak lama kemudian dia pun sudah sampai di tempat duduknya yang masih kosong bersebelahan dengan salah satu temannya.


“Gara gara petugas baru di pemeriksaan pintu masuk. Aku jadi berkeringat begini.” Suara Eveline agak keras sambil mendudukkan pantatnya.

__ADS_1


“Kami pun juga berkeringat Nona. Kalau koper itu tidak lolos kami akan menjadi santapan perempuan perempuan tua itu.” Suara lirih salah satu pemuda tampan dan gagah yang duduk di sebelah Eveline. Dan beberapa menit kemudian pesawat sudah berhasil lepas landas dengan sempurna dan terus mengudara menuju ke bandara tujuan.


Sama seperti penerbangan Tuan Njun Liong dan Nyonya Siu Lie. Rombongan Eveline pun juga harus melakukan transit menggunakan pesawat lain. Akan tetapi bedanya kini mereka tidak langsung menuju ke kota tempat Mamah Mimi. Namun akan menuju ke kota tetangga kota Mamah Mimi terlebih dahulu.


“Agar tidak mencurigakan kita menuju ke kota tetangga yang tidak jauh dari kota sasaran.” Ucap Eveline saat akan masuk ke pesawat kecil. Ke empat pemuda tampan dan gagah itu pun hanya mengikuti keputusan Eveline yang lebih senior. Yang sebenarnya Eveline pun hanya mengikuti perintah Bang Bule Vincent. Dan Bang Bule Vincent pun memerintahkan itu pada Eveline atas perintah si kembar.


Dan akhirnya pesawat kecil itu pun sudah mendarat di kota tetangga kota tempat tinggal Mamah Mimi. Eveline pun segera memberi kabar pada grup chat, kalau mereka sudah mendarat dengan selamat.


Sesaat hand phone milik Eveline berdering dan Bang Bule Vincent melalukan panggilan suara di group chat itu.


“Kalian cari penginapan lalu hubungi petugas pemerintahan setempat meminta kartu identitas sementara di wilayah itu. Kamu tunjukkan kartu identitas organisasi kalau gagal kalian hubungi aku lagi.” Suara Bang Bule Vincent di balik hand phone Eveline. Keempat pemuda tampan dan gagah itu pun juga sudah mengaktifkan hand phone nya.


“Ingat kalian harus selalu membawa senjata rahasia buatan Ixora.” Suara Bang Bule Vincent selanjutnya untuk mengingatkan pada anak buahnya.


Setelah mengiyakan semua perintah dari Bang Bule Vincent, panggilan suara pun terputus. Mereka berlima segera mencari taxi untuk menuju ke tempat penginapan.


Setelah mendapat tempat penginapan mereka berlima segera menuju ke pemerintah setempat untuk mencari surat surat agar saat keempat pemuda tampan itu saat melamar pekerjaan di rumah Mamah Mimi, tidak mencurigakan.


Sesaat salah satu pemuda itu melihat sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.

__ADS_1


“Kamu lihat itu!” ucap salah satu pemuda tampan anak buah Bang Bule Vincent pada teman temannya sambil dagunya terangkat tertuju pada benda yang menarik perhatiannya. Ke empat orang temannya itu pun menoleh dan memandang pada benda yang ditunjuk oleh salah satu pemuda tampan dan gagah anak buah Bang Bule Vincent itu.


__ADS_2