Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 208.


__ADS_3

“Iya aku tidak boleh menyerah.” Ucap Riris sambil menghapus air matanya yang tiba tiba meleleh lagi jika teringat Justin sudah menikah dengan Wika.


“Aku bantu kamu Ris, tapi ingat jika kamu sudah berhasil mendapatkan Justin dan masuk dalam keluarga Jonathan kamu tidak boleh lupa akan bantuanku.” Ucap temannya Riris sambil menatap wajah Riris.


“Tidak akan aku melupakan kamu. Aku pun akan membantu Amel jika aku berhasil.” Janji Riris dengan nada serius.


“Aku yakin Justin pasti dipaksa untuk menikahi perempuan itu.” Ucap Riris lagi


Riris pun lantas meminjam hand phone milik temannya itu untuk menghubungi orang yang sudah direkomendasikan oleh Amel. Riris terlihat serius dalam melakukan komunikasi lewat aplikasi chatting. Dan mereka pun melakukan janjian untuk pertemuan di suatu Cafe.


“Kamu nanti antar aku ya dan aku pinjam gaun kamu ya. Aku belum berani pulang ke rumah Mama dan Papaku sudah malu punya anak aku. Sudah gagal besanan dengan keluarga Jonathan ditambah aku masuk penjara. Tapi nanti kalau aku sudah berhasil menikah dengan Justin aku yakin hidupku membaik dan Mama Papaku pasti mau menerima aku lagi.” Ucap Riris dengan nada serius.


“Beres Ris, aku percaya jika Wika dan anaknya sudah tidak ada. Justin paling kembali ke kamu seratus persen. Dia kan cinta banget sama kamu.” Ucap teman nya Riris memberi semangat.


“Iya gara gara Wika, perempuan gatal itu.” Ucap Riris dengan nada kesal. Riris pun lalu bangkit berdiri.


Riris dan temannya bersiap siap untuk datang ke cafe tempat pertemuan nya dengan orang yang direkomendasikan oleh Amelia.


Sementara itu di lain tempat di Mansion Jonathan, di kamar pengantin. Justin dan Wika sudah puas buka puasa selama lima tahun. Mereka berdua melakukan dengan berbagai macam gaya. Justin dan Wika yang sudah dibakar oleh gairah sudah lupa dengan yang namanya gengsi dan malu.


Dan kini keduanya tertidur pulas dengan tidak tertutup oleh sehelai benang sekalipun pada tubuh mereka berdua. Tangan Justin pun memeluk tubuh Wika yang sudah memberikan kepuasan berkali kali di sore hari.

__ADS_1


Hari pun telah gelap, malam hari tiba. Pelayan bagian dapur mengetuk ngetuk pintu kamar pengantin itu untuk mengantar meja dorong yang berisi full menu makan malam. Akan tetapi pintu tetap tertutup rapat. Akhirnya pelayan itu hanya menaruh meja dorong di depan pintu kamar pengantin.


Sedangkan di lain tempat di Mansion utama. Boy sudah ganteng dan siap pergi jalan jalan. Selama dia hidup bersama Wika jarang sekali diajak pergi ke mall. Andai pun di ajak ke mall seringnya hanya jalan jalan lihat lihat saja. Kecuali jika menjelang hari raya ada sepotong baju yang dibeli itu pun Wika harus memilih dengan cermat harga yang mendapat diskon paling tinggi.


“Nanny apa Mamaku baik baik saja?” tanya Boy yang khawatir dengan Mama nya sebab hingga hari sudah gelap sang Mama tidak mengambil hand phone dan raket nyamuk nya.


“Iya pasti baik baik saja.” Ucap sang pengasuh sambil mengelus elus rambut Boy yang sudah rapi.


“Kenapa Mama belum mengambil hand phone dan raket nyamuk nya.” Gumam Boy masih gelisah.


“Mungkin sedang mandi.” Ucap Sang pengasuh menghibur Boy.


“Kalau aku nanti makan di restoran, Mamaku makan di mana?” tanya Boy yang khawatir Sang Mama kelaparan karena biasanya jika di rumah Ibu Rina. Dia dan Wika selalu makan bersama jika tidak di meja makan dengan Ibu Rina. Mereka makan bersama dengan Mbok Nah dan Pak No.


Dan sesaat kemudian.


“Boy... ayo beyangtat... ( Boy ayo berangkat)!” teriak Valexa dan Deondria, pintu pun terbuka lebar tampak sosok Valexa dan Deondria tampil dengan pakaian ala Bang Bule Vincent. Celana cargo berwarna hitam, t shirt berwarna putih dan jaket jeans namun kini jaketnya berwarna soft pink dan ungu. Mereka sendiri yang memilih pakaian yang dikenakannya.


Boy memandang kagum penampilan Twins, saudaranya yang kembar itu.


“Twins kalian sangat keren. Seperti pakaian Uncle Vin dan Uncle Richardo.” Teriak Boy saat melihat penampilan Twins. Mata Boy pun berbinar binar.

__ADS_1


“Apa kamu juga ingin baju sepelti ini?” tanya Valexa sambil bergaya bak model cilik karena sudah di training cara bergaya oleh Dealova.


“Tapi warna jaket nya tidak seperti punya kalian, kata Mamaku itu warna untuk anak perempuan.” Ucap Boy yang masih terpesona dengan celana cargo dan jaket milik Twins.


“Ha... ha... enak jadi anak peyempuan donk, bica pate baju walna apa aja.” Ucap Deondria sambil tertawa senang.


“Mama ku tidak melalang atu pate baju walna apa aja.” Ucap Valexa


“Yan penting macuk... pak eko ha... ha... ha... “ tambah Deondria sambil tertawa senang. Alexandria memang membiarkan anak anaknya berlatih memadu madankan alias memaching kan pakaian yang mereka kenakan.


Dan tiba tiba sosok Alexandria pun juga muncul di depan pintu kamar Boy. Alexandria tampil dengan pakaian casual juga.


“Ayo kita berangkat keburu Boy lapar nanti.” Ucap Alexandria sambil menatap ketiga bocah yang sedang bercakap cakap bahagia. Twins pun melaporkan jika Boy menginginkan pakaian seperti yang mereka kenakan. Alexandria pun menyetujui nya. Dia sudah memiliki langganan outlet di mall yang menjual baju baju mungil ala Bang Bule Vincent. Sedangkan Vadeo sudah berada di luar untuk mengambil mobil kali ini dia yang akan mengemudikan mobil dan ditemani oleh Richardo.


Setelah mereka semua sudah di dalam mobil. Mobil pun berjalan pelan pelan meninggalkan halaman Mansion Jonathan. Saat sudah memasuki jalan raya Vadeo menambah kecepatannya dan mobil terus melaju untuk menuju ke sebuah mall.


Sedangkan di lain tempat Riris dan temannya pun juga sudah di dalam taxi on line menuju ke sebuah cafe tempat mereka akan menemui seseorang.


“Apa kamu masih punya foto Wika dan anaknya itu?” tanya Riris pada temannya. Sebab Riris ingat jika temannya itu pernah menunjukkan foto Wika bersama Boy.


“Masih, aku ambil foto itu saat Wika mengantar anaknya ke sekolah TK PKK yang lokasi nya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Saat itu aku kebetulan sedang lewat aja mengantar teman mau cari rumah kontrakan di sekitar sana.” Jawab teman Riris itu.

__ADS_1


“Bagus.” Ucap Riris dengan lega.


__ADS_2