
“Mamah Mimi jangan lakukan!” teriak Nyonya Siu Lie dengan nada suara ketakutan sambil menatap Mamah Mimi yang wajahnya tampak mengerikan.
“Liong segera kamu minta maaf.” Ucap Nyonya Siu Lie kemudian sambil menatap Tuan Njun Liong.
“Akan aku lakukan agar teman kamu itu percaya.” Ucap Mamah Mimi yang masih menatap tajam Tuan Njun Liong. Tuan Njun Liong pun kini wajahnya mulai takut takut apalagi Richie melihat Mamah Mimi yang tampak emosi sambil membawa boneka santet wujud laki laki dan jarum yang siap ditusukkan pada boneka itu. Richie pun wajahnya menunduk takut kalau sasaran berpindah pada dirinya.
“Mamah maaf...” ucap Tuan Njun Liong terbata bata.
“Terlambat....” saut Mamah Mimi sambil mengarahkan jarum yang dipegang pada bagian tubuh boneka santet itu. Dan Mamah Mimi pun menancapkan jarum itu pada kaki boneka santet.
“Aduuuuuhhhhhhh.” Teriak Tuan Njun Liong sambil memegangi kakinya. Richie langsung menoleh ke arah Tuan Njun Liong yang sedang merintih kesakitan sambil memegangi kaki, tepat pada bagian yang sama dengan kaki boneka santet yang ditusuk jarum oleh Mamah Mimi.
“Ha.... ha.... ha.... apa kamu masih juga tidak percaya? Kamu jangan membuat aku tambah emosi. Aku sudah emosi pada dua bocah itu yang bersembunyi. Masih ditambah kamu tidak percaya dan cerewet.” Ucap Mamah Mimi sambil menatap Tuan Njun Liong yang mengasuh kesakitan dan kini mulutnya mengucapkan kata maaf dan mohon ampun.
“Mamah tolong sudahi aksi Mamah dan sembuh kan dia temanku Mah.” Pinta Nyonya Siu Lie yang tidak tega melihat Tuan Njun Liong kesakitan karena dia masih membutuhkan modal dari Tuan Njun Liong untuk melanjutkan niatnya mencari permata permata langka.
Mamah Mimi pun segera mencabut jarum dari kaki boneka santetnya. Lalu meniup niup kaki boneka santet itu dan mengusap usap. Tampak Tuan Njun Liong pun kini sudah tidak lagi memegangi kakinya dan tidak juga mulutnya mengaduh kesakitan.
“Ingat jangan lagi kamu ulangi. Aku bisa melakukan pada isi perutmu dan isi kepala kamu itu.” Ucap Mamah Mimi lalu menaruh lagi boneka dan jarum pada tempat semula.
__ADS_1
“Kalian semua sekarang keluar! Aku mau bertanya pada leluhurku dulu ada masalah apa sehingga bola kristalku ini tidak bisa melihat dua bocah itu.” Ucap Mamah Mimi dengan nada serius. Mamah Mimi pun lalu meniup nyala lilin lilin yang ada di depannya. Ketiga tamunya pun bangkit berdiri dan keluar dari ruang praktik Mamah Mimi. Tuan Njun Liong meskipun sudah tidak merasakan sakit di kakinya akan tetapi kini dia juga berjalan dengan kaki terpincang pincang. Karena katanya kakinya bagai terasa kesemutan.
Dan di saat ketiga orang itu sudah keluar dari ruang praktik Mamah Mimi, terdengar bunyi dering di hand phone milik Mamah Mimi. Mamah Mimi pun segera mengambil hand phone miliknya dia tidak melihat dari siapa dan langsung menggeser tombol hijau.
“Mamah kabar bagus. Banyak yang menghubungi nomor hand phone ku dan banyak yang sudah mendaftar.” Suara seorang laki laki di balik hand phone milik Mamah Mimi.
“Ha... ha.... bagus bagus, apa mereka sudah datang ke rumah mewah ku?” tanya Mamah Mimi dengan tawa bahagia.
“Sudah ada beberapa datang memberikan surat lamaran namun pulang kembali Mah, karena saya bilang harus diseleksi dulu agar mereka percaya jika ini memang benar benar lowongan pekerjaan.” Suara laki laki dibalik hand phone milik Mamah Mimi itu lagi.
“Hah kenapa kamu suruh pulang lagi. Bagaimana kalau mereka tidak kembali. Goblok kamu itu sudah ada mangsa malah dibiarkan pergi.” Suara Mamah Mimi dengan nada kesal penuh emosi.
“Tenang Mamah Mimi banyak yang mendaftar, pasti besok juga akan datang lagi.” Suara laki laki itu lagi di balik hand phone milik Mamah Mimi.
Sementara itu di rumah penginapan Eveline memberi pengarahan pada keempat pemuda tampan utusan Bang Bule Vincent. Eveline pun membagi senjata rahasia buatan Ixora pada keempat temannya itu. Dia juga membagi hand phone baru dengan nomor baru.
“Kalian sekarang pakai hand phone baru ini, ini sudah aku setting untuk keamanan kalian. Kalian mendaftar dengan nomor baru ini.” Ucap Eveline setelah memberikan senjata rahasia dan hand phone baru pada keempat pemuda itu.
“Hand phone lama kami?” tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
“Sementara berikan pada aku, dan kamu juga menghubungi aku dengan nomor baruku yang sudah aku program di dalam hand phone baru kalian. Buat jaga jaga jika kalian harus melewati penggeledahan barang barang saat masuk ke rumah mewah itu.” Ucap Eveline yang sudah mencari informasi tentang rumah mewah Mamah Mimi.
“Besok pagi pagi kalian berangkat menggunakan bis antar kota. Pasti kalian juga akan bertemu dengan pemuda pemuda kota ini yang juga akan ke rumah Mamah Mimi. Kalian katakan saja pada mereka, kalau kalian penasaran ingin coba coba ikut melamar.” Ucap Eveline sambil menatap keempat temannya itu secara bergantian.
“Nona, obat penawar nya apa kami tidak diberi? Bagaimana kalau kami juga terkena senjata rahasia itu?” ucap salah satu dari keempat pemuda itu.
“Obat penawar aku yang bawa, agar jangan sampai diambil oleh mereka. Kalian tenang saja jika kalian terkena segera hubungi aku. Aku akan datang dengan caraku.” Ucap Eveline dengan nada serius.
“Kalian jangan lupa untuk memakai pelindung diri jangan sampai terkena senjata rahasia itu.” Ucap Eveline selanjutnya. Dan setelah dirasa cukup dalam memberi pengarahan. Eveline menyuruh keempat pemuda itu untuk segera kembali ke kamarnya dan beristirahat cukup agar besok pagi bisa bangun dengan segar.
Ke empat pemuda itu pun segera menuju ke kamar mereka untuk beristirahat menunggu pagi tiba di mana itu adalah pagi hari yang sangat mendebarkan bagi mereka.
“Amit amit dech harus melayani nenek nenek, aku mencium perempuan aja belum pernah.” Ucap salah satu dari mereka saat masuk ke dalam kamar, di mana satu kamar di isi oleh dua orang.
“Nasibku juga sial, aku setiap hari mengawal Nona Dealova yang cantik dan sekarang harus melayani nenek nenek.” Ucap satu orang temannya yang tidak lain adalah pengawal Dealova.
“Ha... ha... ha... Aku tahu pasti di dalam benakmu terbersit keinginan jika ini adalah tugasmu untuk melayani Nona Dealova yang cantik itu.” Ucap salah satu pemuda tampan itu.
“Hustttt bisa dipecat aku. Sudah sekarang tidur dan berdoa agar kita semua selamat.” Ucap pengawal Dealova sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
__ADS_1
Keesokan harinya pun mereka bangun pagi pagi dan berangkat ke terminal bis antar kota untuk menuju ke rumah mewah Mamah Mimi.
...