
Tuan Njun Liong pun segera menghubungi orang orangnya yang dipercaya membawa kapal besarnya. Dia pun memerintahkan agar melanjutkan lagi perjalanan untuk menuju ke Indonesia dan langsung menuju ke pulau harta karun. Tuan Njun Liong pun memesan agar membawa segala peralatan dan persenjataan beserta sekoci juga kapal kapal kecil untuk menyelamatkan diri jika terjadi lagi musibah.
“Sudah, aku pesan agar perlengkapan lebih banyak jangan sampai kegagalan terulang kembali.” Ucap Tuan Njun Liong setelah menghubungi orang orangnya.
“Tapi Tuan bagaimana cara kita pergi dari sini, jika strategi kedua kita berhasil?” tanya Richie yang sebenarnya dia tidak betah berhari hari tinggal di rumah mewah Mamah Mimi tidak boleh pergi pergi. Apalagi tidak ada satu orang wanita pun di dalam rumah mewah itu.
“Hmmm aku lihat orang suruhan Mamah Mimi yang bertugas mendaftar pemuda pemuda itu, suka dengan uang. Coba Tuan Richie dekati nanti. Mungkin dia bisa mengeluarkan kita dari sini dengan memberikannya banyak yang.” Ucap Tuan Njun Liong tampak berpikir pikir. Richie pun juga tampak serius mendengarkan dan juga tampak berpikir pikir.
“Tapi jangan Tuan Richie katakan kita akan pergi, tapi katakan saja kita sebagai laki laki butuh hiburan dan bersenang senang dengan wanita. Kepala sudah pusing mau pecah.” Ucap Tuan Njun Liong selanjutnya.
“Benar Tuan, itu padahal benar benar dan bukan akal akalan kita saja untuk kabur dari sini ha... ha... ha....” ucap Richie sambil tertawa sebab yang dikatakan oleh Tuan Njun Liong itu benar benar dia rasakan.
“Kalau begitu cepat Tuan Richie temui dia. Dan nanti Tuan Richie katakan pada saya berapa uang yang dia minta.” Ucap Tuan Njun Liong dan Richie pun akhirnya pamit keluar dari kamar Tuan Njun Liong untuk menemui laki laki suruhan Mamah Mimi yang bertugas merekruit pemuda pemuda. Tuan Njun Liong menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil tersenyum, ada harapan untuk bisa keluar dari rumah Mamah Mimi dan juga ada harapan bisa mendapatkan lagi harta karun dengan setengah kekuatannya yang masih tersisa.
Sedangkan Richie dengan langkah terpincang pincang terus keluar menuju ke ruang pendaftaran, untuk menemui laki laki suruhan Mamah Mimi. Saat sampai di ruang pendaftaran, tampak ruang sudah sepi. Pemuda pemuda pendaftar sudah dimasukkan ke dalam kamar atau mereka pulang yang belum membawa uang pendaftaran. Tampak laki laki suruhan Mamah Mimi sedang duduk sambil menghitung uang hasil dia melakukan pungutan liar.
“Wah banyak sekali uang kamu.” Ucap Richie menyelonong masuk ke dalam ruangan itu karena pintu terbuka. Tampak laki laki suruhan Mamah Mimi sangat kaget.
“Tuan ada perlu apa. Apa Tuan juga mau mendaftar?” Tanya laki laki suruhan Mamah Mimi dengan ekspresi wajah kaget dan secara spontan langsung menyembunyikan uang yang sedang dia hitung ke dalam laci mejanya.
__ADS_1
“Apa kamu mau uang yang lebih banyak lagi?” tanya Richie dengan tersenyum dan tatapan mata menggoda.
“Hmmm siapa yang tidak mau uang banyak Tuan.” Ucap laki laki suruhan Mamah Mimi sambil tersenyum pula. Dan Richie pun lalu mengatakan apa perlunya seperti yang tadi sudah didiskusikan dengan Tuan Njun Liong.
“Ooo baik Tuan, bagaimana kalau nanti saat malam bulan purnama saja. Di saat Mamah Mimi sedang sibuk dengan ritualnya.” Ucap laki laki suruhan Mamah Mimi itu dengan nada dan ekspresi wajah serius.
“Okey, kamu yang tahu situasi di rumah sini. Berapa kamu minta.” Ucap Richie dengan menatap tajam wajah laki laki suruhan Mamah Mimi.
“Tuan mau seperti apa, ayam potong, ayam kampung, ayam hias, ayam hutan, ayam kampus ha.... ha....” ucap laki laki suruhan Mamah Mimi itu sambil tertawa terbahak bahak. Sedangkan Richie mengernyitkan dahinya.
“Ayam potong itu yang gemuk putih Tuan, kalau ayam kampung yang langsing tapi kuat ha.... ha....” ucap Laki laki suruhan Mamah Mimi itu lagi sambil masih tertawa. Dan akhirnya mereka mendapatkan suatu kesepakatan tentang harga, jenis dan jumlah wanita yang diinginkan oleh Richie dan Tuan Njun Liong. Laki laki suruhan Mamah Mimi pun mencari cari hotel yang paling bagus untuk Tuan Njun Liong dan Richie.
“Okey, nanti aku transfer sebagian dan lunas jika semua sudah terlaksana.” Ucap Richie dengan nada serius. Lalu dia pun meninggalkan ruang pendaftaran itu untuk menuju ke kamar Tuan Njun Liong guna memberitahukan hasil kesepakatan barusan.
“Haduh apa Mamah Mimi tahu dengan rencana tadi ya.” Gumam Richie dalam hati sambil mempercepat langkah kakinya dengan terpincang pincang , dia pun pura pura tidak melihat Mamah Mimi.
“Kalau begitu aku tunda dulu memberi tahunya pada Tuan Njun Liong, aku masuk ke dalam kamarku saja dulu. Menghubungi Tuan Njun Liong bisa nanti nanti saja kalau Mamah Mimi sudah masuk lagi ke dalam kamarnya, atau aku telepon saja Tuan Njun Liong.” Gumam Richie sambil terus mempercepat langkahnya dengan terpincang pincang dan dia berhasil masuk ke dalam kamarnya sebelum Mamah Mimi berhasil mendekati dirinya. Karena letak kamarnya yang lebih dekat dari pada letak kamar yang ditempati oleh Tuan Njun Liong.
Setelah masuk ke dalam kamar, Richie segera menutup pintu kamar dengan rapat rapat.
__ADS_1
“Aman.” Ucap Richie sambil mengelus elus dadanya sendiri. Akan tetapi baru saja Richie akan melangkah.
TOK TOK TOK TOK
Suara pintu diketuk ketuk dengan keras. Richie pun menoleh ke arah pintu dan wajahnya pun menegang karena takut. Takut disantet satu kakinya yang tidak pincang dan menjadi pincang semua.
“Tuan! Tuan! Buka pintu!” suara Mamah Mimi dengan keras semakin membuat Richie berdebar debar dan ketakutan.
“Mampus aku.” Gumam Richie dalam hati dan mau tak mau Richie melangkah mendekati lagi pintu dan membuka pintu itu dengan pelan pelan..
Saat pintu sudah terbuka, tampak sosok Mamah Mimi berdiri di dalam pintu. Tangan Richie masih gemetaran memegang handel pintu.
“Ada perlu apa Tuan di ruang pendaftaran?” tanya Mamah Mimi sambil menatap wajah Richie.
“Itu Mah... Anu... Anu...” gumam Richie tidak jelas karena bingung mau bilang apa.
“Apa Tuan Richie mau mendaftar juga?” tanya Mamah Mimi sambil tersenyum dan mata berkedip kedip menggoda.
“Iya iya iya Mah....” jawab Richie asal agar tidak disantet.
__ADS_1
“Hmmm setelah malam bulan purnama.” Ucap Mamah Mimi dengan ketus lalu menutup dengan keras pintu kamar Richie. Richie pun tersenyum karena dia sudah yakin di malam bulan purnama akan keluar dari rumah mewah Mamah Mimi itu. Setelah yakin Mamah Mimi sudah jauh dari kamarnya Richie pun menghubungi Tuan Njun Liong mengatakan jika malam bulan purnama nanti mereka berdua pergi hotel dan sudah disiapkan beberapa wanita penghibur dan selanjutnya mereka bisa lari dari kota ini.
Hmmm mereka semua menunggu di malam bulan purnama. ....