Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 164.


__ADS_3

Sementara itu di ruang kerja Vadeo. Mereka bertiga Alexandria, Ixora dan Richardo tampak panik. Panik karena ada informasi jika pesawat sudah mulai mendekat dan panik karena terjadi baku tembak antara petugas keamanan di pos penjagaan dan kapal besar penyerang.


“Kita tunggu dulu perkembangan selama pesawat dan anak buah kita masih aman jangan lakukan alternatif terakhir kita.” Ucap Alexandria dengan nada serius dan pandangan mata terus fokus pada layar lap top.


Sedangkan di kapal besar itu, Tuan Lim Neo tampak terus tertawa senang karena pesawat sasaran target semakin mendekat.


“Tuan kita lemparkan bom sebagai peringatan pada petugas pos keamanan dulu saja ya?” tanya anak buah kapal yang sudah siap dengan bom yang dipasangkan pada alat agar bom bisa meluncur jauh.


“Okey ide yang bagus, buat mereka semakin panik. Yang di atas juga biar tahu keadaan di bawah semakin genting. Kalau pilot panik akan semakin mudah kita menembak ke arah pesawat.” Ucap Tuan Lim Neo dengan nada serius. Dan anak buah kapal pun siap siap akan memuntahkan senjata senjata hebatnya.


Namun tiba tiba..


JEDERRRR


Kapal bergoyang sangat hebat semua anak buah yang berdiri di atas buritan termasuk Tuan Lim Neo terhuyung dan langsung berjatuh di lantai kapal.


Belum juga sempat mereka berdiri dan bertanya tanya. Dan lagi lagi kapal bergoyang dengan sangat hebat dan laju kapal sudah mulai tidak terarah. Anak buah yang berada di bawah sudah mulai panik dan berteriak teriak kapal bocor dan air sudah mulai masuk ke dalam kapal.


“Tuan kapal bocor segera menyelamatkan diri ambil sekoci dan perahu karet!” teriak salah satu orang anak buah kapal yang sudah siap dengan baju pelampung dan tangan membawa sekoci.


“Bagaimana mungkin kapal bisa bocor?” teriak Tuan Lim Neo dengan nada tinggi.

__ADS_1


“Seperti menabrak sesuatu Tuan.” Jawab orang yang baru saja datang di buritan itu.


“Bukannya dalam perhitungan tidak ada karang yang akan kita lalui.” Suara Tuan Lim Neo masih dengan nada tinggi.


“Benar Tuan dalam perhitungan tidak ada karang, tapi entah benda apa yang ditabrak kapal.” Ucap anak buah kapal yang baru datang itu. Tuan Lim Neo beserta yang lainnya tampak berdiri sempoyongan turun ke bawah untuk mengambil sekoci, baju pelampung dan mereka sibuk menyiapkan perahu karet. Beberapa dari mereka masih memanggul senjata akan tetapi juga ada dari mereka yang senjatanya terjatuh dan tidak sempat diambil.


Air yang masuk ke dalam kapal itu semakin banyak dan tubuh kapal bagian buritan semakin turun ke bawah. Kapal besar itu sudah tidak lagi dalam keseimbangan.


“Kenapa kapal semakin menjauh dari pulau harta karun?” teriak Tuan Lim Neo.


“Nahkoda sudah tidak bisa mengendalikan laju kapal Tuan. Siap siap saja kita menyelamatkan diri.” Ucap salah satu anak buah sambil berlari membawa perahu karet dengan tubuh yang sudah siap dengan baju pelampung.


Dan kita tiba


Suara di dalam kapal ada yang patah. Semua orang yang berada di dalam kapal itu sudah mulai panik untuk menyelamatkan diri sendiri. Nahkoda dan kru nya pun sudah meninggalkan ruang kemudi, dan juga akan pergi menyelamatkan diri.


Sementara pesawat jet pribadi milik Vadeo sudah semakin menurun dan mendekati pantai pulau Alexandria. Vadeo dan Bang Bule Vincent tampak masih panik. Sedangkan Valexa dan Deondria masih diam dengan mata terpejam dan kedua tangan mungil mereka bersedekap di dada.


Sementara itu Pak Pilot tampak lega sebab di layar navigasi menampilkan informasi aman di tempat yang akan dituju untuk melakukan pendaratan.


“Benar orang orang di pulau menjaga pantai dan pesawat kita dengan aman.” Ucap Pak Pilot yang sambil tersenyum dan bernafas lega. Asisten pilot pun juga tersenyum dan sudah tidak lagi berkeringat dingin.

__ADS_1


Sementara di ruang kerja Vadeo. Alexandria dan Richardo terlihat heran melihat kapal pergi menjauh dan tampak gerakan laju kapal dengan tidak beraturan.


“Apa yang sedang terjadi pada kapal itu? Apa serangan dari orang orang di pos sudah membuat kapal itu mundur.” Gumam Alexandria saat melihat layar lap nya alarm pun sudah berganti warna kuning.


“Padahal Nyonya belum menekan perintah okey pada menu aplikasi ya?” tanya Richardo yang juga tampak heran.


“Belum. Itu alternatif terakhir akan aku lakukan jika benar benar kita terdesak dan keselamatan kita terancam.” Jawab Alexandria. Dan sesaat kemudian hand phone milik Alexandria berdering. Alexandria segera menggeser tombol hijau saat yang menghubungi adalah petugas pantai tempat pesawat mendarat.


“Nyonya, pesawat sudah mendarat dengan selamat. Dan kapal besar itu tenggelam.” Suara laki laki di balik hand phone milik Alexandria.


“Hah? Apa cuaca tadi tiba tiba buruk lagi?” tanya Alexandria penasaran.


“Tidak Nyonya cuaca bagus sejak tadi hingga saat ini. Dari hasil pengamatan kami di sini melihat posisi kapal yang tidak seimbang bagian belakang semakin tenggelam ke dalam laut. Kapal itu bocor. Entah menabrak apa.” Suara laki laki di balik hand phone milik Alexandria itu lagi.


“Okey okey, terima kasih infonya aku coba lihat dari aplikasi ku apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap Alexandria lalu dia memutus sambungan teleponnya, karena dia begitu penasaran untuk melihat apa penyebab kapal itu bocor. Karena sama dengan Tuan Lim Neo dan anak buah kapal besar itu. Alexandria selama ini juga tidak mengetahui ada karang di lokasi kapal tadi. Sebab berkali kali kapal yang mengirim barang barang dari dan ke pulau Alexandria aman aman saja.


Alexandria pun sibuk dengan tuts tuts keyboard lap top untuk membuka suatu menu di aplikasinya yang sudah terhubung dengan alat pemantau di bawah laut yang dilengkapi oleh kamera, semacam CCTV yang dipasang di bawah laut di tempat tempat tertentu terutama di tempat tempat rawan dan tempat tempat yang biasa untuk jalur transportasi laut.


Akan tetapi tiba tiba perut Alexandria terasa mula lagi. Alexandria pun bangkit berdiri, sambil telapak tangannya menutup mulutnya.


“Kak Alexa mual lagi?” tanya Ixora juga ikut bangkit berdiri akan tetapi kini Ixora sudah tidak tampak panik lagi sebab sudah mendapat informasi jika pesawat sudah mendarat dengan aman. Dan alarm di aplikasi pun sudah tidak lagi berwarna merah menyala.

__ADS_1


“Ix kamu segera ke dapur lanjutkan lagi membuat bumbu dan saos. Sepertinya anak anakku di dalam perut ini sudah sangat ingin makan ikan laut bakar saos madu!” Perintah Alexandria sambil mempercepat langkahnya menuju ke kamar mandi yang ada di dalam ruang kerja Vadeo itu. Sedangkan Richardo tampak menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dan kedua kaki diselonjorkan dia benar benar merasa lega setelah tegang berhari hari lamanya. Richardo pun menelan ludah yang tiba tiba keluar membayangkan makan siang dengan ikan laut bakar saos madu.


__ADS_2