Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 228.


__ADS_3

Wika pun segera bangkit berdiri dan berjalan menuju ke pintu kamar saat pintu sudah dibuka tampak pelayan datang dengan membawa meja dorong yang kini tampak jumlah menu makanan lebih banyak.


“Ayo Pa, kembali ke Mansion utama. Biarkan mereka bertiga menikmati makan malam pertamanya.” Ucap Alexandria sambil menoleh ke arah Vadeo setelah melihat Wika sudah mendorong meja penuh menu makan malam itu.


“Ayo Ma....” suara Valexa dan Deondria secara bersamaan. Vadeo pun setuju.


“Nanny nya Boy ada di kamar sebelah, telepon kamar sudah berfungsi kalau kamu nanti malam akan buat adik untuk Boy, bisa menelepon Nanny.” Ucap Vadeo dengan suara lirih pada Justin akan tetapi Boy yang masih dipangku oleh Justin mendengar nya. Wajah Boy pun tampak bingung.


“Uncle apa Nanny akan membantu membuatkan adik buat aku?” Tanya Boy yang tidak tahu apa hubungan membuat adik untuk Boy dan harus menelepon Nanny nya Boy. Akan tetapi Justin yang tahu maksud dari Vadeo tampak tersenyum senang. Vadeo pun tersenyum menatap Boy.


“Okey Deo, kamu memang sangat baik hati.” Ucap Justin dengan suara berbisik dengan maksud agar Boy tidak mendengarnya.


Akan tetapi Boy yang kepo mempertajam pendengarannya dan dia tampak masih terlihat bingung.


“Boy kalau ingin adik sekarang maem yang banyak biar tidur nyenyak ya...” ucap Vadeo sambil mengacak ngacak puncak kepala Boy, dan Boy semakin tambah bingung. Vadeo pun lalu melangkah meninggalkan kamar pengantin itu menyusul anak istrinya yang sudah lebih dulu melangkah pergi.


Vadeo yang terakhir kali ke luar dari pintu kamar pengantin itu menutup rapat kembali daun pintu itu. Dan di kamar pengantin itu Wika tampak sibuk mengambilkan makanan buat Boy.


“Boy makan yang banyak ya.. “ ucap Justin sambil mengangkat tubuh mungil Boy dari pangkuannya lalu didudukkan di sampingnya.


“Iya Papa....” ucap Boy sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang mendapatkan perintah pertama dari sang Papa yang begitu dia rindukan. Wika hatinya senang tidak kepayang karena Boy sudah mendapatkan apa yang diinginkan nya selama ini.


“Boy sudah pintar makan sendiri kan..” ucap Wika sambil memberikan piring yang sudah berisi nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayur pada Boy. Boy mengangguk dengan mantap.


“Terima kasih Mama.” Ucap Boy setelah menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Ambilkan juga aku makanan seperti Boy, tetapi lebih banyak aku akan bekerja keras malam ini.” Ucap Justin yang ingin dilayani oleh istrinya. Dengan senang hati Wika mengambilkan piring berisi nasi dan teman temannya buat Justin.


“Terima kasih.” Ucap Justin dengan nada datar meskipun begitu sudah membuat Wika sangat senang mendapatkan ucapan terima kasih dari suaminya yang belum mencintainya itu.


“Mama juga makan yang banyak...” ucap Boy karena melihat Mamanya malah belum mengambil piring buat dirinya sendiri. Wika masih duduk sambil memandang Boy yang lahap makannya.


“Iya kamu juga makan yang banyak tapi jangan tidur dulu.” Ucap Justin setelah menelan makanannya yang sudah dikunyah sempurna sambil sekilas menoleh ke arah Wika.


‘Baik Tuan...” ucap Wika lalu dia mengambil piring nasi. Wika teringat akan pesan dari Tuan Jonathan agar menjadi isteri yang baik. Wika akan berusaha menurut dan melayani pada suaminya agar suami nya lama lama mencintai dirinya.


“Jangan panggil lagi aku Tuan. Ikuti saja Boy, panggil aku Papa.” Ucap Justin masih dengan nada datar. Akan tetapi itu membuat hati Wika bersorak sorai bahagia tidak terhingga. Keluarga baru itu pun menikmati makan malam pertamanya dengan hati bahagia.


Detik berganti detik menit berganti menit hari berganti hari, satu minggu telah berlalu... sejak setelah mendapatkan perintah dari Tuan Jonathan, Vadeo dan Alexandria sibuk mempersiapkan acara resepsi pernikahan Justin dan Wika. Tempat acara, jamuan, baju pengantin dan souvenir semua sudah dipesankan. Undangan pun sudah tercetak dan siap diedarkan undangan lewat on line sudah dikirimkan pada tamu tamu undangan.


“Rahasia Ma, yang jelas bukan miniatur mobil produksi pabrikku di Jerman.” Jawab Vadeo sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dia benar benar capek dan lelah, masalah dan pekerjaan selalu datang silih berganti. Baru saja masalah Riris teratasi kini harus menyiapkan acara resepsi pernikahan saudara sepupu nya.


“Papa gitu ya main rahasia rahasia segala, kesepakatan kita kan tidak ada rahasia..” ucap Alexandria sambil membetulkan baju tidurnya yang baru saja dia kenakan.


“Ini kan rahasia buat fun fun saja Ma ga apa apa... bukan hal yang berhubungan dengan keluarga kita.” Ucap Vadeo sambil menatap istrinya.


“Pa, aku ditanya oleh Mama Jo, souvenir nya apa, bagaimana jika Mama ga suka saat tahu apa souvenir yang Papa rahasiakan itu. Tetap ada hubungannya dengan keluarga Pa..” ucap Alexandria yang mulai merebahkan tubuhnya juga di tempat tidur. Alexandria memunggungi Vadeo.


“Ya sudah Mama pesen saja souvenir sekarang. Nanti kalau ga suka dengan souvenir pesanan ku. Ya pakai saja souvenir yang Mama pesan. Kalau cocok dengan pesanan ku, dua dua nya dipakai. ” Ucap Vadeo sambil memeluk tubuh istrinya tidak lupa jari jarinya mengusap usap perut Alexandria.


“Ma, pegangannya sudah beda nih Ma..” ucap Vadeo saat mengusap usap perut Alexandria.

__ADS_1


“Papa pasti mau bilang aku tambah gemuk ya..” ucap Alexandria yang masih memunggungi Vadeo. Berat badan Alexa memang dari hari ke hari terus bertambah akan tetapi masih dalam kondisi normal untuk ibu hamil.


“Bukan tambah gemuk Ma, tambah sexie.. he... he... he....” ucap Vadeo sambil tertawa kecil dan mencium kepala Alexandria lalu turun pada tengkuknya.


“Ma...” ucap Vadeo sambil terus menciumi Alexandria dari belakang.


“Hmmmmm.” Gumam Alexandria


“Aku mau menengok Raja dan Asasta...” gumam Vadeo sambil menciumi punggung Alexa.


“Adik adik mau bobok ngantuk tidak menerima kunjungan.” Ucap Alexandria sambil tersenyum menggoda suaminya.


“Aku mau menengok untuk membobok bobokkan mereka....” Ucap Vadeo tidak mau kalah dan tangannya masih terus mengusap usap perut Alexandria namun semakin turun ke bawah.


Saat Vadeo masih mengusap usap tubuh istrinya dan Alexandria menikmati setiap gerakan jari jari sang suami. Tiba tiba terdengar bunyi dering hand phone milik Vadeo yang masih aktif.


Vadeo mengabaikan bunyi dering itu, akan tetapi tidak juga berhenti, berkali kali masih saja mengulangi panggilan.


“Siapa sih menganggu saja.” Ucap Vadeo yang kini mau tak mau bangkit dari tidurnya. Vadeo pun segera meraih hand phone yang berada di atas nakas.


“Richardo.” Ucap Vadeo sambil menggeser tombol hijau.


“Apa?” ucap Vadeo selanjutnya.


“Tuan, saya dapat undangan untuk hadir besok di sidang kasus penembakan mobil oleh Mr Le. Jadi saya izin tidak bisa mengawal Nona Twins.” Suara Richardo di balik hand phone milik Vadeo. Karena Richardo memang menjadi saksi dan pengawal satunya menjadi korban penembakan mobil oleh Mr Le.

__ADS_1


__ADS_2