
“Sebentar Nona!” suara pelayan bagian logistik dengan keras sambil berjalan cepat menuju ke pintu ruangan, sebab daun pintu itu masih ditendang tendang oleh kaki kaki mungil.
Saat daun pintu sudah dibuka dua bocah langsung menghambur masuk ke dalam ruang kerja ibu kepala pelayan. Sampai sampai pelayan bagian logistik yang bertubuh gempal itu terhuyung huyung karena tersenggol oleh kedua tubuh mungil yang menghambur masuk.
“Danan dipotong (jangan dipotong)!” teriak Valexa dan Deondria sambil menatap tajam ke arah pimpinan tim misi yang masih memegang pisau siap akan memotong coklat blok itu.
“Kita mau buktikan isi di dalam nya Nona.” Ucap pimpinan tim misi itu sambil menatap Valexa dan Deondria yang masih berdiri.
Atikah tampak memandang sosok dua bocah yang ada di dekat nya itu. Di dalam hati nya muncul sebersit ide untuk menyergap dua bocah itu.
“Aku sergap sekarang saja apa ya dua bocah itu. Dan aku bawa lari.” Gumam Atikah dalam hati sambil memandang dua bocah itu lalu memandang pintu ruangan yang masih terbuka lebar. Sebab pelayan bagian logistik masih tampak kaget dengan kemunculan Nona Nona Kecil yang tiba tiba.
“Ahhh tapi mana mungkin bisa pasti aku sudah keburu ditangkap.” Gumam Atikah dalam hati lagi apalagi saat melihat pisau tajam yang masih dipegang oleh pimpinan tim misi. Dan Atikah pun hanya bisa menelan ludah melihat sosok dua bocah imut yang berada tidak jauh dari jangkauan tangannya.
“Butan beditu caya na... (bukan begitu cara nya).” suara Valexa yang sudah berjalan mendekati pimpinan tim misi.
“Macutan te dayam mito wep... (masukkan ke dalam micro wave ... ).” Ucap Deondria sambil menatap ibu kepala pelayan. Ibu kepala pelayan yang ditatap oleh Deondria pun segera tanggap dan menelepon anak buah nya untuk segera mengantar micro wave ke dalam ruang kerja nya. Dan pelayan bagian logistik pun menutup pintu dan dia berjalan menuju ke mini pantry yang ada di dalam ruangan itu untuk membuatkan minuman pada tamu tamu yang mendadak berdatangan.
Atikah yang masih duduk jantungnya semakin berdebar debar kencang. Sedangkan Zulfa masih tampak pucat dan bingung.
“Apa aku melarikan diri saja dari sini ya..” gumam Atikah dalam hati. Lalu dia mulai bersuara...
“Bu, toilet paling dekat di mana ya?” tanya Atikah sambil menatap wajah ibu kepala pelayan.
“Aku ikut At, aku sudah nahan sejak tadi.” Ucap Zulfa yang memang benar benar menahan kencing karena takut.
Valexa dan Deondria yang mendengar ucapan Atikah langsung menatap wajah Atikah dengan sorot mata tajam dan menghunjam.
Bang Bule Vincent yang bisa membaca gestur tubuh kedua ponakan itu paham, lalu dia menatap Atikah dan Zulfa dan berkata:
__ADS_1
“Kalian ke toilet di dalam ruang ini!” perintah Bang Bule Vincent pada Atikah dan Zulfa.
“Dan kamu ikuti mereka berdua termasuk ikut masuk ke dalam toilet.” Perintah Bang Bule Vincent selanjutnya pada pelayan bagian logistik. Pelayan bagian logistik yang baru saja berdiri sambil membawa nampan berisi minuman itu tampak kaget. Atikah pun juga tampak kaget. Sedangkan Zulfa langsung bangkit berdiri.
“Sayang ... sini... “ ucap Bang Bule selanjutnya dengan nada lembut sambil memandang Deondria yang masih berdiri menunggu datang nya mikro wave. Sedangkan Valexa sudah berdiri di dekat pimpinan tim misi dan meminta pisau yang tadi dibawa oleh pimpinan tim misi itu.
Pelayan bagian logistik setelah menaruh minuman ke atas meja langsung mengantar Zulfa ke toilet yang ada di dalam ruangan itu. Sedangkan Atikah masih terlihat duduk di kursi nya.
“Tata na mo tencing (kata nya mau kencing)?” suara Valexa dan Deondria yang kini sudah duduk di pangkuan Bang Bule Vincent, secara bersamaan sambil menatap tajam menghunjam pada Atikah.
“Nunggu teman saya keluar dulu Nona.” Jawab Atikah dengan nada sopan dan kepala menunduk. Akan tetapi di dalam hati nya dia mengumpat habis habisan.
“Gila dua anak itu galak banget, tatapan matanya kenapa membuat aku macam kehilangan kekuatan dan keberanian. Awas saja suatu saat pasti ada cara lain aku bisa membawa mereka ke tempat Richie. Dan akan aku colok mata mereka itu sampai buta.” Gumam Atikah dalam hati dengan emosi tinggi dan kepala nya masih tertunduk karena tidak kuat menatap sorot mata Valexa dan Deondria.
“Danan mentayal ya tamu. Coping bayu dagungan (jangan memgkhayal ya kamu. Sopir baru gadungan)!” Teriak Valexa sambil masih menatap tajam Atikah. Atikah yang menunduk langsung mendongakkan kepalanya karena sangat kaget dengan ucapan Valexa. Akan tetapi tetap dia tidak berani menatap wajah Valexa dan Deondria, Atikah pun kembali menunduk.
“Apa?” tanya Valexa selanjutnya.
Dan tidak lama kemudian micro wave sudah diantar oleh seorang pelayan.
“Taruh di mana Tuan?” tanya Ibu kepala pelayan sambil menatap wajah Bang Bule Vincent dan pimpinan tim misi.
“Sini.” Jawab Bang Bule Vincent sambil menunjuk meja kecil yang tidak jauh dari tempat duduk nya.
“Dan kamu tetap duduk di situ!” ucap Bang Bule Vincent sambil menatap wajah Atikah. Dan sesaat kemudian Zulfa pun sudah datang dari toilet.
“Tapi saya mau ke toilet.” Ucap Atikah
“Taan duyu, ini ndak yama. (Tahan dulu, ini tidak lama).” Teriak Deondria.
__ADS_1
Terlihat ibu kepala pelayan menaruh micro wave di meja kecil di pojok dekat dengan set kursi tamu yang mereka duduki. Ibu kepala pelayan itu pun membuka micro wave dan mengambil nampan yang ada di dalam micro wave.
“Tayuh di citu... ( taruh di situ).” Perintah Deondria pada pimpinan tim misi. Pimpinan tim misi itu pun menaruh coklat blok itu di atas nampan.
“Macutan yadi... ( masukkan lagi).” Perintah Deondria dan Valexa pada ibu kepala pelayan.
Dan setelah ibu kepala pelayan memasukkan nampan yang sudah berisi satu coklat blok besar itu. Tampak Valexa mendekati micro wave itu dan jari jari mungilnya mengatur suhu dan setelah nya dia menekan tombol on.
Semua orang penasaran dengan apa yang bakal terjadi dengan coklat blok di dalam micro wave itu. Atikah wajah nya sudah mulai pucat pasi, apalagi coklat blok itu sudah mulai meleleh. Jari jari mungil Valexa terlihat menurunkan suhu micro wave itu.
Dan tidak lama kemudian seluruh coklat sudah meleleh dan kini tampak banyak bungkusan bungkusan putih putih di dalam plastik. Valexa lalu menekan tombol off. Bang Bule Vincent yang penasaran segera membuka micro wave itu dan mengambil nampan berisi coklat dan bungkusan bungkusan putih putih.
“Talo pate pico cucah tan bica pecah di dayam na.. (kalau pakai pisau susah dan bisa pecah di dalam nya).” ucap Valexa selanjutnya dan pimpinan tim itu tersenyum kagum pada Valexa dan Deondria.
“Apa kamu masih membantah lagi?” tanya pimpinan tim misi itu sambil menatao wajah Atikah yang sudah mulai berkeringat. Pimpinan tim misi itu pun mengambil bungkusan bungkusan plastik yang berisikan serbuk serbuk putih itu.
“Hmmm itu mungkin hanya gula halus saja.” Jawab Atikah
“Masih saja membantah.” Ucap pimpinan tim misi dengan nada kesal.
“Kalian berdua resmi kami tangkap.” Ucap pimpinan tim misi itu selanjutnya setelah sudah memastikan serbuk putih di dalam coklat blok tadi benar benar barang terlarang.
“Pak tolong Pak, saya tidak tahu apa apa Pak.” Ucap Zulfa dengan suara yang bergetar karena ketakutan.
“Hah pura pura, bukan nya kamu yang tadi mengantar nya ke aku saat di pasar.” Ucap Atikah sambil menatap Zulfa
“Kamu kenapa memutar balikkan fakta sih?” ucao Zulfa semakin bingung dan takut, tubuhnya sudah semakin pucat dan dingin
“Cudah, danan yibut di cini, pucing atu... ( Sudah jangan ribut di sini, pusing aku).” Suara Valexa dan Deondria dengan lantang.
__ADS_1
...