
Setelah mengambil dua gelas air mineral. Vadeo segera kembali melangkah menuju ke tempat tidur Valexa dan Deondria. Vadeo menatap wajah kedua anaknya dan dan masih penasaran dengan apa yang sudah mereka berdua lakukan tadi.
Vadeo duduk di kursi yang ada di antara dua bed tempat tidur anak nya itu. Tahu jika sang Papa sudah kembali membawa air mineral dua bocah itu membukakan matanya dan menegakkan punggungnya. Vadeo mengulurkan gelas air mineral kepada Aca dan Aya. Dan dalam sekejap air mineral itu langsung habis.
“Yadi Pa..(Lagi Pa..).” Ucap Valexa dan Deondria sambil menyodorkan lagi gelas pada Sang Papa. Melihat kedua anaknya sangat kehausan, Vadeo semakin penasaran apa yang baru saja mereka lakukan.
Sambil kembali berjalan menuju ke tempat air mineral pandangan mata Vadeo berkeliling melihat lihat isi dan suasana kamar itu. Matanya juga menatap kamera CCTV dan dilihatnya aman aman saja tidak ditutup.
“Pa....” suara Valexa dan Deondria sebagai kode agar Sang Papa cepat mengambilkan lagi air minum.
“Iya Sayang...” ucap Vadeo dan segera mengambil dua gelas air mineral dan kembali berjalan ke tempat tidur Valexa dan Deondria yang masih duduk di tempat tidur menunggu air minum yang dibawa oleh Sang Papa. Vadeo pun segera memberikan gelas yang sudah berisi air mineral itu pada kedua anaknya.
“Kenapa kalian haus sekali dan berkeringat hmmm?” tanya Vadeo kemudian sambil menatap Valexa dan Deondria secara bergantian.
Akan tetapi belum juga Valexa dan Deondria menjawab karena mulut mungil mereka berdua masih menempel pada tepi atas gelas dan menegak isi di dalam gelas itu. Tiba tiba Vadeo merasakan ada angin yang bertiup dari arah kamar mandi. Vadeo lalu menoleh ke arah kamar mandi.
“Pintu balkon kalian buka ya?” tanya Vadeo dan kedua anak itu mengangguk. Vadeo lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi yang mana ruang kosong di depan kamar mandi ada satu pintu yang terhubung ke balkon.
__ADS_1
“Apa mereka tadi pergi keluar dari balkon ini?” gumam Vadeo saat sudah berada di pintu balkon yang sedikit terbuka. Vadeo lalu keluar dari pintu itu dan melihat lihat situasi balkon.
“Mana mungkin mereka loncat dari balkon yang tinggi begini.” Gumam Vadeo dalam hati yang tiba tiba teringat saat Valexa dan Deondria loncat dari jendela rumah Bang Bule Vincent.
“Ooo coba aku cek CCTV kamera luar rumah.” Gumam Vadeo sambil tersenyum lalu dia masuk ke dalam kamar Valexa dan Deondria lagi. Dia tutup rapat pintu menuju ke balkon itu. Saat melangkah masuk tampak Valexa dan Deondria sudah terpejam matanya. Entah sudah tidur sungguhan atau hanya pura pura agar tidak ditanya tanya oleh Sang Papa.
Vadeo pun mengecup kedua kening anaknya secara bergantian lalu dia berjalan menuju ke kamarnya. Saat melihat tubuh Alexandria yang tampak tertidur dengan pulas. Mulut Vadeo pun menguap.
“Hmmm aku ngantuk sekali, besok saja aku cek CCTV luar.” Gumam Vadeo dalam hati dia pun lalu melompat naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping tubuh Sang istri.
Sementara itu di ruang kerja Vadeo. Bang Bule Vincent kini sudah ditemani oleh Richardo. Kedua orang itu masih memantau aplikasi yang memberikan alarm berwarna kuning. Bang Bule Vincent menuruti perintah Vadeo akan berjaga hingga warna kuning itu berubah menjadi hijau.
Jari jari iseng Bang Bule Vincent pun segera membuka aplikasi untuk melihat tangkapan CCTV di kamar Vadeo. Akan tetapi Bang Bule Vincent hanya melihat tangkapan layar kamera CCTV saat Vadeo berada di depan pintu kamar dan masuk ke dalam kamar. Dan tidak ada tangkapan kamera CCTV di dalam kamar Vadeo. Karena Vadeo sudah menonaktifkan sebelumnya untuk antisipasi keusilan Bang Bule Vincent.
“He..... he..... he....” Richardo tertawa kecil melihat kekecewaan Bang Bule Vincent. Jari jari Bang Bule Vincent pun masih bergerak gerak untuk melihat rekaman CCTV tiba tiba dia ingin melihat rekaman CCTV kamar kedua keponakan yang tadi gelap.
Klik
__ADS_1
Dan Bang Bule Vincent kini bisa melihat rekaman terbaru saat Vadeo masuk ke dalam kamar Valexa dan Deondria yang gelap hingga adegan terakhir Vadeo keluar dari kamar bocah itu lewat pintu kaca penghubung.
“Do, tadi tuh kamar bocah ini tidak bisa dilihat sekarang bisa.” Gumam Bang Bule Vincent.
“Coba cek ulang jam jam sebelumnya Bang.” Ucap Richardo. Bang Bule Vincent pun mencoba melihat rekaman di waktu waktu sebelumnya . Dan hasilnya sama gelap. Yang bisa dilihat rekaman saat dua pengasuh keluar dari kamar si Kembar dan setelahnya tidak ada gambar apa apa.
“Aku juga sama seperti Vadeo, kepo mereka melakukan apa..” gumam Bang Bule Vincent... Dan bersamaan dengan itu suara suara ayam jantan pun mulai kukuruyuk demikian juga suara burung burung mulai berkicau riang menyambut sang mentari yang akan hadir menyinari bumi. Tanda pagi sudah tiba. Akan tetapi alarm tanda bahaya masih berwarna kuning.
“Kalau warna masih kuning begini apa iya kita tidak boleh tidur. Aku sudah ngantuk banget Do. Aku juga sudah kangen Ixora.” Gumam Bang Bule Vincent sambil menguap.
“Kita buat jadwal aja Bang.” Usul Richardo.
“Iya untuk anak buah sudah aku suruh buat jadwal. Kita yang memantau juga kita buat jadwal. Jadi kamu tadi sudah tidur sekarang kamu yang jaga. Aku mau tidur.” Ucap Bang Bule Vincent sambil bangkit berdiri. Richardo pun hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar dan menuruti perintah dari Bang Bule Vincent untuk melanjutkan tugasnya memantau keadaan lewat aplikasi.
Sedangkan di lokasi lain di perairan pulau Alexandria. Hujan badai sudah mereda, akan tetapi kapal anak buah Tuan Njun Liong sudah tenggelam ke dasar laut. Sementara orang orang yang berada di dalam sekoci ada yang masih terapung apung ada yang sudah hilang terhanyut entah ke mana. Laki laki berkulit hitam itu masih berada di atas sekoci yang terapung apung.
“Honey... Honey... “ teriak laki laki hitam itu sambil menepuk nepuk pipi wanita penghiburnya yang sudah dingin membeku.
__ADS_1
“Honey.. tahan Honey.. sabar Honey.. Kita tunggu ada pertolongan datang.. Kita tunggu ada kapal penumpang lewat atau kapal nelayan...” ucap laki laki berkulit hitam itu sambil memeluk tubuh wanita penghiburnya, akan tetapi wanita penghibur itu hanya diam saja tubuhnya terasa dingin. Sekoci itu terus bergerak gerak mengapung dengan tidak tentu arah, hanya mengikuti ke mana gelombang air laut akan membawanya.