
Vadeo pun akhirnya ikut naik ke atas tempat tidur, memeluk tubuh Sang Istri dan selanjutnya dia pun ikut pulas tidur di samping istri tercinta.
Sementara itu di Mansion Jonathan. Suasana tampak heboh Nyonya William sudah datang dalam rangka persiapan berangkat ke pulau Alexandria besok pagi. Mereka berdua dibantu oleh pelayan sedang mengemas ngemas barang barang untuk cucu cucu mereka dan hadiah hadiah untuk para karyawan di pulau Alexandria.
“Sudah fix ya kita besok pagi berangkat?” tanya Nyonya William meminta kepastian. Mereka berdua juga sudah selesai menyuruh pelayan memesankan ikan laut segar terbaik buat Alexandria.
“Iya sudah fix. Kita kan sudah pesan ikan laut beberapa kontainer. Aku sudah menghubungi pak pilot berapa batas maksimal barang harus dibawa jangan sampai melebih kapasitas.”
“Oma William jangan lupa kita bawa sepatu buat jalan ke bukit yang ada permata langka itu. Aku juga suruh pengawal membawa anjing pelacak yang sudah dilatih mencari permata.” Ucap Nyonya Jonathan dengan nada serius para pelayan yang sedang sibuk mengemas ngemas barang spontan menoleh ke arah Nyonya Jonathan.
“Hah? Oma Jo benar benar hebat kalau masalah permata sampai sampai tahu ada anjing pelacak permata segala.” Ucap Nyonya William tampak kagum dan heran sambil geleng geleng kepala.
“Aku menghubungi Alexandria dan Vadeo belum terhubung.” Ucap Nyonya William selanjutnya sambil memegang hand phone miliknya, dia menghubungi Alexandria dan Vadeo di saat kedua orang itu sedang tidur dengan pulas. Menghubungi Bang Bule Vincent dan Ixora pun tidak terhubung sebab hand phone milik Bang Bule Vincent dan Ixora masih mati.
“Oma William tenang saja pokoknya sudah fix kita besok pagi berangkat. Kita akan mencari permata langka dan kita mendapat cucu lagi. Sungguh sungguh berita bahagia.” Ucap Nyonya Jonathan dengan senyum lebarnya.
Nyonya William dan Nyonya Jonathan tampak terus tersenyum bahagia mereka berdua pun melanjutkan kegiatannya untuk mengemas barang barang yang akan dibawa ke pulau Alexandria.
Waktu pun terus berlalu. Hingga malam hari pun tiba. Kembali ke pulau Alexandria. Di kamar Valexa dan Deondria, kedua bocah itu sudah tampil cantik dan segar karena sudah cukup tidur istirahat siang hingga menjelang maghrib. Dan kini waktu makan malam pun tiba.
“Nanny atu mau te tamal Mama tan Papa.. ( Nanny aku mau ke kamar Mama dan Papa..).” ucap Valexa dan Deondria bersamaan sambil berjalan menuju ke pintu kaca penghubung akan tetapi pintu itu masih terkunci dan tertutup rapat oleh korden tebal.
__ADS_1
Kaki kaki mungil mereka menendang nendang pintu kaca tebal itu. Dua pengasuh mereka tampak kuatir dan berlari mendekati.
“Nona jangan ditendang tendang nanti pecah kacanya.” Ucap pengasuh Deondria sambil menarik tubuh mungil Deondria akan tetapi dia malah terhuyung ke belakang.
“Nona Nona sudah mau punya adik tidak boleh seperti itu nanti dicontoh oleh adik.” Ucap pengasuh Valexa yang tampak sangat panik apalagi jika membayangkan katanya adik mereka laki laki dan kembar lagi bisa bisa lebih heboh tendangannya.
“Mama tan Papa tidul...(Mama dan Papa tidur).” Ucap Valexa dan Deondria yang sudah menghentikan tendangannya.
Akan tetapi tidak lama kemudian pintu terbuka.
“Siapa yang tidur?” ucap Vadeo dengan suara yang masih parau. Dia terbangun karena mendengar suara pintu yang ditendang tendang oleh anak anaknya. Valexa dan Deondria pun lalu menerobos berlari masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya, mereka terus berlari menuju ke tempat tidur di mana Sang Mama masih berbaring dengan mata yang sudah terbuka menatap kamar kedua anaknya. Alexandria pun tersenyum saat melihat kedua anaknya sudah cantik cantik dan berlari mendekati dirinya. Kedua bocah itu tampak memeluk Alexandria dan menciumi perut Alexandria berkali kali.
“Iya padahal situasi belum aman. Tolong Mama kasih tahu pada Oma Oma.” Suara Vadeo yang kini sudah berdiri berada di dekat istri dan anak anaknya.
“Iya Ma, macih ada oyang dahat... (Iya Ma masih ada orang jahat)” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil menatap Alexandria. Vadeo yang mendengar mengernyitkan dahinya.
“Hmm kalau mereka mengatakan masih ada orang jahat berarti benar benar belum aman. Bagaimana cara memberi tahu pada Mama.” Gumam Vadeo dalam hati.
“Iya nanti Mama hubungi Oma Oma. Yuk makan dulu, adik adik sudah laper nih.... “ ucap Alexandria lalu bangkit dari tidurnya.
Mereka berempat pun keluar dari kamar untuk menuju ke ruang makan. Saat berada du ruang makan tampak sosok Richardo sudah duduk manis di salah satu kursi makan itu menunggu Tuan, Nyonya dan Nona Nona Kecilnya.
__ADS_1
“Saya disuruh ibu pelayan ikut makan di sini karena Bang Bule Vincent dan Ixora sudah di guest house, padahal ibu pelayan sudah masak banyak buat makan malam ini.” Ucap Richardo dengan sopan sambil menatap Vadeo dan Alexandria yang terus melangkah mendekati meja makan bersama kedua anaknya.
“Cilahtan Om Yicado... (Silahkan Om Richardo).” Ucap Valexa dan Deondria dengan senyum lebarnya dan minta dibantu oleh Richardo untuk naik ke atas tempat duduknya. Alexandria dan Vadeo pun mempersilahkan dengan senang hati.
“Bagaimana pantauan kamu tadi?” tanya Vadeo sambil duduk dan menatap Richardo.
“Masih dalam pengejaran Tuan. Baru satu kapal karet yang tertangkap dan mereka sudah ditahan. Informasi mereka membawa senjata jarak jauh. Semua senjata sudah disita.” Jawab Richardo dengan nada serius sambil mendudukkan Valexa di samping Deondria yang sudah dia dudukkan terlebih dahulu.
Vadeo tampak urat urat di wajahnya menegang. Dia memikirkan bagaimana susahnya memberi tahu pada Mamanya yang bersikeras mengatakan kondisi sudah aman.
“Makan dulu Pa, dipikir nanti, aku nanti hubungi Oma Oma agar mereka menunda keberangkatannya.” Ucap Alexandria sambil membuka piring di depan suaminya
Sementara itu di lain tempat di perairan perbatasan pulau Alexandria. Terus terjadi pengejaran dan penyisiran pada kapal kapal yang berkeliaran untuk mencari perlindungan. Dan salah satu kapal karet yang dikejar itu adalah kapal karet yang dinaiki oleh Tuan Lim Neo dengan tiga anak buahnya.
“Sial, teman kita tertangkap.” Ucap salah satu anak buah Lim Neo.
“Untung kamu bisa menyembunyikan kapal kita di balik kapal yang sedang lewat ini.” Suara Tuan Lim Neo pada anak buahnya yang berhasil membawa kapal karet bersembunyi di balik kapal transportasi umum yang sedang lewat. Apalagi hari sudah gelap jadi turut membantu mereka dalam bersembunyi dalam pengejaran.
“Tuan kita minta perlindungan pada kapal itu apa kita tetap melanjutkan?” tanya anak buah Tuan Lim Neo.
“Kita jalan saja dulu di samping kapal penumpang ini. Kita lihat lihat situasi dulu.” Jawab Tuan Lim Neo dan kapal karet itu dikayuh dengan cepat oleh anak buah Tuan Lim Neo berjalan di samping kapal transportasi umum.
__ADS_1