Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 14. Rencana si Kembar Dilatih Bang Bule


__ADS_3

Bang Bule yang menggendong Valexa berjalan lebih dulu lalu dia membuka kunci pintu ruang itu. Pintu itu kini sedang tidak digembok sebab ada orang di dalamnya yang tidak lain adalah Ixora. Vadeo pun masih menunggu pintu terbuka, dia pun sudah lama tidak masuk ke dalam ruang rahasia itu.


Tidak lama kemudian pintu sudah terbuka. Mata Valexa dan Deondria tampak melotot sebab ruangan itu tampak gelap gulita, kaki Bang Bule Vincent dan Vadeo pun segera melangkah masuk ke dalam ruang rahasia itu. Bang Bule segera menutup kembali pintu yang lebar kokoh dan kuat itu, tidak lupa dia menguncinya kembali.


Valexa dan Deondria tampak hanya diam saja tidak bicara sepatah kata pun dan tidak juga bergerak gerak.


Sesaat kemudian Bang Bule Vincent menekan saklar lampu yang letaknya tersembunyi.


BYAR


Ruangan pun kini terang dan terlihat ada anak tangga menuju ke bawah. Valexa dan Deondria terlihat mata nya berbinar binar mereka sedikit meronta ingin turun dan ingin berlari menuruni anak tangga. Akan tetapi Vadeo dan Bang Bule mempererat dalam memegang tubuh mereka berdua.


“Stttttt kalian sudah janji harus digendong.” Bisik lirih Vadeo. Akan tetapi suara lirih Vadeo itu bergema dengan keras. Valexa dan Deondria pun matanya melotot dan bibirnya tersenyum lebar.


“Keyen...” suara Deondria.. Dan sesaat tangan kekar Vadeo menutup mulut mungil Deondria. Bang Bule pun segera menutup mulut mungil Valexa agar tidak ikut ikut bersuara.


“Keeeeeeyyyyyyeeeeeeennnnnn...” gema suara Deondria


Valexa dan Deondria tersenyum senang, meskipun mulutnya masih ditutup oleh Bang Bule Vincent dan Vadeo.


Vadeo dan Bang Bule pun lalu menuruni anak tangga dengan pelan pelan sebab khawatir langkah kaki nya menggema dan mengganggu konsentrasi Ixora yang sedang bekerja.

__ADS_1


Valexa dan Deondria di dalam gendongan pandangan mata nya menatap ke bawah, akan tetapi di bawah tampak ruangan gelap hanya mendapat pantulan sinar dari lampu yang menyala di dekat pintu tadi.


Mereka terus menuruni anak tangga kali ini tidak ada lagi mulut yang bersuara hanya langkah kaki mereka yang terdengar masih menimbulkan gema suara.


Sesaat kemudian, Bang Bule sudah menginjakkan kakinya di lantai ruang bawah tanah itu dan tidak lama kemudian Vadeo pun juga sudah menginjakkan kaki nya di lantai ruang bawah tanah itu. Kini suara langkah kaki mereka berdua pun sudah tidak terdengar lagi. Tidak ada lagi gema suara nya.


Sesaat kemudian Bang Bule mendekati sebuah dinding yang sudah dia hafal meskipun kondisi ruangan gelap. Dan tiba tiba .


BYAR


Ruangan kini terang benderang. Bang Bule Vincent tadi menekan saklar yang ada di dinding ruang bawah tanah itu. Valexa dan Deondria terlihat pandangan matanya mengitari seluruh ruangan yang sangat ingin mereka datangi itu. Sebuah ruangan yang sangat luas. Di ujung dinding agak jauh ada alat untuk sasaran tembak papan dengan gambar lingkaran lingkaran. Dan juga ada manekin manekin alias orang orangan yang juga digunakan untuk latihan sasaran tembak.


“Enti Icoya...” teriak mereka berdua yang belum melihat sosok Ixora. Meskipun mereka bersuara keras akan tetapi kini suara mereka tidak bergema. Kedua bocah itu pun saling tatap ekspresi wajahnya tampak kagum, heran dan kepo menjadi satu.


“Papa atu mau beteja di cini ...” suara mereka berdua sambil menatap Sang Papa yang berjalan di samping Bang Bule.


“Deo anak anakmu memiliki kemampuan lebih bagaimana jika aku didik mereka.” Ucap Bang Bule sambil menoleh menatap Vadeo. Tampak wajah Valexa dan Deondria tersenyum senang dan mengangguk anggukan kepalanya sambil menatap wajah Sang Papa Vadeo.


“Gila kamu Bro, aku kurang setuju dengan mendidik yang berbau kekerasan pada anak anak. Belum waktu nya.” Jawab Vadeo dengan cepat sebab menurut dia pekerjaan dan kegiatan Bang Bule urusan nya dengan segala bentuk kekerasan seperti memukul, menendang, menembak dan lain lain nya.


“Apa kamu tidak percaya dengan cara aku mendidik mereka. Aku ingin mengajari mereka latihan ilmu bela diri sejak dini. Kamu lihat sendiri tadi bagaimana cara mereka meloncat. Aku akan melatih mereka bagaimana cara meloncat agar aman tidak membahayakan tubuh mereka. Jadi hal ini juga bisa untuk mengantisipasi hal hal yang kamu takutkan jika suatu saat sel tubuh mereka menjadi normal seperti sel tubuh manusia pada umumnya.” Ucap Bang Bule yang terus melangkah menuju ke ruang tempat Ixora bekerja.

__ADS_1


“Benar juga, tapi aku harus diskusi dulu dengan Alexandria.” Ucap Vadeo dengan nada serius


“Hmmm..” gumam Bang Bule sambil mengetuk ngetuk pintu ruang khusus Ixora.


“Eh Bro.. Kamu terpikir tidak jika anak anakmu ini memiliki kekuatan gaib karena kamu membuatnya di pulau Alexandria.” Ucap Bang Bule sambil tersenyum menoleh ke arah Vadeo.


“Kamu jangan sembarangan Bro.. Anak anakku kamu pikir kemasukan roh roh gitu maksudmu.” Ucap Vadeo dengan kesal sambil menatap tajam Bang Bule


“Aku tidak percaya hal hal macam begitu!” ucap Vadeo lagi.


“Ada baiknya kamu konsultasi kan pada orang orang yang ahli dalam hal hal macam begituan. Kadang sih macam percaya dan tidak percaya. Ada pandangan yang mengatakan ada anak anak tetapi memiliki jiwa yang usianya jauh lebih tua dari orang dewasa pada umumnya. Kalau aku baca baca tentang anak indigo itu katanya roh dan jiwa mereka sudah tua. Aku sendiri juga tidak begitu paham masalah itu hanya sebatas baca baca artikel saja.” Ucap Bang Bule dengan nada serius, Valexa yang berada di dalam gendongan nya tangan mungilnya mengusap usap rambut kepala Bang Bule dengan penuh kasih sayang.


Sementara Vadeo masih berpikir pikir dengan apa yang dikatakan oleh Bang Bule. Ingatan Vadeo pada program hamil yang Alexandria lakukan di Pulau Alexandria bersama diri nya. Bagaimana dia dan Alexandria melakukan hubungan intim di sungai yang jernih itu. Bagaimana dia harus mencari buah asam yang Alexandria idam idamkan, dia harus pergi ke bukit yang ada pohon buah asam. Ingatan Vadeo kembali tertuju pada pohon buah asam yang kata pak tukang kebun pohon itu terkenal angker.


“Anak anakku manusia biasa.” Gumam Vadeo sambil menciumi wajah Deondria yang ada di dalam gendongan nya. Vadeo tidak percaya pada hal hal yang berbau bau mistis macam begitu.


“Orang orang menganggap pohon asam itu angker mungkin karena ada ular besar itu di bawah nya.” Gumam Vadeo dalam hati.


Saat Vadeo masih memikirkan masa masa program hamil istri nya. Pintu ruang Ixora sudah terbuka. Muncul sosok Ixora yang sudah melepas jas laboratorium dan sarung tangan karet nya. Dia tersenyum bahagia.


“Hai... kalian sampai di sini ya...” sapa Ixora lalu menciumi wajah Valexa dan Deondria

__ADS_1


“Atu duda mau keja di cini...” teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan.


__ADS_2