
“Pa tepat Pa... (Pa cepat Pa).” Ucap Deondria pada sang Papa yang sedang memasang kancing baju nya. Sedangkan Valexa terlihat baru menyisir rambutnya sendiri.
“Kalian tadi sih pakai acara minta baju seragam.” Ucap Vadeo sambil merapikan baju Deondria. Sejak pagi Sang Oma atau sang Aunty akan membantu mereka akan tetapi mereka berdua tidak mau, mau nya dibantu oleh Sang Papa saja.
Sesaat Vadeo sudah selesai merapikan baju Deondria, lalu dia membantu menyisir rambut kedua anaknya dan memberikan bedak pada wajah cantik dan imut kedua anak nya itu. Dan selanjutnya memakaikan hiasan rambut pada kepala kedua anak nya.
“Sudah cantik cantik puteri puteri Papa ini.” Ucap Vadeo sambil tersenyum dengan puas melihat wajah dan penampilan kedua anaknya.
“Pa, tita te yumah Ante Vin duyu ya... ( Pa kita ke rumah Uncle Vin dulu ya...).” Ucap mereka berdua dengan nada manja kepada sang Papa.
“Sayang kalian kan ada acara tour, berangkat bersama sama dengan para guru dan teman teman.” Ucap Vadeo sambil menggandeng tangan kedua anaknya.
“Hhhhhh .” suara desah kedua nya sambil melepas nafas.
“Pindem heng pong.... Papa. (pinjam hand phone ...Papa).” Ucap Deondria sambil mendongak kepalanya melihat wajah Sang Papa.
“Maem dulu..” ucap Vadeo sambil terus menggandeng tangan kedua anaknya untuk keluar dari kamar dan selanjutnya menuruni anak tangga menuju ke ruang makan.
Sesaat mereka bertiga sudah sampai di ruang makan. Tampak Tuan dan Nyonya William masih menunggu mereka di meja makan.
Valexa dan Deondria tampak manis dan tidak membuat keributan, mereka berdua tampak sarapan dengan lahap dengan dibantu oleh Sang Oma dan Sang Opa. Tuan dan Nyonya William tampak sangat bahagia sebab jarang mereka berdua mendapat kesempatan bisa menyuapi kedua cucu nya itu tanpa keributan dan kehebohan.
Setelah semua selesai sarapan, Valexa dan Deondria pamit pada Tuan dan Nyonya William. Vadeo pun juga turut pamit akan segera ke Jonathan Co.
“Pa...” ucap Valexa dan Deondria sambil mengulurkan tangan nya meminta hand phone Sang Papa.
“Iya nanti di luar saja.” Ucap Vadeo dengan suara berbisik agar Oma dan Opa William tidak mendengar.
__ADS_1
Mereka bertiga pun terus melangkah menuju ke pintu utama Mansion dan selanjutnya keluar dari pintu utama Mansion tersebut untuk menuju ke mobil mereka.
Sementara itu lain tempat, di rumah Bang Bule. Bang Bule Vincent sedang di ruang keluarga bersama anak buah nya yang tadi malam disuruh mengawasi beberapa tempat dan orang orang yang sudah dicurigai.
“Tempat sepi Bang tidak ada hal yang mencurigakan dan tidak ada orang orang yang kita curigai.” Ucap salah satu anak buah Bang Bule Vincent dengan nada serius.
“Rumah Amelia juga sudah kita awasi juga tidak ada hal yang mencurigakan.” Ucap anak buah lain nya.
“Hmmm apa mereka pindah tempat atau belum melakukan transaksi.” Gumam Bang Bule sambil berpikir pikir.
“Kalau mereka sudah bertransaksi kita kecolongan.” Ucap Bang Bule selanjutnya dengan nada sedih dan kecewa.
Sesaat hand phone Bang Bule di saku celana cargonya terdengar suara dering. Dengan segera Bang Bule mengambil hand phone dan saat di lihat layar hand phone nya, tertera nama Vadeo sedang melakukan panggilan video. Bang Bule Vincent dengan segera menggeser tombol hijau.
“Ante.. (Uncle).” suara Valexa dan Deondria dengan penuh semangat.
“Ante bayang bayang na cudah te mana mana. (Uncle barang barang nya sudah ke mana mana).” Suara Valexa dengan nada serius. Bang Bule Vincent yang mendengarkan pun tampak wajah nya serius dan berpikir keras.
“Ada... catu dua tida empat yima .... ( ada.. satu dua tiga empat lima...).” Ucap Deondria sambil jari jari mungilnya berhitung dan tampak mata nya menerawang jauh macam melihat lihat sesuatu yang jauh di sana.
“Cembiyan! Cepuyuh cama yan atan diantal di mancen donatan ( sembilan! Sepuluh sama yang akan diantar di mansion Jonathan).” Ucap Deondria dengan mantap.
Vadeo yang mendengar Mansion Jonathan ikut disebut oleh Deondria, dia tampak berpikir pikir.
“Atu mau bantu Ante tapi na atu ayus itut tuul.. (Aku mau bantu Uncle tapi nya aku harus ikut tour..).” suara Valexa dan Deondria secara bersamaan.
“Ante itu bayang bayang nya ditayuh di dayam totat beyok.... (Uncle itu barang barang nya ditaruh di dalam cokelat belok...).” suara Valexa kemudian
__ADS_1
“Cokelat apa Sayang?” tanya Bang Bule Vincent sambil mengernyitkan dahi nya mencerna kalimat kalimat keponakan nya.
“Totat beyok yan biaca dipate Oma Dansen untuk buwat tuwe tuwe itu Ante... (Cokelat belok yang biasa dipakai Oma Jansen untuk buat kue kue itu Uncle).” Suara Deondria dengan lantang
“Ooo cokelat blok.” Ucap Bang Bule yang sudah paham. Dia pun lalu mengangguk angguk kan kepala nya.
“Ya iya totat beyok...” ucap Valexa dan Deondria
“Ante toyong awasi mancen donatan ya.. atan ada tancakci di cana (Uncle tolong awasi mansion Jonathan ya.. akan ada transaksi di sana).” Suara Valexa sambil menatap tajam wajah Bang Bule Vincent yang ada di layar hand phone nya.
“Coping bayu Ante. (sopir baru, Uncle).” Ucap Deondria menambahkan.
“Okey Sayang saat yang tepat untuk menangkap Amelia.” Ucap Bang Bule Vincent sambil tersenyum.
“Tapi na ada oyang yan yayi te yual negeyi. (Tapi nya ada orang yang lari ke luar negeri).” Ucap Deondria kemudian.
Akan tetapi tiba tiba Richardo yang berdiri tidak jauh dari mereka mendapat telepon dari ibu guru yang mengatakan Valexa dan Deondria sudah ditunggu. Richardo lalu memberi tahu pada Vadeo.
“Sayang sudah ya, Papa mau ke kantor, kalian juga sudah ditunggu oleh guru dan teman teman.” Ucap Vadeo sambil melihat waktu di jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Valexa lalu menyerahkan hand phone milik Papa nya itu. Dia lalu menjabat tangan Sang Papa dan mencium punggung telapak tangan Sang Papa. Deondria pun juga melakukan hal yang sama seperti yang saudara kembar nya lakukan pada Sang Papa.
“Jangan nakal ya Sayang.” Ucap Vadeo memberi pesan sambil membungkuk mencium puncak kepala kedua anaknya.
“Ciiap Pa.. Daa.... da..... “ teriak mereka berdua sambil berlari menuju ke mobil yang akan mengantar mereka. Richardo yang sejak tadi berdiri menunggu mereka pun segera mengikuti mereka berdua.
Valexa dan Deondria segera masuk ke dalam mobil yang pintu nya sudah dibukakan oleh Pak sopir senior sejak tadi. Dan di saat Richardo sudah masuk ke dalam mobil. Valexa dan Deondria yang sudah duduk di jok belakang kemudi saling pandang dengan tatapan mata yang cukup serius, dan mulut mungil mereka berdua hanya diam saja tidak berucap satu patah kata pun.
__ADS_1
...