
Saat setelah Bang Bule Vincent sudah menggeser tombol hijau, di layar hand phone nya tampak wajah mungil kedua keponakan.
“Ante cuyuh anak buwah menyebal te ceyuyuh pintu macuk puyo .. (Uncle suruh anak buah menyebar ke seluruh pintu masuk pulau ).” Suara Valexa dengan lantang.
“Atu atan buwat tapal meyeka tendeyam sebeyum menepi di puyo Ayetandiya... Atu atan minta bantuan ayam cemesta... (Aku akan buat kapal mereka tenggelam sebelum menepi di pulau Alexandria.. Aku akan minta bantuan alam semesta).” Saut Deondria dengan senyum penuh misterius.
Bang Bule Vincent yang mendengar tampak heran. Demikian juga Vadeo yang duduk memangku mereka berdua.
“Ayam apa Ya?” tanya Bang Bule Vincent minta kejelasan
“Semacam ayam hutan tadi ya...” gumam Vadeo. Valexa lalu membalikkan tubuhnya menghadap sang Papa lalu mencubit gemas kedua pipi Sang Papa.
“Ayam cemesta... bumi tan ceyuyuh isi na duda yan ada di atas na jauh tak yehinda... (Alam semesta... bumi dan seluruh isi nya juga yang ada di atasnya jauh tak terhingga...).” ucap Deondria dengan nada serius sambil menatap tajam wajah Bang Bule Vincent yang ada di layar hand phone Vadeo. Bang Bule Vincent yang sejak awal penasaran dengan kemampuan kedua keponakan itu. Tampak bengong dan juga penasaran dengan apa yang akan dibuat oleh kedua keponakannya itu. Apalagi feeling Bang Bule Vincent jika kedua anak itu ada hubungannya dengan kedua puteri kerajaan Asasta. Bang Bule Vincent mengingat hal itu sampai tangannya bergetar dalam memegang hand phone nya.
“Cudah tepat cuyuh anak buwah menyebal.. (Sudah cepat suruh anak buah menyebar).” Ucap Deondria dan Valexa secara bersamaan lalu sambungan panggilan video diputus oleh Deondria.
Dua mobil itu terus melaju dengan kecepatan penuh. Dan satu jam kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah. Tampak pintu gerbang yang biasanya hanay dijaga oleh satu orang kini dijaga oleh empat orang. Terlihat pak sopir yang pingsan masih juga belum sadar. Bang Bule Vincent lalu menyuruh membawa Pak Sopir itu ke rumah sakit yang ada di kawasan hunian para karyawan dan pelayan Vadeo yang ada di pulau Alexandria itu. Dulu yang masih dalam bentuk poli klinik dengan berjalan nya waktu dan semakin banyaknya karyawan, pelayan dan keluarga mereka kini poli klinik itu sudah berkembang menjadi rumah sakit.
__ADS_1
Pintu rumah tampak terbuka dan muncul sosok Alexandria dan Ixora yang sudah menunggu sejak tadi. Mereka berdua berjalan menuju ke mobil yang sudah berhenti. Bang Bule Vincent tampak sudah keluar dari mobil dan segera berjalan menuju ke arah Alexandria dan Ixora. Sedangkan mobil yang masih membawa pak sopir yang pingsan berjalan lagi meninggalkan halaman rumah menuju ke rumah sakit.
Sesaat kemudian pintu mobil yang ditumpangi oleh Vadeo terbuka dan muncul sosok Valexa dan Deondria yang segera berlari mendatangi Sang Mama dan Aunty nya.
“Mama.... Enti.... (Mama... aunty ...).” teriak mereka berdua sambil terus berlari dan sesaat kemudian mereka berdua memeluk tubuh Sang Mama. Alexandria pun menunduk dan menciumi mereka.
“Mama danan dendong atu yadi... (Mama jangan gendong aku lagi..)” ucap mereka berdua saat tangan Alexandria akan mengangkat tubuh salah satu dari mereka.
“Apa kalian sudah tahu ada adik di perut Mama.” Bisik Alexandria dan kedua bocah itu tersenyum sambil mengangguk kan kepalanya. Lalu mereka berdua pun bergantian memeluk Ixora.
“Buku apa itu Pa?” tanya Alexandria sambil berjalan di samping Vadeo.
“Gambar gambar tentang istana. Jaman dulu tidak ada kamera jadi ada pelukis istana yang mendokumentasikan.” Jawab Vadeo.
“Wow.. “ gumam Alexandria kagum meskipun belum melihat isi di dalam buku itu. Hati Alexandria bahagia karena suami dan anak anak nya sudah pulang dengan selamat.
Mereka semua kini sudah masuk ke dalam rumah. Vadeo mengunci pintu rapat rapat. Tampak dua pengasuh Valexa dan Deondria sudah membawa dua Nona Kecil itu dibawa ke kamar mereka untuk dimandikan. Kedua bocah itu pun tampak nurut dan tidak membuat kehebohan.
__ADS_1
“Pa, mandi dulu nanti aku akan beri kabar bahagia.” Ucap Alexandria yang masih berjalan di samping Vadeo. Vadeo tampak mengernyitkan dahinya.
“Kabar bahagia apa? Apa alarm bahaya sudah berhenti hmmm?” tanya Vadeo sambil menoleh dan memeluk pundak Sang istri. Alexandria hanya diam saja dan ada gurat sedih di ekspresi wajah nya saat mendengar kata alarm bahaya.
“Jangan sedih, semua akan baik baik saja.. apa kamu masak yang enak enak buat kami? Aku dan anak anak sudah makan kenyang tapi nanti aku akan makan masakanmu setelah mandi.” Ucap Vadeo sambil terus memeluk pundak Sang istri dan selanjutnya mereka berdua menaiki anak tangga menuju ke lantai dua untuk menuju ke kamar mereka berdua.
Sementara itu di kamar Valexa dan Deondria yang berada di sebelah kamar orang tuanya. Mereka berdua sedang dimandikan oleh Sang pengasuh mereka. Valexa dan Deondria minta mandi keramas, dibersihkan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan bersih sempurna. Setelah selesai mandi, rambut dan tubuh mereka sudah kering dan sudah memakai baju bersih. Mereka berdua menyuruh dua pengasuhnya itu untuk pergi meninggalkan kamar mereka berdua.
“Nanny teyual dayi tamal yan danan dandu.. (Nanny keluar dari kamar dan jangan ganggu).” Ucap Valexa dan Deondria pads masing masing pengasuh nya.
“Nona tidak makan malam?” tanya pengasuh itu.
“Cudah (Sudah).” Jawab mereka berdua dengan singkat sambil menatap tajam pengasuh itu. Tidak ingin mendapat marah dan teriakan. Dua pengasuh itu langsung melangkah pergi meninggalkan kamar Valexa dan Deondria. Dua pengasuh itu mengira Nona Nona kecil nya kecapekan dan tidak mau diganggu.
Sementara itu di kamar Vadeo dan Alexandria. Vadeo sudah masuk ke kamar mandi dia belum melihat test pack di atas meja, karena test pack sudah disimpan oleh Alexandria. Beberapa menit kemudian Vadeo sudah keluar dari kamar mandi, tampak tubuh atletis nya dan wajah tampan segar setelah habis mandi keramas. Rambut hitam legamnya yang dengan potongan rapi tampak masih setengah basah.
“Sayang ayo katakan ada kabar bahagia apa, aku sebenarnya ingin mandi berdua sama kamu. Tapi waktu sedang tidak memungkinkan karena pasti Bang Bule Vincent akan segera menghubungi aku untuk memantau keadaan pulau.” Ucap Vadeo yang masih memakai bath robe berjalan menuju ke sofa mendekati Isterinya yang duduk di sofa sambil membuka buka buku besar yang tadi dibawa oleh Vadeo. Alexandria tampak serius dan kagum melihat lembar demi lembar buku tua itu.
__ADS_1