Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Semakin tertarik


__ADS_3

Sam mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam Cafe ketika dia melihat Ayu dari pantulan cermin.


Awalnya dia berniat menyapa, namun kedatangan Bimo membuat Sam mengurungkan niatnya.


Pak Ridwan harus tahu bagaimana kelakuan Pak Bimo sebenarnya..


Sudah sejak lama Sam ingin menyingkirkan Bimo. Dia merasa jika Bimo lelaki paruh baya yang memiliki perangai buruk. Beberapa kali Sam melihat Bimo menarik uang parkir yang seharusnya di gratiskan.


Kecurangan itu terjadi berulang kali. Sam menganggap jika kejujuran sangat di butuhkan pada setiap perkerjaan. Itu kenapa dia sedikit risih melihat perbuatan Bimo yang terang-terangan meminta uang parkir terutama pada pengunjung bermobil.


Tepat di saat Farel melontarkan ancaman. Sam keluar dari persembunyiannya dengan langkah tenang. Dia melihat sebentar ke arah motor Ayu yang masih tergeletak.


"Aku melihat jika Pak Bimo memang sengaja menjatuhkan motor miliknya." Menunjuk ke arah Ayu.


Ada perasaan aneh ketika itu terjadi. Sam merasa hatinya sedikit bergetar saat dia melontarkan pembelaan untuk Ayu.


Dia sangat cantik saat mengatakan jika dia lebih memilih Suaminya menjadi staf biasa daripada seorang direktur.


Sungguh di luar dugaan jika ucapan tersebut mampu mempengaruhi otak Sam. Sejak pertemuannya tadi siang, nama Ayu cukup menggelitik hatinya. Dia merasa penasaran dengan sosok Ayu dan ingin sekali mengenalnya lebih jauh.


"Mas Sam nih. Dari tadi membela wanita ini terus."


"Bukan membela Pak." Farel tersenyum tipis seraya melirik malas ke arah Samuel, lelaki yang di anggap saingannya.


"Tentu saja dia membelanya. Apa wanita seperti ini yang menjadi tipe mu?" Menunjuk ke arah Ayu.


Bukan tanpa alasan Farel melontarkan kata-kata tersebut. Sekalipun dia tidak pernah melihat Sam menatap seorang wanita begitu dalam seperti apa yang di lakukannya terhadap Ayu.


Karena rasa ingin menyingkirkan Sam begitu menggebu. Membuat Farel tidak sadar sedang menjadi seorang penguntit sehingga dia hafal dengan mimik wajah Sam.


"Kau sedang bicara apa Farel. Apa masih belum cukup luka pada wajahmu itu. Aku sedang menunjukkan kebenaran."


"Mana buktinya Mas. CCTV yang mengarah ke sini bahkan belum di perbaiki."


"Bapak sengaja merusaknya dan mungkin sengaja untuk tidak memperbaikinya. Itu karena Bapak tidak ingin keburukan Bapak terlihat dan di ketahui Pak Ridwan." Bimo melebarkan matanya. Ucapan Sam seperti sebuah ancaman.


"Halah Mas jangan berbelit-belit. Tunjukkan buktinya dulu." Jawabnya menantang.

__ADS_1


Sam merogoh ponselnya lalu memutar video yang baru saja di ambil. Dengan jelas terlihat jika Bimo menendang motor Ayu hingga ambruk.


Ayu yang juga ingin melihat, langsung mendekat sehingga getaran aneh yang terjadi pada hati Sam semakin terasa.


Mungkin aku hanya menyukai pemikirannya. Dia sesuai dengan kriteria yang ku cari.


Wajah Bimo berubah pucat. Rekaman video tersebut begitu jelas.


"Saya terbawa emosi Mas." Ucapnya pelan dengan wajah tertunduk.


"Terbawa emosi atau tidak. Bapak harus bertanggung jawab kalau tidak ingin video ini saya kirimkan pada Pak Ridwan berserta video lainnya." Bimo menegakkan pandangannya dan menatap Sam penuh tanya.


"Video lainnya apa Mas."


"Pak Bimo sering memungut biaya parkir pada pengunjung Cafe. Walaupun itu hanya lima ribu perak, tapi bukankah itu termasuk pungutan liar. Bagaimana jika Pak Ridwan mengetahuinya?" Bimo menelan salivanya kasar, dia melirik ke arah Farel yang tengah menatapnya tajam.


Awas saja kalau tua bangka itu menyebut namaku!!


"Maafkan saya Mas Sam. Saya akan bertanggung jawab dan tidak akan melakukan kesalahan itu lagi." Pinta Bimo merengek. Dia tidak ingin kehilangan perkerjaan hingga harus membuatnya di usir oleh Istri mudanya.


"Ini untuk biaya ganti rugi Non. Saya minta maaf atas sikap saya tadi." Ayu tidak langsung menerima uang tersebut dan malah merasa iba pada Bimo dengan pakaian lusuhnya.


"Uang Bapak banyak sekali?" Ayu sengaja melontarkan pertanyaan tersebut. Dia ingin tahu perihal uang yang akan di serahkan padanya.


"Ini uang untuk biaya sekolah anak saya. Tapi ya sudah Non ambil saja untuk ganti rugi." Sam menghela nafas panjang. Dia sudah bisa membaca situasi dan menebak soal apa yang akan di katakan Ayu selanjutnya.


"Bapak masih punya anak sekolah."


"Iya Non. Bapak nikah lagi karena Istri pertama Bapak meninggal jadi punya anak yang akan masuk sekolah taman kanak-kanak."


"Oh." Dia lebih membutuhkan daripada aku.


"Ini Non." Bimo kembali menyodorkan uangnya.


"Lain kali jangan di ulangi Pak. Saya minta maaf atas sikap kasar saya tadi. Uangnya Bapak simpan saja." Mita menghembuskan nafas berat. Dia mengenal sifat Ayu yang krispi di luar namun lembut di dalam.


Meskipun Ayu bisa menunjukkan sikap keras dan tegas. Namun ketika dia merasa iba, hatinya berubah menjadi selembut salju.

__ADS_1


"Serius Non."


"Ya serius. Ayo Mit, bantu aku mendorong motor ke bengkel terdekat." Pinta Ayu mendongak ke arah Sam." Terimakasih Mas sudah membantu." Imbuhnya memperlihatkan sebuah senyuman yang sanggup membutakan mata hati Sam.


"Aku hanya mencoba menegakkan kebenaran. Biar ku bantu mencari bengkel terdekat."


"Tidak Mas. Aku bisa."


"Halah tidak apa. Mas Sam baik kok." Sahut Mita menimpali." Motor mu sangat berat Ay." Imbuhnya mencubit sedikit paha berlemak Ayu.


"Mana kuncinya." Sam merentangkan telapak tangannya. Dengan sedikit ragu-ragu Ayu menyerahkan kunci.


"Maaf merepotkan Mas."


"Hehe tidak apa." Sam menahan perasaan gugupnya lalu berjalan ke motor di ikuti oleh Ayu dan Mita. Kenapa aku ini?


Setelah memastikan Sam pergi, Farel menyeret Bimo menunju ke pos penjagaan seakan dia tidak ingin pembicaraannya di dengar siapapun.


"Kau bodoh ya!!" Ucap Farel berbisik." Sudah ku katakan untuk waspada pada Sam! Kalau sudah ketahuan bagaimana? Awas saja jika kau menyebut namaku!!" Fakta sesungguhnya terkuak. Farel adalah otak di balik pungutan liar tersebut.


Farel melakukan itu hanya demi uang tambahan agar dia bisa membelikan barang-barang branded untuk kekasih tercintanya.


"Saya juga tidak sadar Mas Farel. Maafkan saya."


"Gara-gara kamu, aku tidak bisa mencari penghasilan tambahan! Untuk sementara kau jangan melakukan sesuatu yang mencurigakan!"


Seharusnya Farel tidak semarah ini mengingat dirinya sudah di selamatkan Bimo dengan tidak menyebutkan namanya. Namun karena Farel begitu egois dan ingin menang sendiri. Sehingga dia menyalahkan semuanya pada Bimo.


"Iya Mas. Saya akan lebih berhati-hati." Farel menarik pergelangan tangan Bimo lalu dengan tega menggambil uang yang ada di genggaman Bimo." Loh Mas. Ke kenapa di ambil." Tanya Bimo terbata, menatap uang miliknya di masukkan ke kantung celana Farel.


"Karena kau penghasilan ku menurun. Anggap ini sebagai hukuman agar lain kali kau tidak teledor!!"


Bimo tidak mampu berkata-kata. Bibirnya terbuka seakan ingin meneriaki Farel tapi tertahan di kerongkongan. Dia sangat takut kehilangan perkerjaan sehingga Bimo mencoba mengiklaskan uang yang di kumpulkan dari berminggu-minggu yang lalu.


"Bisa gawat ini! Kalau Istri ku tahu aku pulang tidak bawa uang, dia akan menyuruhku tidur di luar. Ah.. Tidak dapat jatah dong." Gerutunya duduk lemah seraya menatap kepergian Farel.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2