
Dika memutuskan pulang setelah menelfon perusahaan untuk meminta izin tidak berkerja. Kejadian pagi ini membuat hatinya risau mengingat jika sebenarnya dia tidak menginginkan kata perpisahan ada. Dika hanya sekedar menggertak, namun naffsu membuatnya melupakan niat awal.
Dia harus terjerat dengan kegilaan Tania yang mulai menular padanya. Seharusnya dia melepaskan Ayu tanpa perlawanan. Tapi hati yang masih terpaut membuatnya tidak merelakan Ayu pergi begitu saja.
Setibanya di rumah. Dika di kejutkan dengan Tania yang sudah duduk di ruang tamu. Senyum Bu Erna mengembang ketika melihat Tania yang begitu cantik dengan balutan rok ketat. Sementara Dika malah mendengus padahal semalam dia menikmati percintaannya. Keduanya bahkan melakukannya terus menerus hingga menjelang dini hari.
"Siapa ini Dik." Tanya Bu Erna menghampiri Tania yang berdiri menyambut kedatangannya.
"Dia.."
"Saya Tania Tan. Sekertaris Dika."
"Oh." Pantas saja Dika tergoda. Sekertarisnya cantik dan seksi.
"Aku sudah mengabari mu."
"Hm aku tahu."
"Lantas, kenapa ke sini? Bukankah seharusnya kau di kantor." Tania menarik nafas panjang. Hatinya terluka ketika Dika menjawab pertanyaannya dengan ketus.
"Aku ikut membolos."
"Untuk apa?!" Bu Erna menatap Dika tajam.
"Jangan libatkan dia dalam masalahmu." Tania tersungging ketika dia mendapatkan pembelaan dari Bu Erna. Hal itu membuatnya memikirkan cara agar Bu Erna bisa merestui hubungan.
"Seharusnya dia di kantor agar mereka tidak curiga."
"Kamu tenang saja. Selama kamu bersama ku. Tidak akan terjadi sesuatu."
"Kamu jangan meringankan masalah ini Tania. Kalau sampai jabatanku turun karena hubungan ini, aku tidak akan menghubungi mu lagi!!"
Tania tersenyum simpul lalu menepuk pundak Dika lembut. Dia menyadarkan kepalanya tanpa perduli dengan keberadaan Bu Erna.
"Lain kali main ke rumahku agar kamu tahu kenyataannya." Jawab Tania lirih.
"Apa maksudmu?" Dika menggeser tubuhnya sehingga kepala Tania terpaksa di tegakkan.
"Pak Wira itu Ayahku." Dika melebarkan matanya, menatap Tania tidak percaya.
"Kau bercanda."
"Tidak." Tania mengambil ponselnya lalu menunjukkan sebuah potret yang memperlihatkan kedekatan keduanya.
"Jadi Pak Wira Ayahmu." Tanya Dika dengan senyum mengembang. Entah kenapa dia begitu bahagia mengetahui fakta tersebut. Jadi, itu perusahaan milik Tania.
"Hm ya. Aku sengaja menjadi sekertaris untuk mendekati mu."
__ADS_1
Pertemuan Tania dan Dika tidak sengaja terjadi. Kala itu Tania datang ke perusahaan untuk menemui sang Ayah, Direktur utama di perusahaan. Dia melihat Dika untuk pertama kalinya dan langsung jatuh cinta.
Di hari yang sama, Tania meminta Pak Wira agar dirinya di tempatkan sebagai sekertaris. Awalnya Pak Wira menolak sebab dia tidak akan tega. Namun karena beliau sangat menyanyangi Tania, dengan terpaksa Pak Wira mengiyakan keinginan tersebut.
"Siapa Pak Wira itu Dik?" Sahut Bu Erna penasaran.
"Pak Wira itu Direktur utama di perusahaan ku. Dia pemilik perusahaan itu."
Senyum Bu Erna ikut mengembang. Tentu saja dia merasa senang mendengar kenyataan jika keluarga Tania adalah pemilik perusahaan tersebut.
Wah wah. Kalau Dika sama Tania. Bisa terhormat hidupku.
"Jadi Tania anak atasan mu."
"Ah jangan berkata itu Tan. Saya tidak pernah melihat sesuatu dari segi kedudukan. Asalkan Mas Dika mau menceraikan Istrinya, saya akan menjamin kalau kedudukan Mas Dika tidak akan bergeser."
Senyum mengembang Dika seketika terhenti. Ayu dan perkerjaan di rasa sama-sama penting sehingga keinginan Tania menambah kerisauan di hatinya.
"Tenang saja. Setelah ini mereka akan bercerai." Dika menoleh seraya menddesah lembut.
"Itu belum pasti."
"Kalian itu sudah sama-sama tidak cocok."
"Aku tidak mau Ma." Tania tersenyum ganjil lalu meraih tas kecil miliknya.
"Kamu mengancam lagi?"
"Kita sudah berhubungan sangat jauh. Kau bahkan menikmati itu dan memujiku ketika kita bersentuhan. Apalagi yang ku harapkan selain pernikahan?"
"Kita hanya bersenang-senang."
"Not Baby! Itu tidak benar. Aku benar-benar mencintaimu!" Bu Erna hanya mampu melihat tanpa berani ikut campur. Sementara Bibik yang mendengar obrolan dari dapur, merasa kasihan pada Ayu.
"Aku tidak. Kita melakukan atas dasar suka sama suka."
"Oke. Fikirkan ucapanmu atau kau akan ku buat menyesal karena sudah mempermainkan ku."
Tania pergi begitu saja tanpa berpamitan. Kegilaan yang terjadi semalam membuat perasaan ingin memiliki semakin menggebu. Tania menginginkan Dika hanya untuknya. Dia tidak ingin Dika berdekatan dengan wanita manapun termasuk Ayunda Istrinya.
"Benar-benar gila wanita itu!!!" Umpat Dika duduk lemah di sofa.
"Kau yang gila karena sudah menolak wanita sempurna seperti dia."
"Mama tidak mengerti bagaimana perasaan ku. Aku tidak ingin bercerai dari Ayu."
"Jabatanmu akan terancam. Apa kau ingin kembali ke titik awal?!" Dika tertunduk seraya mencengkram erat kepalanya.
__ADS_1
"Aku berhubungan karena hasrat sesaat. Sementara perasaanku pada Ayu tidak main-main."
"Kau sudah menyentuhnya. Wajar jika dia ingin kau menikahi nya."
"Agh!!! Ini membuatku pusing! Aku menyesal sudah memulai ini!!"
Bu Erna mendengus seraya melirik malas. Punggungnya bersandar di sofa seraya memikirkan cara untuk memecahkan permasalahan Dika.
"Fikirkan lagi! Jangan bodoh hanya karena cinta!" Dika menoleh cepat.
"Apa maksud Mama."
"Bukankah hubungan mu sudah berantakan." Jawab Bu Erna merajuk. Dia berusaha membodohi Dika agar keinginannya untuk mendapatkan menantu idaman terwujud.
"Bagaimana sih Ma? Katakan dengan jelas."
"Ceraikan Ayu dan menikah lah dengan dia. Daripada kau harus kembali ke titik awal. Ingat ya Dik. Wanita cantik itu banyak tapi kesempatan untuk mendapatkan wanita seperti dia itu sedikit. Mama yakin kamu bisa melupakan Ayu dan mencintai dia." Dika tidak bergeming. Kesetiaannya kembali goyah." Itu sih terserah kamu. Kalau kamu milih Ayu, siap-siap saja hidupmu susah dan kekurangan seperti dulu." Bu Erna berdiri seraya menatap wajah Dika yang kebingungan." Mama pulang. Pertimbangkan ucapan Mama. Kita tidak akan bisa hidup enak jika mengandalkan cinta." Bu Erna meninggalkan Dika setelah mengutarakan penyelesaian yang menurut Dika memuakkan.
Seperti halnya Dika, Ayu sendiri tengah berada di titik kebimbangan. Meskipun dia sudah menantang Dika untuk menceraikannya, namun dia masih berharap kalau Dika tidak melakukan itu dan bisa kembali seperti dulu.
Apa hubungan ini benar-benar akan hancur?
Ayu meletakkan nampan lalu menyajikan pesanan. Walaupun hatinya tengah tidak baik, sebisa mungkin dia menunjukkan senyuman untuk menunjukkan keramahan pada pelanggan.
"Apa yang membuatmu berat?" Ayu menoleh lalu meletakkan nampan pada tempatnya.
"Jangan ikut campur Mas."
"Aku sudah memilihmu."
"Itu keinginan yang mustahil. Walaupun aku bercerai, aku tidak mungkin memulai secepat itu."
"Menikah artinya memulai. Setelah itu, kamu bisa mengenalku dengan baik."
"Tidak! Ish! Berapa kali aku harus menolak?"
"Sebanyak aku memintanya." Samuel tersenyum simpul. Dia tidak keberatan dengan penolakan Ayu." Bersiaplah untuk menerima kenyataan. Aku tidak akan melepaskan mu sebelum kamu menjadi milikku." Ayu manggut-manggut seakan meremehkan perkataan Samuel.
"Hm terserah."
"Oke siap." Samuel mengeluarkan sebuah nasi kotak lalu memberikannya pada Ayu." Makan dulu." Pintanya tersenyum.
"Belum waktunya makan."
"Sebaik-baiknya pasangan adalah yang bisa menerima keburukan kita. Tidak perlu berdiet dan menyiksa tubuhmu. Rumah itu sudah tidak nyaman untuk kamu tinggali. Apa seumur hidup kamu ingin menahan diri seperti ini?" Samuel membuka kotak makan lalu berusaha merajuk Ayu dengan satu suapan.
__ADS_1
🌹🌹🌹