Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Ego masih di atas segalanya


__ADS_3

Di dalam mobil, suasana terasa hening sesaat. Ayu memang sedang tidak ingin bicara karena merasa kesal sementara Dika sendiri malah tengah menimbang tentang sikap yang harus di ambil.


Sambil fokus menyetir, sesekali Dika melirik Ayu dari samping. Terdengar dengusan lembut lolos sebab Dika masih kehilangan selera pada tubuh Ayu yang menurutnya tidak lagi seksi.


Lengannya terlalu besar, dadanya juga terlalu menonjol. Apalagi perutnya!!! Dia akan mempermalukan ku nantinya. Apa kata rekan kerjaku jika mereka melihat Istri seorang direktur yang bentuk tubuhnya sudah tidak ideal..


Mungkin selera Dika tidak seberapa aneh untuk sebagian orang. Tapi bukankah cinta tidak memiliki mata? Lalu kenapa Dika masih melihat Ayu seburuk itu bahkan bersikukuh merubah penampilannya meski hatinya di liputi kekhawatiran setelah pertemuannya dengan Samuel.


"Apa kamu akan berkerja di Cafe itu?" Tanya Dika memulai pembicaraan.


"Hm ya."


"Tidak ada perkerjaan lain? Seperti sekertaris atau perkerjaan bergensi lainnya."


"Teman-teman mu tidak akan mengenaliku. Aku sudah berubah banyak dan kau tidak lagi pernah mengajakku jika ada pertemuan di perusahaan." Dika terdiam. Sejak bentuk tubuh Ayu berubah, dia kerapkali mengajak Tania untuk menemaninya daripada harus menanggung malu dengan penampilan Ayu.


"Jangan sok tahu." Jawab Dika mengelak. Dia menganggap jika Ayu hanya sekedar menebak.


"Kamu lupa jika ada beberapa kontak temanmu yang tersimpan di ponselku. Aku melihat status mereka dan melihatmu berbahagia bersama wanita itu."


Awalnya, Ayu tidak ingin berburuk sangka. Namun setelah percekcokan yang terjadi semalam membuat dirinya yakin jika pertemuan yang di hadiri Dika bersama Tania, bukanlah pertemuan resmi dari perusahaan.


"Itu hanya pertemuan antar pegawai, semacam rapat."


"Oh. Berarti seragam pegawai wanita sudah berganti menjadi gaun seksi?" Dika menghentikan laju mobilnya lalu memutar tubuhnya menatap tajam ke arah Ayu.


"Itu karena kau sendiri!!" Tunjuknya kasar." Apa kata mereka saat melihat tubuhmu yang sudah tidak lagi bagus! Aku seorang direktur hei Ayu! Seharusnya kau menjaga pola makan mu agar aku tidak malu memperkenalkan mu pada mereka!!" Ayu mengangguk dengan posisi duduk tegak.


Aku sudah menjaganya. Aku makan satu hari dalam sehari. Apa itu belum cukup? Apa aku harus memenuhi lambungku dengan air saja!!


Dadanya mendadak sesak meski air mata tidak terlihat keluar dari sudut pipinya. Tentu saja Ayu tidak ingin memperlihatkan rasa lemahnya yang mungkin akan membuat Dika menginjak-injak harga dirinya.


"Bukankah kamu tahu semua berawal dari mana. Tubuhku berubah setelah keguguran itu."


Dika tidak menyadari, jika ucapannya sekarang semakin menambah rasa terpuruk pada psikologi Ayu yang sangat menginginkan hadirnya seorang buah hati. Semestinya Dika satu-satunya lelaki yang bisa menghiburnya agar dia segera melupakan kejadian tersebut. Tapi yang di lakukan Dika malah berbanding terbalik dan membuat Ayu terus di hantui rasa bersalah.


"Aku sudah meminta mu untuk berhati-hati. Aku belum siap memiliki anak dan lihatlah. Tuhan mengambil anak itu karena dia tahu aku tidak menginginkannya."

__ADS_1


"Aku baru mendengar jika Tuhan memihak sesuatu yang salah."


"Kau yang tidak menuruti kata Suami mu!!"


"Hm ya aku. Apa itu alasan kenapa kamu tidak pernah menyentuhku?"


"Aku tidak berselera."


Tapi kau begitu bersemangat semalam. Kau menddesah bersama wanita lain tanpa memikirkan bagaimana perasaan ku yang mendengar itu. Di tambah dengan noda lipstik?


"Aku akan berusaha mengembalikan seleramu." Jawab Ayu asal. Dia tidak tahu harus berkata apalagi.


"Itu bagus. Kau memang seharusnya melakukan itu tapi.."


"Tapi apa?" Tanya Ayu tanpa menoleh.


"Kau masih Istri ku."


"Ya. Aku sadar diri Mas. Tapi jangan mencegah jika ada seseorang yang mendekatiku." Sambil mengatakannya, Ayu memanjatkan doa di dalam hati, agar Dika sadar akan kesalahannya.


"Tidak mungkin dengan tubuhmu sekarang." Bagaimana jika lelaki tadi menyukainya? Ah tidak! Ayu tidak mungkin memilih pegawai Cafe itu!!!


"Aku hanya tidak ingin kau mempermalukan ku! Kalau lelaki tadi seorang pengusaha besar. Mungkin aku tidak akan marah seperti tadi."


"Oh begitu. Semoga Tuhan mengabulkan keinginan mu. Seorang pengusaha sukses akan datang padaku lalu menyatakan cinta agar kau tidak merasa di permalukan." Dika terkekeh begitupun Ayu yang tengah tersenyum simpul meski hatinya terasa tercabik.


Tidak akan ada seorang pengusaha yang mau dengan wanita bekas dan tidak berbentuk seperti dirinya!!


"Kalaupun ada. Dia adalah pengusaha yang bodoh!!" Ayu tidak menjawab, dia hanya mengangguk seraya menatap keluar kaca mobil.


Tiba-tiba saja turun hujan seakan mengiyakan perkataan yang di lontarkan pada dua insan yang dulunya berjanji sehidup semati.


Kata asal-asalan yang di lontarkan Ayu sudah terjadi. Samuel memiliki banyak perusahaan besar yang tersebar di dunia. Salah satu perusahaan itu adalah, PT. SSM, perusahaan di mana Dika bekerja.


Banyaknya perusahaan membuat Samuel menyuruh kali tangannya untuk menempatkan beberapa orang kepercayaan. Mereka sudah tersebar dan menjadi Direktur utama sementara jabatan yang di sandang Dika adalah Direktur pemasaran.


Dika menganggap jika perusahaan tersebut milik Direktur utama yang sebenarnya hanya orang suruhan kaki tangan Samuel. Dia tidak sadar jika lelaki yang di anggap sebagai pegawai rendahan adalah pemilik sebenarnya perusahaan tersebut.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu pulang Mit." Pinta Sam pelan.


"Motornya Mas."


"Biar aku yang menunggunya. Setelah ini aku langsung ke Cafe untuk membereskannya beberapa barang. Bukankah rumahmu cukup jauh dari sini." Mita tersenyum seraya mengangguk, matanya melihat ke arah montir yang belum juga selesai memperbaiki.


"Iya sih Mas. Em nanti biar di bayar Dika saja. Tadi dia sudah memberikan kartu nama kan."


"Hehe beres. Kamu kan tahu aku banyak hutang. Aku juga tidak punya uang untuk membayar." Si montir tersenyum simpul. Dia terkesan dengan kerendahan hati Samuel.


"Tapi aku tidak bermaksud mengejek Mas. Aku cuma takut kalau Mas Sam malah ikut susah nantinya. Em kalau ada apa-apa hubungi nomerku ya Mas." Jawab Mita seraya memesan ojek online.


"Iya oke."


Sepuluh menit kemudian, Mita pulang dengan ojek pesanannya. Sam beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri montir yang langsung berdiri menyambut.


"Uangnya saya kembalikan saja Mas. Tadi sudah ada Suaminya."


"Tidak perlu. Tetap lakukan apa yang aku minta tadi."


"Ini juga terlalu banyak Mas. Saya perkirakan habis 600 ribu bersama ongkosnya." Si montir menyisihkan uang. Dia berharap Sam menerima uang pengembalian darinya.


"Itu bonus untuk mu." Perlahan, si montir menarik lagi tangannya.


"Saya dengar, Mas punya hutang."


"Hm ya. Satu milyar. Uang satu juta tidak akan berpengaruh." Si montir tersenyum aneh, dia menganggap jika ucapan Samuel adalah lelucon.


"Mas bisa saja."


"Antar motornya ke alamat yang sesuai. Ada beberapa perkerjaan."


"Iya Mas beres. Saya antarkan sesuai alamat."


"Hm terimakasih." Sam tersenyum sejenak lalu pergi untuk kembali ke Cafe.


"Sama-sama. Benar-benar baik hati Mas itu." Gumamnya kembali duduk berjongkok dan melanjutkan perkerjaannya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2