
Tidak seperti biasanya, pagi ini Mita bangun dengan semangat. Niat buruk yang melintas semalam membuatnya begitu tidak sabar menunggu kedatangan Alan yang berjanji akan menjemputnya. Mita ingin segera cantik agar bisa mengalahkan Ayu yang di nilai selalu menjadi bayang-bayang untuk hidupnya.
"Aku hanya bisa mengantarkan saja. Pulangnya kamu naik taksi." Pinta Alan sebelum melajukan mobilnya.
"Ya Mas."
"Kamu benar-benar tidak tahu lokasi rumah Ayu sekarang?" Mita menoleh sejenak kemudian terdiam untuk memikirkan jawaban yang tepat.
Kalau hubungan mereka hancur lebih awal. Itu akan memudahkan.
"Sebenarnya aku tahu tapi aku sudah berjanji untuk tidak memberitahu pada siapapun." Jawabnya pelan. Dia tidak lagi memperdulikan Alan yang di nilai sangat kasar padanya.
"Di mana letaknya?"
"Untuk apa Mas?"
"Meminta maaf." Jawab Alan beralasan.
Aku yakin itu hanya alasannya saja.
"Beri satu alasan agar nantinya Ayu tidak menyalahkan ku. Aku sudah berjanji untuk tidak mengatakannya pada siapapun." Alan tersungging seakan merasa senang sebab Mita punya niat untuk bicara jujur tentang letak rumah Ayu.
"Aku berjanji tidak akan membawa nama mu. Untuk alasannya, akan ku fikirkan."
"Hm." Mita mengambil buku note dan bulpen dari tasnya. Dia menuliskan alamat lengkap kediaman Samuel dengan harapan hubungan keduanya hancur karena kehadiran Alan. Maaf Ayu. Seharusnya yang ada di posisimu adalah aku.
🌹🌹🌹
Samuel cepat-cepat bangun ketika mendapati Ayu menghilang dari sisinya. Langkahnya terayun ke kamar mandi tapi ternyata Ayu tidak berada di sana.
Memang seharusnya dia ku kurung saja..
Samuel berjalan keluar lalu berjalan menuruni tangga dan melupakan lift barunya. Dia mendapati wajah panik Bik Ijah yang tengah berdiri seakan tengah menunggunya.
"Maaf Tuan." Ucapnya pelan.
"Ada apa Bik?"
"Saya sudah menyuruh Nona Ayu berhenti tapi dia tetap ingin mencuci sprei dan selimut itu sendiri." Sontak Samuel menoleh ke belakang dan terlihat Ayu tengah menjemur selimut tebal yang semalam kotor.
Tanpa perduli pada penjelasan Bik Ijah. Samuel berlari kecil menuju belakang dan langsung menyingkirkan tangan Ayu yang hendak mengambil selimut tebal setengah basah.
"Ini berat Babe. Astaga.. Kenapa melakukannya sendiri." Protes Samuel tentu merasa sedikit kesal apalagi wajah Ayu terlihat lelah dan pucat.
"Itu kotoran ku sendiri. Tidak pantas harus menyuruh Bibik mencucinya." Jawab Ayu menghela nafas panjang. Meski sudah di keringkan tapi selimut tebal itu masih terasa berat baginya.
Ada niat untuk meminta tolong pada Bik Ijah juga si penjaga rumah. Tapi karena keduanya tidak lagi muda sehingga membuat Ayu memilih untuk mengerjakan semuanya sendiri.
"Bangunkan aku kalau memang kamu membutuhkan bantuan." Ayu tidak bergeming. Dia berdiri mematung sebab tubuhnya terasa melemah karena derasnya darah yang keluar di hari pertama datang bulan.
Sementara Samuel menghela nafas panjang agar nada bicaranya bisa sedikit di turunkan. Dia paham jika perasaan Ayu mungkin akan lebih sensitif daripada biasanya.
"Aku hanya kesal melihat wajahmu pucat." Gumam Samuel seraya mengangkat tubuh Ayu lalu berjalan di area yang tidak terpapar sinar matahari.
"Hanya tinggal di jemur lalu selesai Bee."
"Aku akan menambahkan peraturan." Imbuhnya mendudukkan Ayu di sebuah kursi kayu.
"Peraturan apa?"
"Di larang lelah oke. Apalagi sampai mengerjakan perkerjaan berat seperti tadi." Menunjuk ke keranjang sprei.
"Mungkin karena stamina ku sedang tidak bagus. Biasanya aku.."
"Di larang berprotes kalau aku mengatakan soal peraturan. Sebentar ku ambilkan minum." Ayu mengangguk patuh. Menatap kepergian Samuel dengan tarikan nafas panjang.
Ya Tuhan. Rasanya lemas sekali.
"Minum dulu." Ayu mengambil gelas berisi sirup dingin dari tangan Samuel.
"Itu hampir selesai Bee."
"Selimut?"
"Iya."
__ADS_1
"Biar Bibik yang lakukan."
"Biar aku." Samuel menahan pundak Ayu yang akan berdiri.
"Lupa pada peraturan ku?"
"Tidak lupa tapi itu tanggung jawabku."
"Ada pembantu. Apa kamu tidak dengar."
"Biar ku selesaikan."
"Tetap duduk. Akan ku lakukan." Ayu tersenyum lalu meraih jemari Samuel dan mencium punggung tangannya.
"Terimakasih ya Bee."
"Hahaha kamu tidak keberatan jika aku yang melakukan itu?" Kekeh Samuel tidak tertahankan ketika melihat perubahan mimik wajah Ayu.
"Bukankah kamu Suamiku?"
"Ya kamu benar." Mengemaskan sekali. Samuel menunduk lalu mengecup kening Ayu sejenak." Tunggu di sini." Pintanya bergegas menuju ke keranjang pakaian untuk meneruskan perkerjaan menjemur selimut.
Setelah selesai, Samuel berjalan menghampiri Ayu dan kembali mengangkat tubuhnya tanpa aba-aba.
"Kita lakukan jika sedang di kamar saja." Protes Ayu lirih.
"Melakukan apa?"
"Turunkan aku Bee. Tidak enak di lihat Bibik."
"Buat agar semuanya terasa enak." Padahal sudah kelihatan pucat tapi masih saja berprotes.
"Mana bisa Bee."
"Anggap dunia ini milik kita."
"Nyatanya kita tidak tinggal berdua."
"Aku akan memecat pembantu itu kalau memang kamu ingin kita tinggal berdua." Kedua bola mata Ayu sontak membulat.
"Jangan Bee."
"Ya aku akan diam."
"Kamu masih berbicara."
"Tapi tidak berprotes." Samuel tersenyum dan mendudukkan Ayu di salah satu kursi makan.
Sudah tersedia hidangan sarapan tapi raut wajah Ayu menandakan jika dirinya tidak berselera.
"Why?" Tanya Samuel masih berdiri di sampingnya.
"Aku hanya sedang tidak berselera makan. Perutku sangat tidak nyaman." Lebih tepatnya terlalu banyak darah yang keluar sampai-sampai aku merasa mual.
Samuel menggeser kursi lalu duduk tepat di samping Ayu. Dia mengedarkan pandangannya ke arah meja makan dan melihat menu yang terlihat mengunggah selera. Berbumbu dan pedas, menyesuaikan selera Ayu.
"Ingin makan apa?"
"Sedikit istirahat saja. Nanti kalau sudah lebih baik akan ku makan."
"Lalu? Kenapa kamu mencuci."
"Kamu sudah tahu alasannya." Jawab Ayu membalas sorot mata Samuel yang seakan ingin mencari-cari jawaban.
Keduanya saling menatap sesaat sebelum akhirnya Samuel menghembuskan nafas berat seraya mengangkat tangannya dan mengusap lembut puncak kepala Ayu.
"Setidaknya makan sedikit saja Babe." Rajuknya berusaha menepis rasa ingin tahu tentang apa yang sedang Ayu inginkan. Apa dia tidak berselera dengan makanan berbumbu?
"Kamu makan duluan saja Bee."
"Akan ku suapi kalau memang kamu ingin." Ayu menahan tangan Samuel yang akan membalikkan piring.
"Tidak. Aku benar-benar sedang tidak ingin makan. Bukan karena ingin di suapi atau semacamnya."
"Baik. Aku juga tidak akan makan."
__ADS_1
"Maaf Non. Mungkin mau Bibik buatkan menu lain?" Sahut Bik Ijah merasa tidak enak ketika Ayu enggan mencicipi sajiannya.
Aku sangat bahagia sekali berada di sekeliling orang yang menyanyangi ku. Seperti ketika aku memiliki kedua orang tua.
"Perut saya sedikit mual Bik. Simpan makanannya nanti kalau sudah mendingan akan saya makan."
"Biasanya kalau orang datang bulan itu suka yang pedas-pedas. Itu sudah Bibik pedasin kok Non." Ayu tersenyum. Dia sangat merasa nyaman dengan perhatian Samuel juga Bik Ijah.
"Oke baik. Sedikit nasi dan banyak lauk."
Samuel ikut tersenyum. Dia membalikkan piring Ayu dan meletakkan berbagai macam lauk.
"Ambil semuanya kalau kamu memang tidak ingin makan nasi."
"Bukan ini maksudku Bee." Protes Ayu menghela nafas lembut menatap piring miliknya penuh dengan lauk.
"Sisanya biar ku makan."
"Daripada makan sisa, bukankah lebih baik jangan letakkan di atas piring semuanya." Bik Ijah turut bahagia dan memilih keluar dari ruang makan daripada menganggu.
"Makanan sisa darimu lebih nikmat rasanya. Makan sendiri atau ku suapi?"
"Entahlah Bee. Tapi tanganku rasanya lemas." Samuel terkekeh ketika menyadari Ayu sengaja berkata demikian.
"Hm. Biar ku suapi."
"Terimakasih Bee."
"Sama-sama. Nanti siang kita pergi untuk membeli bakso. Kamu mau?"
Ada beberapa hal yang Samuel pelajari dari kehidupannya bersama mantan Istrinya dulu. Walaupun terkadang kenangan pahit melintas, tapi Samuel sanggup memilah-milah mana yang patut di ingat dan mana yang patut di buang seperti apa yang sedang di tawarkan pada Ayu sekarang.
Dulu mantan Istrinya selalu menginginkan makanan yang segar dan pedas untuk meredam rasa sakit di perut saat datang bulan.
"Kuahnya harus enak."
"Iya pasti. Aku tahu tempatnya."
"Maaf Tuan ada tamu." Tiba-tiba saja si penjaga rumah sudah berdiri di ambang pintu ruang makan.
"Siapa?"
"Katanya temannya Tuan. Dia tidak menyebutkan nama."
"Teman?" Siapa?
Sudah sejak lama Samuel tidak lagi memiliki teman sehingga dia merasa penasaran tentang siapa yang datang.
"Dia di mana sekarang?"
"Saya suruh menunggu di pos penjagaan Tuan."
"Hm setengah jam lagi akan ku temui."
"Baik Tuan." Ayu menguyah makanannya pelan seraya menatap ke arah Samuel.
"Temui dulu Bee. Setengah jam itu lama sekali." Protes Ayu merasa jika sikap Samuel sangat tidak sopan.
"Aku tidak punya teman dan dia tidak mau menyebutkan nama. Kalau memang penting, biar dia menunggu setelah kita selesai sarapan."
"Dia akan pergi."
"Tidak penting."
"Mungkin itu masalah perkerjaan."
"Dimas yang menghandle semuanya. Perkerjaan tidak pernah di bahas di rumah. Mencurigakan bukan."
"Setidaknya temui dulu Bee."
"Not Babe. Makan dulu nanti dingin."
Samuel sudah lebih dulu menaruh curiga dengan kehadiran Alan yang memang sudah menunggu kedatangannya di pos penjagaan.
Wajahnya terlihat kecewa setelah mengetahui fakta soal megahnya rumah yang di miliki Samuel yang mungkin bisa menghambat jalannya untuk mendapatkan Ayu.
__ADS_1
Aku akan menganggu hubungan kalian. Mengganggu hidup kalian sampai akhirnya kau marah pada Ayu sebab aku tidak akan berhenti sampai Ayu berhasil ku dapatkan.
🌹🌹🌹